Dalam metodologi penelitian, perumusan masalah menempati posisi yang sangat penting. Sebuah penelitian tidak dapat berjalan secara terarah tanpa masalah penelitian yang jelas. Irawan Soehartono dalam karyanya Metode Penelitian Sosial menekankan bahwa perumusan masalah bukan hanya sekadar membuat pertanyaan penelitian, melainkan proses analitis yang melibatkan pencarian fenomena, penelusuran literatur, dan penegasan ruang lingkup penelitian. Penekanan ini penting karena banyak peneliti pemula cenderung memulai penelitian tanpa rumusan masalah yang kokoh, sehingga penelitian menjadi kabur dan kurang bermakna secara ilmiah.
Perumusan masalah juga merupakan media yang menghubungkan fenomena sosial dengan metode yang digunakan. Dalam penelitian sosial, fenomena yang tampak di permukaan seringkali memiliki makna mendalam dan kompleks. Oleh sebab itu, proses perumusan masalah tidak bisa dilakukan secara instan. Tahapan yang diuraikan oleh Soehartono membantu peneliti untuk menyusun langkah-langkah sistematis agar masalah penelitian menjadi ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tahapan perumusan masalah menurut Soehartono juga memberi penekanan pada pentingnya pengetahuan teoritik. Sebuah masalah penelitian harus memiliki dasar teoritik untuk menjelaskan mengapa fenomena tersebut patut diteliti. Teori juga membantu peneliti menghindari kesalahan asumsi serta memberikan perangkat berpikir yang lebih luas. Dengan demikian, teori bukan hanya pendukung penelitian, melainkan fondasi bagi pembentukan masalah penelitian.
Artikel ini membahas lima bagian utama yang menggambarkan konsep dan tahapan perumusan masalah menurut Soehartono. Bagian pertama membahas dasar konseptual perumusan masalah, bagian kedua menguraikan tahapan penemuan masalah penelitian, bagian ketiga menjelaskan hubungan teori dan masalah penelitian, bagian keempat membahas penyusunan pertanyaan penelitian, dan bagian terakhir menampilkan penerapannya dalam konteks penelitian sosial kontemporer. Melalui pembahasan ini diharapkan pembaca memahami bagaimana proses perumusan masalah dapat dilakukan secara metodologis dan sistematis.
Baca Juga: Akurasi dalam Validasi Metode Analisis: Menjamin Data yang Tepat dan Andal
Konseptualisasi Perumusan Masalah Menurut Soehartono
Tahap pertama dalam memahami perumusan masalah menurut Irawan Soehartono adalah menguasai konsep dasar mengenai apa yang dimaksud sebagai masalah penelitian. Soehartono menyatakan bahwa masalah penelitian merupakan pertanyaan ilmiah yang muncul dari fenomena sosial dan dapat dijawab melalui metode tertentu. Permasalahan tersebut tidak selalu bersifat praktis, namun dapat berupa pertanyaan teoritik mengenai hubungan antarvariabel atau penjelasan mengenai suatu gejala sosial.
Masalah penelitian berbeda dengan masalah keseharian. Masalah keseharian mungkin penting dalam kehidupan, tetapi tidak selalu relevan untuk penelitian ilmiah. Misalnya, kekhawatiran seseorang mengenai pekerjaan merupakan masalah praktis tetapi bukan otomatis menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian harus memiliki nilai ilmiah, yaitu dapat diuji, dianalisis, dan menghasilkan temuan yang memberi kontribusi pengetahuan.
Soehartono juga menekankan bahwa masalah penelitian tidak selalu lahir dari pengalaman langsung peneliti. Masalah penelitian dapat berasal dari teori, hasil penelitian sebelumnya, perdebatan akademik, atau kebijakan publik. Karena itu, peneliti perlu membaca literatur secara luas agar mampu menemukan celah penelitian. Celah ini sering ditemukan melalui perbedaan temuan, kurangnya data empiris, atau adanya kegagalan teori dalam menjelaskan fenomena tertentu.
Pembatasan masalah menjadi aspek penting dalam konseptualisasi. Tanpa batasan, masalah penelitian dapat melebar dan tidak dapat ditangani secara metodologis. Peneliti harus menetapkan ruang lingkup, kategori sosial, wilayah penelitian, serta variabel yang terkait. Batasan tersebut bukan mempersempit arti penelitian, melainkan memperkuat fokus dan kedalaman analisis.
