Cara Membuat Matriks Penelitian Terdahulu di Word agar Rapi dan Mudah Dibaca

Menyusun kajian pustaka akan terasa lebih mudah ketika berbagai penelitian sebelumnya dicatat secara sistematis. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah membuat matriks penelitian terdahulu di Word. Dengan matriks, peneliti dapat mengorganisasi informasi dari jurnal, skripsi, tesis, maupun artikel ilmiah dalam bentuk tabel sehingga persamaan, perbedaan, hasil, dan keterbatasan penelitian lebih mudah dibandingkan.

Microsoft Word menjadi pilihan yang praktis karena hampir semua mahasiswa sudah terbiasa menggunakannya untuk menyusun skripsi atau tesis. Selain dapat digunakan untuk membuat tabel, Word juga menyediakan berbagai fitur untuk mengatur ukuran kolom, posisi teks, warna, garis tabel, hingga orientasi halaman. Jika digunakan dengan tepat, matriks tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga lebih mudah digunakan untuk menemukan pola penelitian dan research gap.

Karena itu, membuat matriks bukan sekadar memasukkan informasi penelitian ke dalam tabel. Peneliti perlu menentukan informasi apa yang penting, menyusun kolom secara proporsional, lalu mengatur tampilannya agar tetap mudah dibaca meskipun berisi banyak data.

research gap dari penelitian terdahulu

Apa Itu Matriks Penelitian Terdahulu?

Matriks penelitian terdahulu adalah tabel yang digunakan untuk mengorganisasi dan membandingkan informasi dari sejumlah penelitian yang relevan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan. Informasi tersebut dapat mencakup nama penulis, tahun publikasi, judul penelitian, variabel atau fokus penelitian, teori, metode, objek penelitian, hasil, hingga keterbatasan.

Dalam praktiknya, matriks dapat dibuat menggunakan Microsoft Word, Excel, Google Sheets, atau aplikasi pengolah data lainnya. Word biasanya dipilih ketika tabel tersebut akan langsung ditempatkan dalam proposal, skripsi, tesis, atau dokumen akademik.

Keberadaan matriks membantu peneliti melihat literatur secara lebih terstruktur. Jika penelitian terdahulu hanya dicatat dalam paragraf atau catatan terpisah, informasi penting bisa lebih sulit dibandingkan. Sebaliknya, melalui tabel, peneliti dapat melihat beberapa penelitian secara berdampingan.

Matriks juga dapat berfungsi sebagai alat bantu analisis. Peneliti dapat menggunakannya untuk menemukan penelitian yang memiliki variabel serupa, melihat perbedaan metode, mengidentifikasi hasil yang tidak konsisten, dan menemukan aspek yang belum banyak diteliti.

Baca juga: NVivo: Panduan Lengkap Analisis Data Kualitatif untuk Penelitian dan Tesis

Mengapa Menggunakan Word untuk Membuat Matriks?

Microsoft Word memiliki keunggulan karena dapat digunakan dalam satu dokumen yang sama dengan naskah penelitian. Setelah matriks selesai, peneliti dapat menyesuaikan tampilannya dengan format proposal atau skripsi tanpa perlu memindahkan data dari aplikasi lain.

Fitur tabel di Word juga cukup lengkap untuk kebutuhan matriks sederhana hingga menengah. Peneliti dapat menambahkan atau menghapus kolom, menggabungkan sel, mengatur lebar tabel, mengubah orientasi teks, dan menyesuaikan ukuran halaman.

Meskipun demikian, Word bukan berarti selalu menjadi pilihan terbaik untuk mengelola ratusan penelitian. Jika jumlah artikel sangat banyak dan informasi perlu sering difilter atau diurutkan, Excel atau spreadsheet dapat lebih praktis. Word lebih sesuai ketika peneliti ingin menghasilkan matriks yang sudah siap dibaca atau dimasukkan ke dalam dokumen akademik.

Dengan kata lain, pemilihan aplikasi sebaiknya mengikuti kebutuhan. Word cocok untuk penyajian dokumen, sedangkan spreadsheet lebih unggul untuk pengelolaan data dalam jumlah besar.

