Cara Menemukan Research Gap dari Matriks Penelitian Terdahulu

Cara menemukan research gap dari matriks penelitian terdahulu merupakan salah satu tahap penting dalam menyusun penelitian yang memiliki arah dan kontribusi yang jelas. Research gap membantu peneliti mengetahui bagian mana dari suatu topik yang masih belum terjawab, belum konsisten, atau masih dapat dikembangkan berdasarkan penelitian sebelumnya. Dengan menggunakan matriks penelitian terdahulu, proses tersebut dapat dilakukan secara lebih sistematis daripada hanya membaca artikel jurnal satu per satu.

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, menemukan research gap sering kali menjadi bagian yang cukup menantang. Peneliti mungkin sudah mengumpulkan banyak jurnal, tetapi belum mengetahui apa yang sebenarnya dapat dijadikan celah penelitian. Di sinilah matriks penelitian terdahulu berperan sebagai alat untuk mengorganisasi informasi sekaligus membantu melihat pola dari berbagai penelitian.

Research gap juga tidak selalu berarti belum ada penelitian yang membahas topik tertentu. Celah penelitian dapat muncul karena hasil penelitian sebelumnya berbeda, teori yang digunakan masih terbatas, objek penelitian belum banyak dikaji, metode yang digunakan belum beragam, atau terdapat variabel tertentu yang belum dihubungkan. Karena itu, menemukan gap membutuhkan proses membandingkan dan menganalisis literatur secara kritis.

cara menemukan research gap dari matriks

Apa Itu Research Gap dalam Penelitian?

Research gap adalah celah atau bagian yang masih belum terjawab secara memadai dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Celah tersebut menunjukkan adanya ruang yang dapat dikembangkan oleh penelitian baru untuk memberikan pemahaman, bukti, atau perspektif tambahan.

Dalam konteks akademik, research gap menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Jika penelitian sebelumnya sudah memberikan jawaban yang sangat lengkap dan konsisten terhadap suatu persoalan, peneliti perlu memiliki alasan yang kuat untuk melakukan penelitian serupa.

Sebaliknya, apabila terdapat pertanyaan yang belum terjawab, hasil yang tidak konsisten, keterbatasan pada penelitian terdahulu, atau konteks yang belum banyak diteliti, kondisi tersebut dapat menjadi alasan bagi penelitian baru. Oleh karena itu, research gap bukan sekadar bagian formal dalam proposal atau tesis, melainkan dasar argumentasi mengenai kontribusi penelitian.

Penting juga untuk memahami bahwa research gap berbeda dengan sekadar menemukan perbedaan antarpenelitian. Perbedaan baru dapat disebut sebagai gap apabila memiliki relevansi terhadap persoalan ilmiah yang ingin dikaji. Peneliti harus mampu menjelaskan mengapa perbedaan atau kekosongan tersebut penting untuk diteliti.

Baca juga: Cara Menentukan Judul Tesis yang Tepat, Menarik, dan Berpotensi Diteliti

Mengapa Matriks Penelitian Terdahulu Membantu Menemukan Gap?

Matriks penelitian terdahulu adalah alat yang digunakan untuk menyusun informasi dari berbagai penelitian dalam format yang terstruktur. Informasi yang dicatat dapat mencakup penulis dan tahun, tujuan penelitian, variabel, teori, metode, sampel, objek, hasil, keterbatasan, hingga rekomendasi penelitian selanjutnya.

Ketika informasi dari beberapa penelitian ditempatkan dalam satu matriks, peneliti dapat melihat persamaan dan perbedaan secara lebih mudah. Informasi yang sebelumnya tersebar dalam banyak artikel mulai membentuk pola yang dapat dianalisis.

Misalnya, seorang peneliti mengumpulkan 15 jurnal mengenai pengaruh kualitas layanan digital terhadap kepuasan mahasiswa. Setelah dimasukkan ke dalam matriks, ternyata sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan menguji hubungan langsung antara kedua variabel tersebut. Hanya sedikit penelitian yang mempertimbangkan faktor lain sebagai mediator.

