Cara menemukan novelty penelitian melalui matriks penelitian terdahulu menjadi langkah penting ketika peneliti ingin memastikan bahwa penelitian yang dilakukan tidak sekadar mengulang studi sebelumnya. Novelty atau kebaruan penelitian menunjukkan adanya kontribusi baru yang ditawarkan oleh sebuah penelitian, baik melalui pengembangan teori, penggunaan metode, pemilihan objek, pengujian variabel, maupun sudut pandang terhadap suatu fenomena.
Menemukan kebaruan sering kali tidak mudah, terutama ketika peneliti sudah menemukan banyak jurnal dengan topik yang serupa. Ada kemungkinan variabel yang digunakan sudah pernah diteliti, metode yang dipakai juga sudah umum, bahkan objek penelitian memiliki kemiripan. Dalam kondisi seperti ini, matriks penelitian terdahulu dapat membantu peneliti melihat literatur secara lebih menyeluruh.
Matriks tidak hanya berfungsi untuk mencatat judul dan hasil penelitian. Jika disusun dengan tepat, matriks dapat memperlihatkan pola penelitian, persamaan, perbedaan, keterbatasan, dan peluang pengembangan. Dari pola tersebut, peneliti dapat menentukan bagian mana yang dapat menjadi kebaruan dan memberikan kontribusi terhadap bidang ilmu yang dikaji.

Apa Itu Novelty dalam Penelitian?
Novelty penelitian adalah unsur kebaruan yang membuat suatu penelitian memiliki kontribusi berbeda atau tambahan dibandingkan penelitian yang sudah ada. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang benar-benar belum pernah diketahui manusia. Dalam penelitian akademik, novelty dapat berupa pengembangan, pengujian ulang dalam konteks berbeda, pendekatan baru, atau kombinasi konsep yang menghasilkan pemahaman tambahan.
Misalnya, suatu hubungan antara dua variabel sudah banyak diteliti. Penelitian baru tetap dapat memiliki novelty apabila menguji hubungan tersebut pada populasi yang berbeda dan memiliki karakteristik penting, menggunakan pendekatan teoritis yang berbeda, atau mengembangkan model dengan variabel mediator yang relevan.
Karena itu, novelty perlu dilihat dalam konteks penelitian terdahulu. Peneliti tidak dapat menentukan kebaruan hanya berdasarkan penelitian sendiri. Perbandingan dengan literatur diperlukan untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan bagian mana yang masih dapat dikembangkan.
Novelty juga sebaiknya tidak dipaksakan. Menambahkan satu variabel atau mengganti lokasi penelitian tanpa alasan ilmiah belum tentu menghasilkan kontribusi yang berarti. Kebaruan harus memiliki dasar teori, didukung literatur, dan berkaitan dengan masalah penelitian yang ingin dijawab.
Baca juga: Mata kuliah Fakultas Ilmu Sosial: Daftar Mata Kuliah dan Peluang Karier
Mengapa Matriks Penelitian Terdahulu Penting untuk Menemukan Novelty?
Ketika literatur yang dikumpulkan semakin banyak, peneliti akan semakin sulit mengingat detail setiap penelitian. Membaca sepuluh atau dua puluh artikel secara terpisah dapat membuat persamaan dan perbedaan penting sulit terlihat.
Matriks membantu menyatukan informasi tersebut dalam satu struktur. Peneliti dapat mencatat variabel, teori, metode, objek, sampel, hasil, keterbatasan, serta kontribusi setiap penelitian. Ketika informasi tersebut ditempatkan berdampingan, pola penelitian menjadi lebih mudah diamati.
Sebagai ilustrasi, seorang mahasiswa menemukan 15 jurnal yang membahas kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran digital. Setelah disusun dalam matriks, ia melihat bahwa sebagian besar penelitian menggunakan survei kuantitatif, menggunakan variabel kualitas layanan dan kepuasan, serta dilakukan pada mahasiswa perguruan tinggi umum.
Namun, hanya beberapa penelitian yang mempertimbangkan keterlibatan mahasiswa sebagai faktor yang menjelaskan hubungan tersebut. Dari sini muncul sebuah peluang untuk ditelusuri lebih lanjut. Peneliti kemudian perlu memeriksa teori dan literatur untuk memastikan apakah faktor tersebut memang relevan dan dapat menghasilkan kontribusi baru.
Dengan demikian, matriks membantu peneliti berpindah dari aktivitas “mengumpulkan jurnal” menuju proses “menganalisis perkembangan penelitian”.
Perbedaan Novelty dan Research Gap
Novelty dan research gap memiliki hubungan yang erat, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Research gap menunjukkan adanya celah, keterbatasan, atau persoalan yang belum terjawab secara memadai dalam penelitian sebelumnya. Sementara itu, novelty menunjukkan kebaruan yang ditawarkan penelitian untuk memberikan kontribusi terhadap celah tersebut.
