Dalam proses penyusunan tesis, salah satu tahap yang hampir selalu dihadapi mahasiswa adalah pemeriksaan kemiripan naskah menggunakan Turnitin. Hasil pemeriksaan ini sering menjadi perhatian utama karena banyak perguruan tinggi menetapkan batas maksimum tingkat kemiripan (similarity index) sebagai salah satu syarat sebelum mahasiswa dapat mengikuti seminar hasil, sidang tesis, maupun proses unggah karya ilmiah ke repositori kampus.
Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa semakin kecil persentase Turnitin, maka semakin baik kualitas tesisnya. Tidak sedikit pula yang merasa panik ketika memperoleh hasil kemiripan di atas 20%, meskipun belum tentu seluruh kemiripan tersebut menunjukkan adanya plagiarisme. Akibatnya, berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan persentase Turnitin tanpa benar-benar memahami penyebab munculnya tingkat kemiripan tersebut.
Padahal, Turnitin bukanlah alat pendeteksi plagiarisme secara langsung. Sistem ini berfungsi sebagai perangkat lunak yang membandingkan kesamaan teks dengan berbagai sumber yang terdapat dalam basis datanya, seperti artikel jurnal, buku digital, tugas mahasiswa, repositori institusi, hingga halaman internet. Interpretasi terhadap hasil tersebut tetap memerlukan penilaian manusia, terutama dosen pembimbing, penguji, atau pengelola akademik.
Lantas, berapa batas Turnitin yang aman untuk tesis? Apakah angka 10%, 20%, atau bahkan 30% masih dapat diterima? Jawabannya bergantung pada kebijakan masing-masing perguruan tinggi, jenis penelitian, serta bagaimana kemiripan tersebut muncul. Oleh karena itu, memahami cara kerja Turnitin menjadi langkah awal yang penting agar mahasiswa tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada kualitas penulisan ilmiah.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai batas Turnitin yang umum diterapkan, cara membaca laporan hasil pemeriksaan, faktor yang memengaruhi tingkat kemiripan, hingga strategi efektif untuk menghasilkan tesis yang orisinal tanpa melanggar etika akademik.

Mengenal Apa Itu Turnitin
Sebelum membahas batas Turnitin yang dianggap aman, penting untuk memahami terlebih dahulu apa sebenarnya Turnitin dan bagaimana sistem ini bekerja.
Turnitin merupakan perangkat lunak pemeriksa kemiripan teks (text similarity checker) yang banyak digunakan oleh perguruan tinggi di seluruh dunia. Sistem ini membandingkan dokumen yang diunggah dengan miliaran halaman web, jutaan artikel ilmiah, buku elektronik, serta dokumen akademik yang telah tersimpan dalam databasenya.
Hasil pemeriksaan ditampilkan dalam bentuk Similarity Index, yaitu persentase yang menunjukkan seberapa besar bagian teks memiliki kemiripan dengan sumber lain. Persentase tersebut kemudian dilengkapi dengan daftar sumber yang memiliki tingkat kesamaan tertentu.
Perlu dipahami bahwa Similarity Index bukan berarti persentase plagiarisme. Sebuah tesis dapat memiliki nilai kemiripan sebesar 18% namun seluruh kemiripan berasal dari kutipan yang benar, daftar pustaka, istilah teknis, atau metode penelitian yang memang memiliki format baku. Sebaliknya, tesis dengan similarity hanya 8% tetap dapat dianggap bermasalah apabila sebagian besar kemiripan berasal dari penyalinan tanpa sitasi.
Dengan kata lain, yang dinilai bukan hanya besar kecilnya persentase, tetapi juga konteks dari kemiripan tersebut.
Baca Juga: Seminar Proposal Tesis: Persiapan, Alur Pelaksanaan, dan Tips Sukses
Apakah Ada Standar Nasional Mengenai Batas Turnitin?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan mahasiswa adalah apakah terdapat standar nasional mengenai batas maksimal Turnitin untuk tesis.
Jawabannya adalah tidak ada satu angka baku yang berlaku untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Setiap universitas memiliki kebijakan akademik yang dapat berbeda satu sama lain sesuai dengan standar mutu yang diterapkan.
Sebagian perguruan tinggi menetapkan batas maksimal 20%, sementara institusi lain menerapkan batas 25%, 15%, bahkan ada yang mensyaratkan kurang dari 10% untuk publikasi ilmiah tertentu. Selain itu, beberapa kampus tidak hanya melihat persentase keseluruhan, tetapi juga membatasi tingkat kemiripan dari satu sumber tertentu.
Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya selalu mengacu pada pedoman akademik yang berlaku di fakultas atau program studi masing-masing. Memahami aturan sejak awal akan membantu proses penyusunan tesis menjadi lebih terarah dan mengurangi risiko revisi akibat hasil pemeriksaan Turnitin.