Temuan tersebut belum otomatis menjadi research gap. Peneliti masih perlu memeriksa apakah keterbatasan tersebut memang penting secara teoritis atau empiris. Jika teori yang digunakan memungkinkan adanya mekanisme tertentu dan penelitian sebelumnya belum banyak mengujinya, barulah kondisi tersebut dapat menjadi kandidat gap yang lebih kuat.

Dengan demikian, matriks membantu mengubah aktivitas membaca literatur menjadi proses analisis yang lebih terarah.

Komponen Matriks yang Penting untuk Mencari Research Gap

Tidak semua kolom dalam matriks memiliki fungsi yang sama ketika peneliti ingin menemukan research gap. Beberapa informasi justru lebih berguna untuk mendeteksi celah penelitian.

Peneliti dapat mencatat beberapa komponen utama agar pola penelitian lebih mudah dibandingkan. Semakin konsisten format pencatatan yang digunakan, semakin mudah pula peneliti melihat bagian yang berbeda atau belum banyak diteliti.

Beberapa komponen yang paling relevan antara lain:

  1. Fokus atau tujuan penelitian, untuk mengetahui masalah apa yang sudah banyak dibahas.
  2. Variabel atau konsep penelitian, untuk melihat hubungan yang telah diuji dan variabel yang masih jarang digunakan.
  3. Teori atau perspektif, untuk mengetahui landasan konseptual yang dominan maupun yang masih jarang digunakan.
  4. Metode penelitian, untuk melihat kecenderungan pendekatan, teknik analisis, dan desain penelitian.
  5. Objek dan karakteristik responden, untuk mengetahui konteks penelitian yang sudah dan belum banyak dikaji.
  6. Hasil penelitian, untuk menemukan temuan yang konsisten maupun bertentangan.
  7. Keterbatasan dan rekomendasi, untuk mengidentifikasi peluang yang secara langsung disebutkan oleh peneliti sebelumnya.

Setelah komponen tersebut dicatat, peneliti tidak perlu langsung menentukan gap. Tahap berikutnya adalah membaca matriks secara menyeluruh dan mencari pola yang berulang.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Melihat Ketidakkonsistenan Hasil Penelitian

Salah satu cara paling umum untuk menemukan research gap adalah melihat hasil penelitian yang tidak konsisten. Ketika beberapa penelitian menghasilkan kesimpulan berbeda mengenai hubungan yang sama, terdapat peluang untuk menelusuri penyebab perbedaan tersebut.

Sebagai contoh, penelitian A menemukan bahwa penggunaan teknologi pembelajaran berpengaruh positif terhadap prestasi mahasiswa. Penelitian B memperoleh hasil serupa, tetapi penelitian C tidak menemukan hubungan yang signifikan. Jika ketiga penelitian tersebut memiliki objek, teori, metode, atau karakteristik responden yang berbeda, perbedaan tersebut perlu dianalisis lebih lanjut.

Peneliti tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa salah satu penelitian salah. Hasil yang berbeda dapat terjadi karena perbedaan konteks, instrumen pengukuran, karakteristik sampel, periode penelitian, atau teknik analisis.

Matriks membantu peneliti melakukan pemeriksaan tersebut. Hasil penelitian dapat dibandingkan dengan konteks dan metode yang digunakan sehingga peneliti dapat melihat kemungkinan alasan di balik ketidakkonsistenan.

Kondisi seperti ini dapat menjadi research gap empiris. Penelitian baru kemudian dapat dirancang untuk menguji kembali hubungan tersebut pada konteks tertentu atau menggunakan pendekatan yang dapat memberikan penjelasan lebih mendalam.

Menemukan Variabel yang Masih Jarang Dikaji

Research gap juga dapat ditemukan dengan membandingkan variabel atau konsep yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Terkadang literatur menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian hanya berfokus pada hubungan sederhana antara dua variabel.