Menentukan Informasi yang Akan Dicantumkan

Sebelum membuka Microsoft Word dan membuat tabel, tentukan terlebih dahulu informasi apa saja yang akan dimasukkan. Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat tabel terlebih dahulu tanpa mengetahui tujuan matriks. Akibatnya, peneliti memasukkan terlalu banyak kolom dan tabel menjadi sulit dibaca.

Kolom yang digunakan dapat disesuaikan dengan jenis penelitian dan tujuan kajian literatur. Untuk kebutuhan umum, beberapa informasi yang sering dicatat adalah penulis dan tahun, judul penelitian, variabel atau fokus, metode penelitian, objek atau sampel, hasil penelitian, dan relevansi dengan penelitian yang sedang dilakukan.

Jika matriks digunakan untuk mencari research gap, peneliti dapat menambahkan kolom keterbatasan atau research gap. Sementara itu, jika ingin membandingkan dasar teoritis, kolom teori dapat dimasukkan.

Prinsipnya, setiap kolom harus memiliki fungsi. Jangan menambahkan kolom hanya karena melihat contoh matriks milik mahasiswa lain. Struktur penelitian setiap orang berbeda sehingga kebutuhan informasinya juga dapat berbeda.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Menyiapkan Data Sebelum Membuat Tabel

Setelah menentukan kolom, langkah berikutnya adalah menyiapkan data penelitian terdahulu. Sebaiknya informasi dari setiap artikel sudah diringkas terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke Word.

Misalnya, peneliti menemukan sepuluh jurnal yang relevan. Dari setiap jurnal, catat informasi penting seperti nama penulis, tahun terbit, judul, variabel, metode, sampel, hasil utama, serta keterbatasan. Catatan tersebut kemudian dapat dipindahkan ke dalam matriks.

Cara ini lebih efisien daripada membaca satu artikel kemudian langsung mengisi tabel Word secara panjang lebar. Ringkasan yang sudah dibuat juga membantu peneliti memahami isi artikel sehingga tidak sekadar menyalin abstrak.

Peneliti sebaiknya membaca bagian hasil dan pembahasan secara cermat. Abstrak memang berguna untuk mengetahui gambaran umum, tetapi belum tentu memuat seluruh informasi yang dibutuhkan untuk membandingkan penelitian.

Cara Membuat Tabel di Microsoft Word

Setelah data siap, pembuatan tabel dapat dilakukan secara sederhana melalui fitur Insert Table pada Microsoft Word. Peneliti dapat menentukan jumlah kolom sesuai struktur yang sudah dirancang dan menambahkan baris sesuai jumlah penelitian yang akan dibandingkan.

Sebaiknya jangan langsung membuat tabel dengan puluhan kolom. Mulailah dengan struktur yang paling penting, kemudian tambahkan kolom jika memang diperlukan. Tabel yang terlalu lebar akan menyulitkan peneliti ketika mengatur halaman maupun membaca isi.

Secara umum, proses pembuatannya dapat dilakukan melalui beberapa tahap berikut.

  1. Buka dokumen Microsoft Word yang akan digunakan untuk menyusun matriks.
  2. Pilih menu Insert, kemudian pilih Table dan tentukan jumlah kolom serta baris.
  3. Masukkan nama informasi pada baris header, seperti Penulis, Tahun, Judul, Metode, Hasil, dan Relevansi.
  4. Masukkan informasi dari masing-masing penelitian secara ringkas dan konsisten.
  5. Atur ukuran kolom, tinggi baris, posisi teks, serta format tabel agar mudah dibaca.
  6. Periksa kembali seluruh data dan pastikan informasi antarpenelitian ditulis dengan format yang seragam.

Tahapan tersebut terlihat sederhana, tetapi kualitas matriks sangat bergantung pada cara peneliti mengisi dan mengatur tabel. Tabel yang dibuat dengan banyak fitur sekalipun tetap sulit digunakan apabila informasinya tidak konsisten.