Berapa Batas Turnitin yang Umumnya Dianggap Aman?
Meskipun setiap perguruan tinggi memiliki kebijakan yang berbeda, terdapat kisaran persentase yang secara umum sering dijadikan acuan dalam lingkungan akademik.
Tabel berikut memberikan gambaran interpretasi secara umum terhadap nilai Similarity Index.
| Persentase Similarity | Interpretasi Umum |
|---|---|
| 0–10% | Sangat rendah dan umumnya menunjukkan tingkat orisinalitas yang sangat baik. |
| 11–20% | Masih tergolong aman apabila kemiripan berasal dari kutipan, istilah baku, atau daftar pustaka. |
| 21–30% | Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sumber kemiripan dan kemungkinan revisi. |
| Di atas 30% | Berpotensi memerlukan revisi substansial sesuai kebijakan perguruan tinggi. |
Tabel tersebut bukan merupakan aturan resmi yang berlaku di semua institusi. Persentase tersebut hanya memberikan gambaran umum mengenai praktik yang sering diterapkan dalam dunia akademik.
Yang jauh lebih penting daripada mengejar angka tertentu adalah memastikan bahwa setiap kutipan telah disertai sitasi yang benar, parafrase dilakukan secara tepat, serta seluruh ide yang digunakan berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengapa Similarity Tidak Sama dengan Plagiarisme?
Kesalahan pemahaman yang paling sering terjadi adalah menganggap bahwa angka Similarity Index secara otomatis menunjukkan tingkat plagiarisme.
Padahal, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.
Similarity menunjukkan adanya kemiripan teks antara dokumen yang diperiksa dengan dokumen lain dalam database Turnitin. Sementara itu, plagiarisme merupakan tindakan menggunakan ide, data, atau tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan yang semestinya.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa dapat mengutip definisi dari buku yang relevan kemudian mencantumkan sitasi sesuai gaya penulisan akademik. Meskipun Turnitin akan mendeteksi adanya kemiripan kalimat, tindakan tersebut tidak termasuk plagiarisme karena sumber telah disebutkan dengan benar.
Sebaliknya, apabila mahasiswa mengubah beberapa kata dari tulisan orang lain tanpa memberikan sitasi, tingkat similarity mungkin terlihat rendah, tetapi secara etika akademik tindakan tersebut tetap dapat dikategorikan sebagai plagiarisme.
Inilah alasan mengapa dosen pembimbing maupun penguji tidak hanya melihat angka persentase, tetapi juga menelaah laporan hasil Turnitin secara menyeluruh.
Faktor yang Memengaruhi Tingginya Nilai Turnitin
Banyak mahasiswa merasa bingung ketika hasil Turnitin menunjukkan angka yang cukup tinggi, padahal mereka merasa telah menulis sendiri seluruh isi tesis. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai faktor yang sebenarnya masih wajar dalam penulisan ilmiah.
Beberapa faktor yang sering menyebabkan meningkatnya Similarity Index antara lain sebagai berikut.
- Penggunaan definisi yang sama dari sumber asli.
- Kutipan langsung yang cukup banyak.
- Format metodologi penelitian yang bersifat baku.
- Nama peraturan perundang-undangan atau dokumen resmi.
- Istilah teknis yang tidak dapat diubah.
- Judul tabel, gambar, maupun instrumen penelitian yang serupa.
- Daftar pustaka yang belum dikecualikan saat pemeriksaan.
- Dokumen pernah diunggah ke repositori Turnitin sebelumnya.
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa tingginya similarity tidak selalu disebabkan oleh plagiarisme. Oleh sebab itu, sebelum melakukan revisi besar-besaran, mahasiswa perlu memahami bagian mana yang sebenarnya menjadi penyebab utama munculnya kemiripan.
Cara Membaca Laporan Hasil Turnitin dengan Benar
Setelah proses pemeriksaan selesai, Turnitin akan menghasilkan laporan yang berisi persentase kemiripan beserta sumber-sumber yang memiliki kesamaan teks.
Laporan tersebut sebaiknya tidak hanya dilihat dari angka di halaman depan. Mahasiswa juga perlu membuka setiap sumber yang ditampilkan untuk mengetahui bagian mana yang terdeteksi memiliki kemiripan.
Misalnya, apabila sebagian besar kemiripan berasal dari daftar pustaka atau kutipan yang telah ditulis sesuai aturan, maka kondisi tersebut biasanya tidak menjadi masalah. Sebaliknya, apabila terdapat paragraf panjang yang identik dengan artikel lain tanpa sitasi, maka bagian tersebut perlu segera diperbaiki.