Misalnya, dari 20 penelitian mengenai kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran daring, sebagian besar hanya menguji kualitas layanan sebagai variabel independen dan kepuasan sebagai variabel dependen. Sementara itu, faktor seperti keterlibatan mahasiswa, kepercayaan terhadap platform, atau persepsi kemudahan penggunaan belum banyak dimasukkan.

Kondisi tersebut dapat menjadi peluang penelitian, tetapi peneliti tetap perlu memiliki dasar teoritis. Menambahkan variabel baru hanya karena belum pernah digunakan belum cukup untuk disebut sebagai research gap yang kuat.

Variabel tambahan harus memiliki alasan konseptual. Peneliti perlu menjelaskan mengapa variabel tersebut berpotensi memberikan pemahaman baru terhadap fenomena yang diteliti. Dengan demikian, gap yang ditemukan tidak sekadar berupa “variabel X belum pernah digunakan”, tetapi menjelaskan bagaimana penambahan variabel tersebut dapat memperluas pengetahuan.

Membandingkan Objek dan Konteks Penelitian

Celah penelitian juga dapat muncul karena keterbatasan konteks. Sebuah hubungan mungkin sudah banyak diteliti pada perusahaan, mahasiswa, atau organisasi tertentu, tetapi belum banyak dikaji pada kelompok atau lingkungan yang berbeda.

Misalnya, penelitian mengenai kepuasan terhadap layanan digital banyak dilakukan pada perguruan tinggi di kota besar. Namun, belum banyak penelitian yang mengkaji fenomena serupa pada perguruan tinggi dengan karakteristik berbeda.

Perbedaan konteks dapat menjadi penting apabila karakteristik lingkungan tersebut berpotensi memengaruhi hasil penelitian. Peneliti kemudian dapat menguji apakah temuan sebelumnya tetap berlaku atau justru menghasilkan pola yang berbeda.

Matriks penelitian terdahulu membuat perbedaan konteks tersebut lebih mudah terlihat. Peneliti dapat menambahkan kolom lokasi, populasi, karakteristik responden, sektor, atau lingkungan penelitian sehingga kekosongan konteks dapat diidentifikasi dengan lebih jelas.

Menganalisis Keterbatasan Penelitian Sebelumnya

Bagian keterbatasan dalam artikel jurnal sering kali menjadi sumber informasi yang sangat berharga untuk menemukan research gap. Peneliti sebelumnya biasanya menjelaskan batasan penelitian dan memberikan rekomendasi untuk studi berikutnya.

Namun, rekomendasi tersebut tidak harus diterima secara otomatis. Peneliti perlu menilai apakah keterbatasan tersebut relevan dengan topik dan tujuan penelitian yang akan dilakukan.

Sebagai contoh, penelitian sebelumnya hanya menggunakan sampel dari satu institusi. Peneliti kemudian menyarankan agar penelitian berikutnya menggunakan populasi yang lebih luas. Jika masalah tersebut memang berkaitan dengan kemampuan generalisasi hasil, penelitian baru dapat dikembangkan untuk menguji fenomena pada populasi yang lebih beragam.

Keterbatasan lain dapat berkaitan dengan metode, periode penelitian, jumlah variabel, instrumen, maupun teknik analisis. Semua informasi tersebut dapat dimasukkan ke dalam matriks untuk kemudian dibandingkan.

Dengan membaca bagian keterbatasan secara kritis, peneliti dapat menemukan peluang penelitian yang lebih konkret daripada hanya mencari topik yang belum pernah muncul dalam judul jurnal.

Membandingkan Teori yang Digunakan

Teori juga dapat menjadi sumber research gap. Dalam suatu bidang penelitian, mungkin terdapat teori yang sangat dominan digunakan oleh sebagian besar peneliti. Kondisi tersebut dapat membuka peluang untuk melihat fenomena yang sama melalui perspektif teoritis yang berbeda.

Misalnya, sepuluh penelitian mengenai perilaku pengguna suatu aplikasi menggunakan teori penerimaan teknologi. Setelah dianalisis, peneliti menemukan bahwa aspek sosial atau psikologis belum banyak dijelaskan secara mendalam.