Mengatur Lebar Kolom agar Tidak Berantakan

Salah satu tantangan ketika membuat matriks penelitian terdahulu di Word adalah mengatur lebar setiap kolom. Kolom judul penelitian biasanya membutuhkan ruang lebih besar, sedangkan kolom tahun atau nomor penelitian dapat dibuat lebih sempit.

Jika semua kolom memiliki ukuran yang sama, sebagian besar ruang halaman dapat terbuang pada kolom yang sebenarnya hanya membutuhkan sedikit informasi. Sebaliknya, kolom yang berisi judul atau hasil penelitian akan terlalu sempit sehingga teks menjadi bertumpuk.

Karena itu, lebar kolom sebaiknya disesuaikan dengan karakter informasi. Kolom nomor dan tahun dapat dibuat sempit, sedangkan judul, metode, hasil, dan relevansi dapat diberikan ruang lebih besar.

Gunakan fitur AutoFit jika diperlukan, tetapi tetap periksa hasil akhirnya secara manual. Pengaturan otomatis terkadang menghasilkan ukuran kolom yang kurang sesuai, terutama jika terdapat teks yang sangat panjang.

Membuat Teks dalam Sel Lebih Mudah Dibaca

Matriks penelitian terdahulu sering berisi informasi yang cukup panjang. Jika seluruh isi sel ditulis sebagai paragraf panjang tanpa pengaturan, tabel akan terlihat padat dan melelahkan untuk dibaca.

Gunakan kalimat ringkas yang langsung menyampaikan informasi utama. Misalnya, pada kolom hasil penelitian tidak perlu menyalin seluruh bagian pembahasan artikel. Cukup tuliskan temuan utama yang relevan dengan tujuan matriks.

Pengaturan perataan teks juga penting. Untuk teks yang cukup panjang, posisi rata kiri biasanya lebih nyaman dibaca daripada seluruh teks dipusatkan. Sementara itu, informasi singkat seperti nomor atau tahun dapat ditempatkan di tengah.

Ukuran huruf juga perlu diperhatikan. Jangan mengecilkan font secara berlebihan hanya agar seluruh tabel muat dalam satu halaman. Tabel yang sangat kecil memang terlihat ringkas, tetapi justru menyulitkan pembaca.

Menggunakan Orientasi Landscape untuk Tabel Lebar

Jika jumlah kolom cukup banyak, halaman dengan orientasi portrait sering tidak memberikan ruang yang memadai. Dalam kondisi tersebut, orientasi landscape dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

Landscape membuat halaman menjadi lebih lebar sehingga setiap kolom memperoleh ruang yang lebih proporsional. Pengaturan ini sangat berguna untuk matriks yang memiliki banyak informasi, misalnya penulis, judul, teori, variabel, metode, sampel, hasil, keterbatasan, dan relevansi.

Namun, penggunaan landscape sebaiknya tidak dilakukan hanya untuk memaksakan semua informasi masuk ke dalam satu tabel. Jika tabel tetap terlalu lebar, pertimbangkan untuk mengurangi kolom yang kurang penting atau membagi matriks menjadi beberapa bagian.

Tujuan utama bukan membuat satu tabel sebesar mungkin, melainkan menghasilkan matriks yang dapat dibaca dan dianalisis dengan mudah.

Menyesuaikan Header agar Informasi Cepat Dipahami

Baris header atau kepala tabel memiliki fungsi penting karena menjadi penunjuk bagi pembaca. Gunakan nama kolom yang singkat tetapi jelas. Hindari judul kolom yang terlalu panjang karena akan membuat bagian atas tabel terlihat penuh.

Misalnya, daripada menggunakan “Hasil Utama dari Penelitian yang Dilakukan oleh Peneliti Sebelumnya”, cukup gunakan “Hasil Penelitian”. Demikian pula, “Objek/Responden” dapat digunakan untuk menggambarkan informasi mengenai subjek penelitian.