Selain itu, beberapa dosen biasanya mengaktifkan pengaturan untuk mengecualikan daftar pustaka, kutipan langsung, maupun frasa-frasa pendek. Pengaturan ini dapat menghasilkan persentase yang lebih mencerminkan tingkat kemiripan sebenarnya pada isi utama tesis.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu langsung panik ketika melihat angka similarity yang cukup tinggi. Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah membaca laporan secara menyeluruh dan memahami penyebab kemunculan setiap sumber kemiripan.
Cara Menurunkan Similarity Turnitin Secara Etis
Ketika hasil pemeriksaan Turnitin menunjukkan persentase yang melebihi batas yang ditentukan oleh perguruan tinggi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukanlah mencari cara untuk “mengakali” sistem, melainkan memperbaiki kualitas penulisan secara ilmiah. Tujuan utama menurunkan similarity bukan sekadar memperoleh angka yang lebih kecil, tetapi memastikan bahwa tesis benar-benar mencerminkan pemahaman dan hasil penelitian penulis sendiri.
Salah satu cara yang paling efektif adalah melakukan parafrase secara tepat. Parafrase bukan berarti hanya mengganti beberapa kata dengan sinonim, melainkan menyampaikan kembali gagasan dari sumber asli menggunakan susunan kalimat dan cara penyampaian yang berbeda tanpa mengubah maknanya. Setelah melakukan parafrase, penulis tetap wajib mencantumkan sitasi sebagai bentuk penghargaan terhadap sumber yang digunakan.
Langkah berikutnya adalah mengurangi penggunaan kutipan langsung apabila sebenarnya tidak diperlukan. Dalam penulisan tesis, kutipan langsung umumnya hanya digunakan untuk definisi penting, bunyi peraturan, atau pernyataan yang memang harus ditampilkan secara apa adanya. Untuk pembahasan teori dan hasil penelitian terdahulu, parafrase biasanya lebih dianjurkan.
Mahasiswa juga perlu memastikan bahwa setiap kutipan telah dilengkapi dengan format sitasi yang sesuai dengan pedoman yang digunakan, seperti APA Style, Harvard Style, atau gaya sitasi lain yang ditetapkan oleh kampus. Kesalahan dalam penulisan sitasi dapat menyebabkan bagian tertentu tetap terdeteksi sebagai kemiripan yang bermasalah.
Selain itu, lakukan pemeriksaan ulang terhadap laporan Turnitin setelah proses revisi. Dengan membandingkan laporan sebelum dan sesudah perbaikan, mahasiswa dapat mengetahui apakah perubahan yang dilakukan benar-benar efektif sekaligus memastikan tidak ada bagian penting yang terlewat.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Berusaha Menurunkan Turnitin
Karena khawatir tidak memenuhi batas similarity yang ditetapkan, sebagian mahasiswa justru melakukan langkah-langkah yang kurang tepat. Alih-alih meningkatkan kualitas tesis, tindakan tersebut dapat menurunkan mutu akademik bahkan berpotensi melanggar etika penelitian.
Beberapa kesalahan yang masih sering ditemukan antara lain sebagai berikut.
- Mengganti setiap kata dengan sinonim tanpa memahami makna kalimat sehingga isi menjadi tidak jelas.
- Menghapus sitasi agar persentase similarity terlihat lebih rendah.
- Menggunakan aplikasi atau layanan yang mengklaim dapat “menghilangkan” hasil Turnitin secara instan.
- Menambahkan kalimat yang tidak relevan hanya untuk mengubah struktur paragraf.
- Mengubah istilah ilmiah baku yang sebenarnya tidak perlu diubah.
- Menyalin hasil parafrase dari AI tanpa melakukan pengecekan dan penyesuaian.
- Mengabaikan laporan detail Turnitin dan hanya berfokus pada angka persentase.
Pendekatan seperti di atas tidak menyelesaikan akar permasalahan. Bahkan, dalam beberapa kasus, kualitas tulisan justru menjadi lebih rendah karena alur pembahasan menjadi tidak logis atau istilah ilmiah digunakan secara tidak tepat. Oleh sebab itu, proses revisi sebaiknya selalu mengutamakan kejelasan isi dan ketepatan akademik.
Tips Praktis Agar Tesis Memiliki Tingkat Similarity yang Baik
Menjaga tingkat similarity tetap berada dalam batas yang ditetapkan sebenarnya lebih mudah dilakukan apabila diterapkan sejak awal proses penulisan. Dengan kebiasaan menulis yang benar, mahasiswa tidak perlu melakukan revisi besar-besaran menjelang pengumpulan tesis.
Beberapa langkah praktis berikut dapat membantu.
- Mulailah menulis menggunakan pemahaman sendiri setelah membaca berbagai referensi.
- Catat sumber setiap informasi sejak awal agar tidak ada kutipan yang terlupakan.
- Gunakan aplikasi manajemen referensi untuk mengelola sitasi secara lebih rapi.
- Batasi penggunaan kutipan langsung dan utamakan parafrase yang berkualitas.