Proses konseptualisasi kemudian berlanjut ke tahap definisi operasional. Definisi operasional merupakan cara peneliti menjelaskan konsep sosial dalam bentuk indikator yang dapat diamati. Definisi ini sangat penting terutama dalam penelitian kuantitatif, namun juga berguna dalam pendekatan kualitatif sebagai alat untuk memperjelas makna konsep.
Tahapan Penemuan Masalah Penelitian Menurut Soehartono
Tahap berikutnya adalah proses menemukan masalah penelitian. Soehartono mengemukakan bahwa masalah penelitian tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses eksploratif yang melibatkan pengamatan, studi literatur, dan pemikiran teoritik. Penemuan masalah penelitian merupakan jembatan antara fenomena sosial dan dunia akademik.
Proses pengamatan merupakan salah satu sumber utama penemuan masalah. Fenomena sosial penuh dengan dinamika dan konflik, sehingga sering memberi pertanyaan yang dapat dijadikan masalah penelitian. Misalnya fenomena perubahan budaya, mobilitas sosial, atau perkembangan teknologi. Fenomena tersebut dapat memunculkan pertanyaan untuk dijelaskan secara ilmiah.
Studi literatur menjadi sumber penting lainnya. Peneliti dapat menemukan celah atau kekurangan dalam penelitian terdahulu, baik dalam bentuk ketidakkonsistenan temuan, perbedaan sudut pandang teoritik, atau kurangnya penelitian empiris. Celah ini memberi peluang bagi peneliti untuk merumuskan masalah yang memiliki relevansi akademik.
Peran pengetahuan teoritik turut menonjol dalam tahap ini. Teori membantu peneliti mengidentifikasi aspek mana dari fenomena sosial yang menarik untuk diteliti. Teori juga dapat menuntun peneliti untuk membangun pertanyaan ilmiah yang spesifik. Misalnya teori pertukaran sosial dapat digunakan untuk memahami hubungan dalam organisasi atau keluarga.
Tahap penemuan masalah juga mencakup refleksi dan pembandingan. Peneliti perlu membandingkan fenomena yang terjadi di lapangan dengan penjelasan teoritik dalam literatur. Perbandingan ini dapat menghasilkan ketidakcocokan atau kesenjangan teoritik yang kemudian menjadi sumber masalah penelitian.
Hubungan Teori dan Rumusan Masalah
Pada tahap ini, Soehartono menekankan pentingnya teori sebagai instrumen ilmiah dalam membentuk masalah penelitian. Ia mengemukakan bahwa teori bukan hanya digunakan setelah masalah dirumuskan, tetapi juga sebelum dan selama proses perumusan masalah. Hubungan ini dapat dijelaskan melalui tiga aspek berikut:
- teori membantu menyeleksi fenomena yang layak diteliti
Dengan teori, peneliti dapat menilai apakah suatu fenomena memiliki nilai ilmiah. Tidak semua fenomena menarik dari sisi akademik. Teori memberikan kriteria seleksi, seperti keterukuran, relevansi, dan kontribusi pengetahuan. - teori memberi kerangka penjelasan awal
Kerangka ini memungkinkan peneliti memahami faktor, variabel, atau aktor sosial yang terlibat dalam fenomena penelitian. Kerangka awal ini sekali lagi tidak bersifat final, karena dapat berubah selama penelitian berlangsung. - teori memfasilitasi pembentukan hipotesis atau pertanyaan penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, teori dipakai untuk merumuskan hipotesis mengenai hubungan sebab-akibat. Dalam penelitian kualitatif, teori dipakai untuk merancang fokus penelitian dan kategori analisis.
Soehartono juga menjelaskan bahwa hubungan teori dan masalah bersifat dialogis. Teori tidak hanya mempengaruhi penelitian, tetapi penelitian dapat menghasilkan temuan yang memperkuat, mengubah, atau menolak teori. Hubungan ini menunjukkan bahwa penelitian merupakan proses dinamis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Penyusunan Pertanyaan Penelitian dan Operasionalisasi
Setelah masalah ditemukan dan dikaitkan dengan teori, tahap berikutnya adalah penyusunan pertanyaan penelitian. Soehartono mengemukakan bahwa pertanyaan penelitian merupakan bentuk konkret dari masalah penelitian. Pertanyaan penelitian harus jelas, spesifik, dan dapat dijawab melalui metode yang dipilih.