Format header juga dapat dibedakan dari isi tabel menggunakan cetak tebal atau warna yang sederhana. Namun, jangan menggunakan terlalu banyak warna karena matriks akademik sebaiknya tetap terlihat formal.

Dengan header yang jelas, pembaca dapat memahami struktur tabel hanya dengan melihat bagian atasnya. Hal ini juga membantu peneliti ketika melakukan analisis secara vertikal terhadap setiap kolom.

Mengatur Matriks agar Konsisten

Kerapian matriks tidak hanya ditentukan oleh garis tabel atau ukuran font. Konsistensi penulisan juga sangat penting. Jika satu penelitian ditulis dengan format nama lengkap, sementara penelitian lain hanya menggunakan nama belakang, tabel akan terlihat kurang seragam.

Begitu pula dengan penulisan tahun, metode, sampel, dan hasil. Gunakan pola yang sama untuk semua baris. Jika kolom metode berisi “Kuantitatif – regresi linear”, penelitian lain dengan metode serupa sebaiknya ditulis menggunakan format yang sejenis.

Konsistensi membuat proses perbandingan menjadi lebih mudah. Peneliti juga dapat lebih cepat melihat pola ketika informasi pada setiap baris disusun dengan cara yang seragam.

Pada akhirnya, matriks yang baik bukanlah tabel yang paling banyak kolomnya atau paling banyak dekorasinya. Matriks yang baik adalah tabel yang mampu membantu peneliti memahami literatur secara cepat, membandingkan penelitian secara sistematis, dan menemukan informasi yang dibutuhkan untuk membangun penelitian baru.

Mengatur Tinggi Baris dan Jarak Teks

Selain lebar kolom, tinggi baris juga menentukan kenyamanan membaca matriks. Ketika satu sel berisi teks yang lebih panjang daripada sel lainnya, Word secara otomatis akan menyesuaikan tinggi baris. Hal tersebut sebenarnya normal, tetapi jika perbedaannya terlalu ekstrem, tampilan tabel dapat terlihat kurang proporsional.

Peneliti dapat mengatur jarak antara teks dan batas sel melalui pengaturan tabel. Berikan ruang yang cukup agar tulisan tidak terlalu menempel pada garis. Namun, hindari memberikan ruang kosong terlalu besar karena akan membuat tabel menjadi panjang tanpa menambah informasi.

Jika matriks terdiri atas banyak penelitian, konsistensi tinggi dan jarak teks akan membantu pembaca mengikuti tabel dari baris pertama sampai terakhir. Pengaturan tersebut juga penting ketika matriks akan dicetak atau dimasukkan ke dalam dokumen skripsi dan tesis.

Menggunakan Fitur Merge Cells Secara Tepat

Fitur Merge Cells pada Microsoft Word dapat digunakan untuk menggabungkan beberapa sel menjadi satu. Fitur ini berguna dalam kondisi tertentu, misalnya ketika peneliti ingin membuat judul tabel atau mengelompokkan beberapa kategori penelitian.

Namun, merge cells sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan. Penggabungan sel yang terlalu banyak dapat membuat struktur matriks sulit dipahami dan menyulitkan proses pengeditan.

Untuk matriks penelitian terdahulu yang sederhana, biasanya cukup gunakan baris header dan baris data tanpa banyak penggabungan. Struktur yang sederhana justru lebih mudah dipelihara ketika peneliti menambahkan penelitian baru.

Membuat Tabel Tetap Terbaca ketika Berlanjut ke Halaman Berikutnya

Matriks penelitian terdahulu dapat menjadi cukup panjang karena peneliti biasanya membandingkan banyak artikel. Jika tabel melewati satu halaman, pastikan pembaca tetap mengetahui arti setiap kolom pada halaman berikutnya.

Microsoft Word menyediakan fitur untuk mengulangi baris header pada halaman selanjutnya. Dengan begitu, ketika tabel berlanjut ke halaman kedua atau ketiga, nama kolom tetap muncul dan pembaca tidak perlu kembali ke halaman pertama.

Fitur tersebut sangat membantu untuk matriks dengan banyak baris. Tanpa pengulangan header, halaman lanjutan dapat terlihat seperti kumpulan data yang tidak memiliki penjelasan.