Penelitian baru dapat mempertimbangkan teori lain apabila memang relevan untuk menjelaskan aspek tersebut. Namun, penggunaan teori berbeda harus memiliki argumentasi yang kuat. Peneliti perlu menjelaskan mengapa teori tersebut dapat memberikan sudut pandang tambahan yang belum dijelaskan oleh penelitian sebelumnya.

Dengan demikian, theoretical gap tidak sekadar berarti mengganti teori. Gap tersebut seharusnya menunjukkan adanya keterbatasan penjelasan teoritis yang dapat diperluas melalui perspektif lain.

Melihat Perbedaan Metode Penelitian

Metode juga dapat membantu menemukan celah yang belum banyak diteliti. Jika suatu topik hampir selalu diteliti menggunakan survei kuantitatif, misalnya, pendekatan kualitatif mungkin dapat memberikan pemahaman yang berbeda apabila memang sesuai dengan masalah penelitian.

Sebaliknya, suatu fenomena yang selama ini dijelaskan melalui wawancara mendalam mungkin dapat dikembangkan dengan pendekatan kuantitatif untuk menguji pola hubungan pada populasi yang lebih luas.

Namun, penggunaan metode berbeda bukan otomatis menjadi research gap. Peneliti harus menunjukkan masalah apa yang tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh pendekatan sebelumnya dan bagaimana metode baru dapat memberikan informasi tambahan.

Karena itu, matriks sebaiknya tidak hanya mencatat jenis metode, tetapi juga desain penelitian, teknik pengumpulan data, karakteristik sampel, dan teknik analisis. Informasi tersebut memungkinkan peneliti membandingkan penelitian secara lebih mendalam.

Mengelompokkan Temuan untuk Memastikan Research Gap

Setelah berbagai informasi penelitian terdahulu dimasukkan ke dalam matriks, jangan langsung menentukan research gap berdasarkan satu artikel. Langkah yang lebih tepat adalah mengelompokkan temuan dari beberapa penelitian dan melihat apakah terdapat pola tertentu.

Pengelompokan dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian, variabel, teori, metode, objek, maupun konteks. Dari pengelompokan tersebut, peneliti dapat mengetahui bagian mana yang sudah banyak dibahas dan bagian mana yang masih memiliki keterbatasan.

Sebagai contoh, dari 15 penelitian yang dianalisis, 12 menggunakan pendekatan kuantitatif, 10 menggunakan teori yang sama, dan sebagian besar mengambil responden dari perguruan tinggi di wilayah perkotaan. Sementara itu, penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif atau mengambil konteks perguruan tinggi di wilayah berbeda masih sangat terbatas.

Informasi tersebut belum otomatis menjadi gap, tetapi dapat menjadi petunjuk awal. Peneliti kemudian perlu menghubungkannya dengan masalah penelitian, teori, serta kebutuhan untuk memperluas pemahaman terhadap fenomena yang dikaji.

Jenis Research Gap yang Dapat Ditemukan dari Matriks

Research gap memiliki bentuk yang beragam. Memahami jenisnya membantu peneliti menentukan bagian mana dari matriks yang perlu diperhatikan lebih serius.

Secara umum, gap dapat ditemukan dalam beberapa bentuk berikut:

  1. Empirical gap, yaitu adanya hasil penelitian yang tidak konsisten atau belum memberikan kesimpulan yang meyakinkan.
  2. Theoretical gap, yaitu adanya keterbatasan teori dalam menjelaskan fenomena atau peluang untuk menggunakan perspektif teoritis yang relevan.
  3. Methodological gap, yaitu keterbatasan pendekatan, desain, instrumen, atau teknik analisis yang digunakan dalam penelitian sebelumnya.
  4. Contextual gap, yaitu keterbatasan objek, lokasi, populasi, sektor, atau kondisi tertentu yang belum banyak dikaji.
  5. Population gap, yaitu kelompok atau karakteristik populasi tertentu yang belum memperoleh perhatian memadai.
  6. Variable gap, yaitu adanya variabel atau hubungan antarvariabel yang secara teoritis relevan tetapi masih jarang diuji.