Ciri-ciri pertanyaan penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Pertanyaan harus fokus dan tidak melebar
Pertanyaan yang terlalu luas menyulitkan proses pengumpulan dan analisis data. - Pertanyaan dapat diuji secara empiris
Artinya, pertanyaan harus dapat dijawab melalui data yang dikumpulkan di lapangan atau melalui literatur. - Pertanyaan harus terkait dengan teori
Dengan keterkaitan ini, penelitian memiliki landasan akademik dan ilmiah. - Pertanyaan dapat mengarah pada hipotesis
Pada penelitian kuantitatif, pertanyaan sering mengarah pada penyusunan hipotesis yang dapat diuji statistik. - Pertanyaan memiliki relevansi sosial dan akademik
Relevansi menjadi alasan penelitian dilakukan serta menjelaskan manfaat pengetahuan yang dapat diperoleh.
Setelah pertanyaan penelitian disusun, tahap berikutnya adalah operasionalisasi konsep. Operasionalisasi merupakan proses mengubah konsep sosial menjadi indikator atau variabel yang dapat diamati atau diukur. Tanpa operasionalisasi, pengumpulan data tidak akan berjalan efektif. Operasionalisasi membutuhkan ketelitian konseptual dan keterampilan metodologis.
Penerapan Tahapan Soehartono dalam Penelitian Sosial Modern
Tahapan perumusan masalah yang dikemukakan Soehartono tidak hanya relevan untuk penelitian konvensional tetapi juga dapat diterapkan dalam penelitian sosial modern. Dalam konteks kontemporer, penelitian sosial banyak berhadapan dengan isu seperti digitalisasi, media sosial, perubahan budaya, serta kebijakan publik.
Tahap penemuan masalah kini dapat dilakukan melalui data digital, survei daring, dan analisis tren. Peneliti dapat menemukan fenomena sosial dalam platform digital seperti media sosial, forum publik, atau portal data statistik. Hal ini memperkaya sumber penemuan masalah dibandingkan masa sebelumnya.
Tahap pengaitan teori dengan fenomena juga berkembang, karena kini tersedia banyak teori baru dalam ilmu sosial seperti teori interaksionisme digital, teori jaringan, atau teori konstruksi sosial dalam ruang virtual. Variasi teori membuat proses seleksi dan penjelasan fenomena lebih dinamis.
Tahap operasionalisasi juga mengalami perkembangan. Banyak konsep sosial kini dapat diukur dengan indikator baru seperti aktivitas digital, interaksi daring, atau keterlibatan dalam ruang sosial virtual. Hal ini memberi tantangan baru bagi peneliti untuk membuat definisi operasional yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Observasi dan Skenario Pengujian
Kesimpulan
Tahapan perumusan masalah menurut Irawan Soehartono menekankan bahwa perumusan masalah merupakan proses sistematis, konseptual, dan teoritik. Tahapan tersebut meliputi konseptualisasi masalah, penemuan masalah penelitian, pengaitan teori, penyusunan pertanyaan penelitian, serta operasionalisasi konsep.
Tahapan ini tidak hanya membantu peneliti merumuskan masalah secara ilmiah, tetapi juga memberi arah bagi seluruh tahapan penelitian. Dalam konteks penelitian sosial modern, tahapan tersebut tetap relevan dan dapat diterapkan dalam memahami fenomena sosial yang semakin kompleks.
Dengan memahami tahapan ini, peneliti memiliki kemampuan metodologis yang lebih kuat dan dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Ketahui lebih banyak informasi terbaru dan terlengkap mengenai skripsi dengan mengikuti terus artikel dari tesis.id. Dapatkan juga bimbingan eksklusif untuk skripsi dan tugas akhir bagi Anda yang sedang menghadapi masalah dalam penyusunan skripsi dengan menghubungi Admin tesis.id sekarang juga! Konsultasikan kesulitan Anda dan raih kelulusan studi lebih cepat.