Peneliti juga sebaiknya memeriksa apakah satu baris tabel terpotong secara tidak wajar di antara dua halaman. Jika memungkinkan, atur pemisahan baris agar informasi dari satu penelitian tetap mudah diikuti.

Contoh Struktur Matriks yang Sederhana

Format matriks sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Untuk mahasiswa yang baru mulai menyusun kajian pustaka, struktur sederhana sering kali lebih efektif daripada tabel dengan terlalu banyak kolom.

No. Penulis & Tahun Judul Fokus/Variabel Metode Hasil Utama Relevansi
1 A, 2024 Kualitas Layanan Digital dan Kepuasan Mahasiswa Kualitas layanan, kepuasan Kuantitatif Hubungan positif Mendukung variabel penelitian
2 B, 2023 Pengalaman Mahasiswa pada Layanan Akademik Pengalaman pengguna Kualitatif Ditemukan beberapa tema utama Relevan sebagai pembanding
3 C, 2022 Digitalisasi Pelayanan Perguruan Tinggi Digitalisasi layanan Kuantitatif Pengaruh signifikan Menjadi dasar perbandingan

Contoh tersebut hanya merupakan ilustrasi. Data penelitian sebenarnya harus diambil langsung dari sumber yang dibaca. Peneliti juga perlu menyesuaikan istilah pada kolom dengan desain penelitian masing-masing.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya tampilan tabel, tetapi hubungan antarkolom. Dari contoh tersebut, peneliti dapat membandingkan fokus penelitian, metode, hasil, serta relevansinya dengan penelitian yang akan dilakukan.

Memilih antara Tabel Sederhana dan Tabel Detail

Tidak semua penelitian membutuhkan matriks yang sangat detail. Peneliti dapat membuat tabel sederhana ketika tujuan utamanya hanya untuk memetakan penelitian terdahulu. Sebaliknya, tabel yang lebih lengkap diperlukan jika matriks akan digunakan untuk menganalisis research gap secara mendalam.

Tabel sederhana biasanya lebih mudah dibaca dan lebih cocok untuk jumlah penelitian yang tidak terlalu banyak. Informasi utama dapat langsung terlihat tanpa membuat pembaca harus membaca teks panjang di setiap sel.

Sementara itu, tabel detail dapat mencantumkan teori, variabel, metode analisis, karakteristik responden, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian selanjutnya. Struktur ini berguna untuk tesis atau penelitian yang membutuhkan kajian literatur lebih mendalam.

Hal yang penting adalah menjaga keseimbangan antara kelengkapan informasi dan keterbacaan. Tabel yang sangat lengkap tetapi sulit dibaca belum tentu lebih baik daripada tabel yang lebih sederhana tetapi mampu menunjukkan pola penelitian dengan jelas.

Menganalisis Isi Matriks untuk Menemukan Research Gap

Setelah tabel selesai dibuat dan tampilannya sudah rapi, tahap yang lebih penting adalah melakukan analisis. Matriks seharusnya membantu peneliti menjawab pertanyaan mengenai apa yang telah diteliti dan bagian mana yang masih membutuhkan penelitian.

Salah satu caranya adalah membandingkan penelitian berdasarkan variabel atau fokus. Misalnya, dari 15 artikel yang dikumpulkan, sebagian besar penelitian membahas kualitas pelayanan terhadap kepuasan. Namun, hanya sedikit penelitian yang memasukkan pengalaman pengguna sebagai variabel tambahan.

Temuan tersebut belum otomatis menjadi research gap. Peneliti masih perlu melihat teori, konteks, metode, populasi, dan hasil penelitian. Bisa saja penelitian dengan variabel tambahan tersebut sebenarnya sudah banyak dilakukan dengan istilah yang berbeda.

Matriks membantu proses ini karena informasi dari berbagai penelitian sudah berada dalam satu tempat. Peneliti dapat melihat pola secara lebih cepat dibandingkan jika harus membuka kembali setiap artikel satu per satu.