Pengelompokan tersebut membantu peneliti menghindari kesalahan dalam menyebut semua perbedaan sebagai research gap. Setiap gap perlu memiliki alasan akademik yang menjelaskan mengapa celah tersebut penting untuk diteliti.

Contoh Menemukan Research Gap dari Matriks

Untuk memahami prosesnya, bayangkan seorang mahasiswa ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas pembelajaran daring terhadap kepuasan mahasiswa.

Ia mengumpulkan beberapa penelitian dan memasukkan informasi penting ke dalam matriks. Dari hasil perbandingan, ditemukan bahwa sebagian besar penelitian menggunakan survei kuantitatif dan menguji hubungan langsung antara kualitas pembelajaran dengan kepuasan.

Namun, beberapa penelitian memberikan hasil berbeda. Ada penelitian yang menemukan hubungan kuat, sedangkan penelitian lainnya menemukan hubungan yang lemah. Setelah diperiksa, penelitian dengan hasil berbeda ternyata menggunakan karakteristik responden dan konteks pembelajaran yang tidak sama.

Selain itu, sebagian besar penelitian hanya melihat hubungan langsung. Penelitian yang menjelaskan mekanisme bagaimana kualitas pembelajaran dapat menghasilkan kepuasan masih relatif terbatas.

Dari sini, peneliti dapat memiliki beberapa petunjuk. Pertama, terdapat empirical gap karena hasil penelitian belum sepenuhnya konsisten. Kedua, terdapat kemungkinan contextual gap karena karakteristik responden berbeda. Ketiga, terdapat peluang untuk mengembangkan model dengan variabel tertentu apabila didukung oleh teori.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa research gap muncul dari hasil perbandingan beberapa penelitian, bukan dari satu jurnal saja.

Mengubah Research Gap Menjadi Masalah Penelitian

Menemukan gap belum berarti penelitian sudah memiliki masalah penelitian yang jelas. Gap masih perlu diterjemahkan menjadi persoalan yang dapat diteliti.

Misalnya, matriks menunjukkan bahwa penelitian mengenai suatu hubungan menghasilkan temuan yang tidak konsisten. Peneliti kemudian perlu bertanya: mengapa hasil tersebut berbeda? Apakah perbedaannya disebabkan karakteristik populasi, konteks, metode, atau variabel tertentu?

Pertanyaan tersebut dapat membantu membentuk masalah penelitian. Dengan demikian, research gap menjadi dasar untuk merumuskan persoalan yang lebih spesifik.

Contohnya, jika penelitian sebelumnya menunjukkan hasil berbeda pada populasi mahasiswa dari berbagai jenis perguruan tinggi, penelitian baru dapat diarahkan untuk menguji hubungan tersebut pada populasi tertentu. Peneliti kemudian harus menjelaskan mengapa konteks tersebut relevan dan bagaimana penelitian baru dapat membantu menjawab ketidakjelasan sebelumnya.

Proses ini penting karena research gap yang terlalu umum akan menghasilkan rumusan masalah yang terlalu luas. Sebaliknya, gap yang dianalisis secara spesifik dapat menghasilkan fokus penelitian yang lebih terarah.

Menyusun Research Gap Statement

Setelah menemukan celah penelitian, peneliti perlu menyusunnya menjadi research gap statement. Pernyataan ini berfungsi menjelaskan kondisi penelitian sebelumnya, bagian yang masih terbatas, dan alasan penelitian baru diperlukan.

Research gap statement sebaiknya tidak hanya berbunyi, “Belum ada penelitian yang membahas variabel X dan Y.” Pernyataan seperti itu terlalu sederhana apabila tidak disertai bukti dari literatur.

Argumentasi yang lebih kuat dapat dimulai dengan menjelaskan bahwa sejumlah penelitian telah membahas hubungan tertentu. Selanjutnya, peneliti menunjukkan adanya keterbatasan, seperti hasil yang belum konsisten, konteks yang masih terbatas, atau pendekatan yang belum banyak digunakan.

