Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa saat menyusun tesis adalah menemukan research gap. Tidak sedikit mahasiswa yang sudah memiliki topik penelitian, mengumpulkan banyak jurnal, bahkan menyusun kerangka penelitian, tetapi masih kesulitan menjelaskan alasan mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan. Akibatnya, proposal tesis sering mendapatkan revisi karena dianggap belum memiliki urgensi atau kebaruan yang jelas.
Padahal, research gap merupakan salah satu fondasi utama dalam penelitian akademik. Keberadaan research gap membantu menunjukkan bahwa masih ada masalah, pertanyaan, atau fenomena yang belum terjawab oleh penelitian sebelumnya. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan tidak hanya mengulang penelitian terdahulu, tetapi juga memberikan kontribusi baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Kabar baiknya, menemukan research gap bukan berarti Anda harus menemukan topik yang belum pernah diteliti sama sekali. Dalam banyak kasus, research gap justru ditemukan dari penelitian yang sudah ada. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca literatur secara kritis dan menemukan bagian yang masih dapat dikembangkan.
Pengertian Research Gap
Research gap adalah kesenjangan atau celah dalam penelitian yang menunjukkan masih adanya aspek tertentu yang belum diteliti secara memadai atau belum mendapatkan jawaban yang jelas dari penelitian sebelumnya.
Secara sederhana, research gap menjawab pertanyaan berikut:
- Apa yang belum diketahui?
- Apa yang masih menjadi perdebatan?
- Apa yang belum pernah diuji?
- Apa yang masih perlu dikembangkan?
Melalui research gap, peneliti dapat menunjukkan alasan akademik yang kuat mengapa penelitian baru perlu dilakukan.
Baca juga: Tahapan Penyusunan Tesis dari Awal hingga Sidang
Mengapa Research Gap Penting dalam Tesis?
Tesis bukan sekadar tugas akhir untuk memenuhi syarat kelulusan. Tesis juga merupakan karya ilmiah yang diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Karena itu, research gap memiliki peran yang sangat penting. Tanpa adanya research gap, penelitian akan terlihat seperti pengulangan dari penelitian terdahulu.
Beberapa manfaat research gap antara lain:
| Manfaat | Penjelasan |
|---|---|
| Menunjukkan urgensi penelitian | Menjelaskan mengapa penelitian perlu dilakukan |
| Memperkuat latar belakang | Memberikan dasar argumentasi yang kuat |
| Membantu menentukan novelty | Menjadi sumber kebaruan penelitian |
| Memperjelas tujuan penelitian | Membuat fokus penelitian lebih terarah |
| Meningkatkan kualitas akademik | Menunjukkan kontribusi ilmiah penelitian |
Dengan kata lain, semakin jelas research gap yang ditemukan, semakin kuat pula alasan penelitian untuk dilakukan.
Jenis-Jenis Research Gap
Sebelum mencari research gap, penting untuk memahami bahwa kesenjangan penelitian dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Berikut beberapa jenis research gap yang paling umum ditemukan:
| Jenis Gap | Penjelasan |
|---|---|
| Gap Empiris | Hasil penelitian sebelumnya berbeda atau bertentangan |
| Gap Teoretis | Teori yang digunakan masih terbatas atau belum lengkap |
| Gap Metodologis | Metode penelitian sebelumnya memiliki keterbatasan |
| Gap Populasi | Kelompok responden tertentu belum banyak diteliti |
| Gap Kontekstual | Penelitian belum dilakukan pada wilayah atau kondisi tertentu |
| Gap Waktu | Fenomena baru muncul setelah penelitian terdahulu dilakukan |
Memahami berbagai jenis research gap akan memudahkan Anda melihat peluang penelitian dari berbagai sudut pandang.
Langkah-Langkah Menentukan Research Gap
Menemukan research gap membutuhkan proses yang sistematis. Semakin terstruktur proses pencariannya, semakin mudah Anda menemukan celah penelitian yang relevan.
Langkah pertama adalah menentukan topik yang ingin diteliti. Pilih topik yang sesuai dengan bidang keilmuan, minat penelitian, dan kebutuhan akademik Anda.
Topik yang terlalu luas akan menyulitkan pencarian research gap. Sebaliknya, topik yang terlalu sempit dapat membuat referensi penelitian menjadi terbatas.
Karena itu, cobalah memilih topik yang spesifik tetapi masih memiliki cukup literatur untuk dikaji.
Setelah topik ditentukan, mulailah mengumpulkan artikel ilmiah yang relevan.
Sumber yang dapat digunakan antara lain:
- Jurnal Scopus.
- Jurnal Web of Science.
- Jurnal SINTA.
- Google Scholar.
- ProQuest.
- ScienceDirect.
Usahakan menggunakan jurnal terbaru, terutama yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Literatur yang lebih mutakhir biasanya memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan penelitian saat ini.
Salah satu cara paling efektif menemukan research gap adalah membuat tabel ringkasan penelitian terdahulu.