- Periksa kembali kesesuaian daftar pustaka dengan sitasi di dalam teks.
- Lakukan pemeriksaan Turnitin secara bertahap apabila kampus memberikan kesempatan.
- Diskusikan hasil pemeriksaan bersama dosen pembimbing apabila terdapat bagian yang masih perlu diperbaiki.
Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, proses penyusunan tesis akan menjadi lebih sistematis dan risiko memperoleh similarity yang tinggi dapat diminimalkan.
Ilustrasi Penerapan yang Benar
Sebagai gambaran, seorang mahasiswa sedang menyusun Bab II mengenai teori kepuasan pelanggan. Ia membaca beberapa buku dan artikel jurnal untuk memahami konsep yang digunakan dalam penelitiannya.
Alih-alih menyalin definisi secara langsung, mahasiswa tersebut terlebih dahulu memahami inti pembahasan dari setiap sumber. Selanjutnya, ia menuliskan kembali penjelasan tersebut menggunakan bahasa akademiknya sendiri serta tetap mencantumkan sitasi sesuai pedoman yang berlaku. Ketika terdapat definisi yang harus dikutip secara langsung, ia menggunakan tanda kutip dan menuliskan sumber secara lengkap.
Setelah seluruh bab selesai disusun, mahasiswa melakukan pemeriksaan Turnitin. Hasilnya menunjukkan adanya kemiripan pada beberapa istilah teknis dan kutipan yang memang telah ditulis dengan benar. Karena sebagian besar kemiripan berasal dari bagian yang wajar dalam penulisan ilmiah, dosen pembimbing tidak mempermasalahkannya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama bukanlah menghilangkan seluruh kemiripan, melainkan memastikan bahwa setiap kemiripan memiliki alasan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Rekomendasi Penerapan Turnitin dalam Proses Penyusunan Tesis
Turnitin sebaiknya tidak digunakan hanya sebagai alat pemeriksaan pada tahap akhir penulisan. Akan lebih efektif apabila pemeriksaan dilakukan secara bertahap selama proses penyusunan tesis berlangsung.
Sebagai contoh, mahasiswa dapat memeriksa setiap bab setelah selesai ditulis. Dengan cara ini, bagian yang memiliki tingkat kemiripan tinggi dapat segera diperbaiki sebelum berlanjut ke bab berikutnya. Pendekatan bertahap juga membuat proses revisi menjadi lebih ringan dibandingkan harus memperbaiki seluruh naskah sekaligus menjelang sidang.
Selain itu, mahasiswa perlu memahami pengaturan yang digunakan saat pemeriksaan Turnitin. Beberapa institusi mengecualikan daftar pustaka, kutipan langsung, atau frasa pendek sehingga hasil yang diperoleh lebih mencerminkan tingkat kemiripan isi utama dokumen. Mengetahui pengaturan tersebut akan membantu mahasiswa menginterpretasikan hasil pemeriksaan secara lebih tepat.
Yang tidak kalah penting, jadikan Turnitin sebagai sarana evaluasi untuk meningkatkan kualitas penulisan, bukan sekadar alat untuk mengejar angka tertentu. Fokus pada penyusunan argumen yang logis, penggunaan referensi yang kredibel, serta teknik parafrase yang baik akan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap kualitas tesis dibandingkan hanya berusaha menurunkan persentase similarity.
Baca Juga: Software Analisis Data Gratis untuk Kebutuhan Akademik
Kesimpulan
Tidak ada satu angka yang dapat disebut sebagai batas Turnitin yang aman untuk tesis dan berlaku di seluruh perguruan tinggi. Setiap institusi memiliki kebijakan masing-masing mengenai batas maksimal Similarity Index yang dapat diterima. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami pedoman akademik yang berlaku di kampusnya sebelum melakukan pemeriksaan naskah.
Yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa Similarity Index bukanlah ukuran plagiarisme. Persentase kemiripan hanya menunjukkan adanya kesamaan teks dengan sumber lain, sedangkan penilaian mengenai ada atau tidaknya pelanggaran etika akademik tetap bergantung pada konteks, cara penulisan sitasi, serta hasil telaah dosen pembimbing atau penguji.
Daripada hanya berfokus menurunkan angka Turnitin, mahasiswa sebaiknya mengutamakan penyusunan tesis yang orisinal, argumentatif, serta didukung oleh referensi ilmiah yang valid. Dengan memahami teknik parafrase yang benar, mencantumkan sitasi secara tepat, dan melakukan pemeriksaan secara berkala, tingkat similarity yang baik akan tercapai secara alami tanpa harus mengorbankan kualitas karya ilmiah.
Pada akhirnya, tujuan utama penyusunan tesis bukan sekadar memenuhi batas Turnitin yang ditetapkan kampus, tetapi menghasilkan penelitian yang jujur, berkualitas, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