Setelah itu, peneliti dapat menjelaskan kebutuhan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Bagian terakhir inilah yang menghubungkan research gap dengan penelitian yang akan dilakukan.

Dengan struktur tersebut, gap tidak terlihat seperti alasan yang dibuat-buat, tetapi sebagai hasil dari proses analisis literatur.

Dari Matriks Menuju Kerangka Berpikir

Research gap yang telah ditemukan juga dapat digunakan untuk membangun kerangka berpikir. Hubungan antarvariabel dalam kerangka penelitian sebaiknya memiliki dasar dari teori dan hasil penelitian terdahulu.

Misalnya, matriks menunjukkan bahwa variabel X secara konsisten berhubungan dengan Y, tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa hubungan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan variabel mediator atau moderator.

Namun, penambahan variabel tetap harus didukung teori. Matriks hanya menunjukkan pola dari literatur, sedangkan teori membantu menjelaskan mengapa pola tersebut mungkin terjadi.

Dengan demikian, prosesnya dapat digambarkan sebagai rangkaian yang saling berhubungan: penelitian terdahulu dikumpulkan, informasi dimasukkan ke dalam matriks, pola dianalisis, research gap ditemukan, kemudian gap digunakan untuk membangun kerangka berpikir dan menentukan arah penelitian.

Hubungan Research Gap dengan Novelty

Research gap dan novelty sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Research gap menunjukkan bagian yang masih memiliki keterbatasan atau belum terjawab dalam penelitian sebelumnya. Sementara itu, novelty menunjukkan unsur kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan oleh penelitian baru.

Keduanya memang saling berkaitan. Ketika peneliti menemukan gap, penelitian yang dilakukan dapat dirancang untuk memberikan kontribusi dalam mengisi celah tersebut.

Sebagai contoh, apabila gap ditemukan karena penelitian sebelumnya hanya berfokus pada populasi tertentu, novelty penelitian baru dapat berupa penerapan model pada populasi dengan karakteristik berbeda. Jika gap berasal dari inkonsistensi hasil, penelitian baru dapat memberikan bukti empiris tambahan atau menjelaskan faktor yang mungkin menyebabkan perbedaan.

Karena itu, peneliti sebaiknya tidak mengklaim novelty hanya karena menggunakan lokasi atau objek yang berbeda. Kebaruan perlu dikaitkan dengan gap dan kontribusi ilmiah yang dihasilkan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Proses menemukan research gap dari matriks penelitian terdahulu dapat menjadi kurang efektif apabila peneliti hanya berfokus pada jumlah referensi. Banyaknya jurnal yang dikumpulkan tidak menjamin gap dapat ditemukan.

Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari agar analisis literatur tetap terarah:

  1. Menganggap topik yang belum pernah diteliti sebagai satu-satunya gap. Penelitian baru tidak selalu harus membahas topik yang sepenuhnya baru. Pengembangan teori, metode, konteks, atau penjelasan juga dapat menjadi kontribusi.
  2. Memilih gap berdasarkan keinginan pribadi. Peneliti tidak seharusnya mencari perbedaan yang sekadar mendukung rencana penelitian. Semua klaim harus memiliki dasar literatur.
  3. Hanya membaca abstrak. Abstrak membantu memahami gambaran umum, tetapi informasi mengenai keterbatasan, metode, dan argumentasi sering ditemukan pada bagian lain artikel.
  4. Mengabaikan penelitian yang hasilnya berbeda. Temuan yang bertentangan justru dapat menjadi sumber empirical gap yang penting.
  5. Menambahkan variabel tanpa dasar teori. Variabel baru harus memiliki alasan konseptual, bukan hanya karena belum digunakan penelitian sebelumnya.
  6. Menganggap rekomendasi penelitian sebagai gap secara otomatis. Rekomendasi perlu dinilai kembali berdasarkan relevansi dengan masalah penelitian.

Dengan menghindari kesalahan tersebut, matriks dapat digunakan sebagai alat analisis, bukan hanya sebagai tabel administrasi literatur.