Membandingkan Penelitian Berdasarkan Metode

Matriks juga dapat digunakan untuk melihat kecenderungan metode penelitian. Misalnya, sebagian besar penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kuesioner, sementara penelitian kualitatif mengenai topik yang sama masih terbatas.

Kondisi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Peneliti mungkin ingin mengeksplorasi pengalaman atau alasan di balik suatu fenomena yang belum dapat dijelaskan secara mendalam melalui data kuantitatif.

Sebaliknya, jika sebagian besar penelitian menggunakan wawancara dan studi kasus, peneliti dapat mempertimbangkan pendekatan kuantitatif apabila terdapat alasan teoritis dan metodologis yang memadai.

Dengan demikian, kolom metode tidak hanya berfungsi untuk mencatat jenis penelitian. Informasi tersebut dapat membantu peneliti melihat bagaimana suatu topik selama ini dipelajari dan pendekatan apa yang masih mungkin dikembangkan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Membuat matriks di Word terlihat sederhana, tetapi beberapa kesalahan dapat mengurangi manfaatnya. Kesalahan tersebut biasanya bukan hanya berkaitan dengan desain tabel, tetapi juga cara peneliti mengelola informasi.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain:

  1. Memasukkan terlalu banyak informasi. Menyalin abstrak atau pembahasan artikel ke dalam tabel akan membuat matriks terlalu padat. Ringkas hanya informasi yang diperlukan.
  2. Membuat kolom terlalu banyak. Setiap kolom seharusnya memiliki tujuan yang jelas. Jika tidak digunakan untuk membandingkan atau menganalisis penelitian, pertimbangkan untuk menghapusnya.
  3. Tidak konsisten dalam penulisan. Gunakan format yang sama untuk nama penulis, tahun, metode, dan ringkasan hasil.
  4. Mengandalkan judul penelitian saja. Relevansi artikel harus ditentukan berdasarkan isi, bukan sekadar kemiripan judul.
  5. Tidak memperbarui matriks. Literatur baru yang ditemukan selama penelitian perlu ditambahkan apabila relevan.
  6. Menganggap matriks sebagai rangkuman biasa. Setelah tabel selesai, peneliti tetap perlu melakukan sintesis dan analisis.

Kesalahan tersebut dapat membuat matriks tampak lengkap tetapi kurang membantu dalam membangun argumentasi penelitian. Karena itu, aspek isi dan tampilan perlu diperhatikan secara bersamaan.

Tips Praktis agar Matriks Lebih Profesional

Setelah memahami teknik dasar, beberapa kebiasaan sederhana dapat membuat matriks lebih efisien digunakan dalam jangka panjang. Peneliti sebaiknya tidak menunggu sampai seluruh artikel terkumpul untuk mulai mencatat informasi.

Buat matriks sejak tahap awal pencarian literatur. Setiap kali menemukan artikel yang benar-benar relevan, langsung masukkan informasi pentingnya. Cara ini mengurangi risiko lupa terhadap sumber atau harus membaca ulang artikel yang sama beberapa kali.

Selain itu, gunakan bahasa yang ringkas pada setiap sel. Jika satu temuan dapat dijelaskan dalam satu atau dua kalimat, tidak perlu membuat paragraf panjang. Matriks berfungsi sebagai peta literatur, bukan pengganti pembahasan lengkap dari artikel ilmiah.

Beberapa praktik berikut juga dapat membantu menjaga matriks tetap efektif:

  • Gunakan format penulisan yang konsisten sejak penelitian pertama.
  • Simpan sumber atau tautan artikel agar mudah ditemukan kembali.
  • Bedakan informasi faktual dari interpretasi pribadi.
  • Perbarui matriks ketika menemukan penelitian baru yang relevan.
  • Gunakan warna secara terbatas untuk menandai kategori tertentu.
  • Periksa kembali data sebelum matriks digunakan dalam naskah akhir.