Contohnya:
| Peneliti | Variabel | Metode | Sampel | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| Peneliti A | Motivasi → Prestasi | Regresi | Mahasiswa | Berpengaruh |
| Peneliti B | Motivasi → Prestasi | Regresi | Siswa SMA | Tidak Berpengaruh |
| Peneliti C | Motivasi → Prestasi | SEM | Mahasiswa | Berpengaruh |
Melalui tabel seperti ini, Anda akan lebih mudah melihat pola, persamaan, dan perbedaan hasil penelitian.
Salah satu sumber research gap yang paling sering digunakan adalah hasil penelitian yang tidak konsisten.
Misalnya:
- Penelitian A menemukan pengaruh signifikan.
- Penelitian B menemukan tidak ada pengaruh.
Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian baru guna menjelaskan penyebab ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya.
Kondisi ini sering disebut sebagai empirical gap.
Hampir setiap artikel ilmiah memiliki bagian keterbatasan penelitian (limitations).
Bagian ini sering kali berisi informasi seperti:
- Jumlah sampel yang terbatas.
- Lokasi penelitian yang sempit.
- Variabel yang belum lengkap.
- Metode analisis yang masih sederhana.
Keterbatasan tersebut dapat menjadi peluang untuk penelitian lanjutan yang lebih komprehensif.
Perkembangan teknologi, perubahan sosial, maupun kebijakan baru sering menciptakan peluang penelitian yang menarik.
Contohnya:
- Penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan.
- Transformasi digital pada UMKM.
- Perilaku konsumen pascapandemi.
- Pemanfaatan media sosial untuk pemasaran.
Karena fenomena tersebut relatif baru, biasanya masih tersedia banyak ruang untuk penelitian lanjutan.
Contoh Research Gap dalam Tesis
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana.
Topik penelitian:
Pengaruh Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa
Hasil penelitian terdahulu:
| Penelitian | Hasil |
|---|---|
| Penelitian A | Berpengaruh positif |
| Penelitian B | Tidak berpengaruh |
| Penelitian C | Berpengaruh positif |
Dari hasil tersebut terlihat adanya ketidakkonsistenan temuan.
Maka research gap dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Penelitian terdahulu mengenai pengaruh pembelajaran digital terhadap motivasi belajar menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali hubungan tersebut pada konteks mahasiswa generasi digital saat ini.”
Contoh tersebut menunjukkan bahwa research gap tidak selalu berasal dari topik yang belum pernah diteliti.
Baca juga: Judul Tesis Terbaru 2026: Lengkap 50+ Contoh Judul Tesis yang Relevan
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mencari Research Gap
Banyak mahasiswa mengalami kesulitan menemukan research gap karena melakukan beberapa kesalahan berikut:
- Hanya membaca sedikit jurnal.
- Menggunakan referensi yang sudah terlalu lama.
- Menganggap research gap harus berupa topik yang belum pernah diteliti.
- Tidak membuat perbandingan penelitian terdahulu.
- Mengabaikan bagian keterbatasan penelitian.
- Memaksakan research gap yang sebenarnya tidak relevan.
Menghindari kesalahan-kesalahan tersebut akan membuat proses pencarian research gap menjadi lebih efektif.
Tips Menemukan Research Gap dengan Lebih Cepat
Sebelum mengakhiri pembahasan, ada beberapa tips yang dapat membantu mempercepat proses pencarian research gap.
- Gunakan minimal 15–30 jurnal yang relevan.
- Prioritaskan jurnal lima tahun terakhir.
- Buat tabel literatur sejak awal.
- Catat setiap keterbatasan penelitian yang ditemukan.
- Fokus pada hasil penelitian yang saling bertentangan.
- Diskusikan temuan dengan dosen pembimbing.
- Jangan hanya membaca abstrak, tetapi juga bagian pembahasan dan kesimpulan.
Langkah-langkah sederhana tersebut sering kali sangat membantu dalam menemukan celah penelitian yang kuat dan layak dijadikan tesis.
Penutup
Menentukan research gap merupakan salah satu tahap paling penting dalam penyusunan tesis karena menjadi dasar yang menjelaskan mengapa penelitian perlu dilakukan. Research gap dapat ditemukan melalui hasil penelitian yang tidak konsisten, keterbatasan penelitian terdahulu, perkembangan fenomena baru, perbedaan metode, maupun konteks penelitian yang belum banyak dikaji. Dengan melakukan kajian literatur secara sistematis dan kritis, Anda akan lebih mudah menemukan celah penelitian yang relevan serta mampu menyusun tesis yang memiliki kontribusi ilmiah yang jelas.
Jika Anda membutuhkan pendampingan akademik untuk skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, maupun analisis data penelitian, Tesis.id siap membantu melalui layanan konsultasi yang profesional dan terpercaya. Mulai dari penyusunan proposal, pengolahan data, hingga persiapan sidang, Anda dapat memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian agar proses pengerjaan menjadi lebih mudah dan terarah.