Tips Praktis Menggunakan Matriks untuk Menemukan Gap

Agar proses pencarian research gap lebih mudah, peneliti dapat menggunakan matriks secara bertahap. Jangan menunggu sampai semua artikel terkumpul baru mulai menganalisis. Pola tertentu justru dapat terlihat ketika literatur mulai dibandingkan sejak awal.

Beberapa kebiasaan sederhana juga dapat membantu. Tandai penelitian yang memiliki hasil berbeda, kelompokkan teori yang digunakan, catat konteks penelitian, dan beri perhatian khusus pada keterbatasan yang berulang.

Peneliti juga dapat membuat kolom khusus bernama “Potensi Gap”. Kolom tersebut tidak perlu langsung diisi dengan kesimpulan final. Isinya dapat berupa catatan sementara seperti “hasil tidak konsisten”, “populasi terbatas”, “belum ada mediator”, atau “pendekatan kualitatif masih sedikit”.

Setelah seluruh literatur dianalisis, catatan tersebut dapat dibandingkan kembali untuk menentukan gap yang paling kuat dan paling relevan.

Rekomendasi Penerapan dalam Skripsi dan Tesis

Dalam penyusunan skripsi atau tesis, matriks penelitian terdahulu sebaiknya dibuat sejak tahap awal kajian literatur. Peneliti dapat memperbaruinya setiap kali menemukan sumber baru yang relevan.

Setelah matriks cukup lengkap, lakukan proses sintesis. Jangan hanya bertanya “Apa yang dilakukan penelitian A?” tetapi juga tanyakan “Apa pola yang terlihat dari seluruh penelitian?”, “Bagian mana yang belum konsisten?”, dan “Apa yang belum dijelaskan dengan baik?”

Pertanyaan tersebut membantu mengubah kajian pustaka dari sekadar kumpulan ringkasan menjadi analisis yang memiliki arah.

Pada tahap penulisan, tidak semua isi matriks harus dimasukkan ke dalam naskah penelitian. Pilih informasi yang benar-benar mendukung argumentasi. Hasil akhirnya harus berupa narasi yang menunjukkan perkembangan penelitian, keterbatasan studi sebelumnya, research gap, dan posisi penelitian yang akan dilakukan.

Bagi mahasiswa yang masih kesulitan menentukan gap setelah mengumpulkan banyak jurnal, proses ini juga dapat didiskusikan melalui layanan konsultasi akademik seperti Tesis id. Pendampingan dapat membantu menilai relevansi literatur, menyusun matriks, mengidentifikasi pola, hingga menghubungkan research gap dengan kerangka penelitian secara lebih sistematis.

Baca juga: Matriks Penelitian Terdahulu dari Jurnal untuk Menyusun Kajian Literatur yang Terarah

Kesimpulan

Cara menemukan research gap dari matriks penelitian terdahulu dapat dilakukan dengan membandingkan berbagai aspek penelitian, mulai dari fokus, variabel, teori, metode, objek, hasil, hingga keterbatasan. Matriks membantu peneliti melihat informasi dari banyak artikel secara lebih terstruktur sehingga pola dan perbedaan penelitian menjadi lebih mudah dikenali.

Research gap dapat muncul dalam bentuk empirical gap, theoretical gap, methodological gap, contextual gap, population gap, maupun variable gap. Namun, setiap gap harus memiliki dasar akademik dan relevansi terhadap masalah penelitian. Perbedaan kecil antarpenelitian tidak otomatis dapat disebut sebagai celah penelitian.

Setelah gap ditemukan, peneliti dapat menggunakannya untuk merumuskan masalah penelitian, membangun kerangka berpikir, menentukan novelty, serta menjelaskan kontribusi penelitian. Dengan demikian, matriks penelitian terdahulu bukan sekadar tabel untuk merangkum jurnal, tetapi menjadi alat penting untuk membaca perkembangan literatur dan menemukan alasan ilmiah mengapa penelitian baru perlu dilakukan.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

Scroll to Top