Jika jumlah penelitian sudah sangat banyak, peneliti juga dapat mengelola data awal menggunakan Excel atau spreadsheet, kemudian memindahkan hasil yang sudah terseleksi ke Word untuk kebutuhan penyajian dalam skripsi atau tesis.

Menghubungkan Matriks dengan Bab 2

Matriks penelitian terdahulu memiliki hubungan erat dengan penyusunan Bab 2, khususnya bagian kajian penelitian sebelumnya. Namun, matriks tidak seharusnya membuat Bab 2 berubah menjadi sekadar kumpulan ringkasan artikel.

Informasi yang telah dipetakan dalam tabel perlu disintesis menjadi pembahasan yang menunjukkan persamaan, perbedaan, perkembangan, dan keterbatasan penelitian terdahulu. Peneliti dapat mengelompokkan artikel berdasarkan tema atau hasil tertentu kemudian membahasnya secara naratif.

Misalnya, setelah menganalisis matriks ditemukan bahwa sebagian besar penelitian menunjukkan hubungan positif antara kualitas pelayanan dan kepuasan. Beberapa penelitian lain memperoleh hasil berbeda karena menggunakan populasi atau konteks yang berbeda.

Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk menjelaskan posisi penelitian yang sedang dilakukan. Dengan demikian, matriks membantu peneliti membangun alur argumentasi dari penelitian sebelumnya menuju penelitian baru.

Perlu diingat bahwa tidak semua matriks harus ditampilkan dalam Bab 2. Jika pedoman kampus tidak mewajibkannya, matriks dapat tetap digunakan sebagai dokumen kerja peneliti. Isi matriks kemudian diolah menjadi kajian pustaka yang lebih analitis.

Rekomendasi Penerapan dalam Skripsi dan Tesis

Untuk skripsi, gunakan struktur yang relatif sederhana agar mahasiswa dapat fokus memahami hubungan antarpenelitian. Kolom penulis, tahun, judul, variabel atau fokus, metode, hasil, dan relevansi biasanya sudah cukup untuk memetakan literatur awal.

Sementara itu, untuk tesis, matriks dapat dibuat lebih analitis dengan menambahkan teori, keterbatasan, research gap, atau rekomendasi penelitian. Penambahan kolom tersebut dapat membantu peneliti melihat peluang kontribusi yang lebih jelas.

Jika penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, fokuskan matriks pada konteks, informan, pendekatan, teknik pengumpulan data, dan tema temuan. Untuk penelitian kuantitatif, informasi mengenai variabel, sampel, teknik analisis, dan hasil pengujian biasanya lebih penting.

Jadi, tidak ada satu format yang wajib digunakan. Format terbaik adalah format yang membuat peneliti dapat membaca, membandingkan, dan menganalisis literatur dengan lebih cepat.

Baca juga: Contoh Matriks Penelitian Terdahulu dan Cara Menggunakannya dalam Kajian Pustaka

Kesimpulan

Cara membuat matriks penelitian terdahulu di Word agar rapi dan mudah dibaca tidak berhenti pada membuat tabel melalui menu Insert. Peneliti perlu menentukan informasi yang relevan, menyiapkan ringkasan setiap penelitian, menyusun kolom secara proporsional, kemudian mengatur lebar kolom, tinggi baris, orientasi halaman, header, dan format teks.

Matriks yang baik juga harus memiliki fungsi analitis. Tabel dapat membantu membandingkan teori, variabel, metode, objek, hasil, dan keterbatasan penelitian. Dari perbandingan tersebut, peneliti dapat menemukan pola, mengidentifikasi ketidakkonsistenan temuan, serta memperoleh petunjuk mengenai research gap.

Pada akhirnya, kerapian bukan sekadar persoalan estetika. Matriks yang terstruktur membuat informasi penelitian lebih mudah dipahami dan membantu peneliti menyusun kajian pustaka secara lebih terarah. Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tesis dan membutuhkan pendampingan dalam menata literatur, menganalisis research gap, maupun mengembangkan kerangka penelitian, konsultasi akademik dari Tesis id dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu proses penelitian berjalan lebih sistematis.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

Scroll to Top