Hubungan keduanya dapat dipahami secara sederhana. Research gap menjawab pertanyaan, “Bagian mana yang masih perlu diteliti?” Novelty kemudian menjawab, “Apa yang baru dari penelitian yang dilakukan untuk membantu mengisi bagian tersebut?”
Sebagai contoh, matriks penelitian menunjukkan bahwa hasil penelitian tentang hubungan kualitas layanan dan loyalitas pengguna masih tidak konsisten. Kondisi tersebut dapat menjadi research gap empiris. Penelitian baru kemudian dapat menawarkan novelty dengan menguji hubungan tersebut menggunakan variabel moderator tertentu yang secara teoritis dapat menjelaskan perbedaan hasil.
Karena itu, peneliti sebaiknya tidak langsung mengklaim novelty sebelum menemukan gap. Kebaruan yang kuat biasanya lahir dari pemahaman terhadap penelitian sebelumnya dan kebutuhan untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah tersedia.
Menentukan Kolom Matriks yang Mendukung Pencarian Novelty
Matriks penelitian terdahulu dapat dibuat dengan berbagai format. Namun, jika tujuan utamanya adalah menemukan kebaruan, beberapa informasi perlu dicatat secara lebih terarah.
Peneliti sebaiknya tidak hanya mencatat identitas artikel, tetapi juga informasi yang memungkinkan perbandingan antarpublikasi. Semakin relevan kolom yang digunakan, semakin mudah pula peluang novelty terlihat.
Beberapa aspek yang dapat dimasukkan antara lain:
- Fokus dan tujuan penelitian, untuk mengetahui masalah yang sudah banyak diteliti.
- Variabel atau konsep, untuk melihat hubungan dan kombinasi variabel yang telah digunakan.
- Landasan teori, untuk mengetahui teori yang dominan maupun perspektif yang masih jarang digunakan.
- Metode dan teknik analisis, untuk melihat pendekatan yang umum digunakan.
- Objek dan populasi, untuk menemukan konteks yang masih terbatas.
- Hasil penelitian, untuk melihat temuan yang konsisten dan tidak konsisten.
- Keterbatasan penelitian, untuk menemukan peluang pengembangan.
- Rekomendasi penelitian selanjutnya, untuk mengetahui arah pengembangan yang disarankan peneliti sebelumnya.
- Kontribusi atau novelty penelitian, jika penulis artikel secara eksplisit menjelaskannya.
Setelah informasi tersebut terkumpul, peneliti dapat mulai membandingkan setiap penelitian. Tujuannya bukan sekadar mencari penelitian yang paling mirip, tetapi menemukan bagian yang belum dikembangkan secara optimal.
Melihat Pola Variabel dalam Matriks
Salah satu cara menemukan kebaruan adalah melihat pola variabel yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Perhatikan variabel apa yang paling sering muncul, hubungan apa yang paling banyak diuji, dan kombinasi variabel apa yang masih jarang digunakan.
Misalnya, dari 20 artikel diketahui bahwa sebagian besar penelitian menguji hubungan X terhadap Y. Beberapa penelitian menambahkan Z sebagai variabel independen, tetapi hanya sedikit yang menempatkan Z sebagai mediator.
Kondisi tersebut dapat menjadi peluang, tetapi belum tentu langsung menjadi novelty. Peneliti harus kembali pada teori untuk mengetahui apakah Z memang memiliki mekanisme yang memungkinkan menjadi mediator.
Hal yang sama berlaku ketika peneliti ingin menambahkan variabel baru. Variabel tersebut harus memiliki alasan konseptual dan empiris. Jika hanya ditambahkan karena belum pernah digunakan, kontribusinya akan sulit dipertanggungjawabkan.
Matriks membantu peneliti melihat pola tersebut secara cepat. Daripada mengandalkan ingatan terhadap setiap artikel, peneliti dapat melihat distribusi variabel dan hubungan yang sudah sering diuji.
Menemukan Kebaruan dari Pengembangan Model Penelitian
Novelty dapat muncul melalui pengembangan model penelitian. Model yang digunakan oleh penelitian terdahulu dapat dianalisis untuk mengetahui hubungan yang sudah mapan dan bagian yang masih dapat dikembangkan.
Sebagai contoh, penelitian sebelumnya banyak menggunakan model sederhana yang menghubungkan X dengan Y. Setelah membaca teori dan penelitian terkait, peneliti menemukan bahwa terdapat variabel Z yang secara teoritis dapat menjelaskan bagaimana X berhubungan dengan Y.
Peneliti kemudian dapat mengembangkan model dengan memasukkan Z sebagai mediator. Dalam kondisi ini, kebaruan bukan sekadar penambahan variabel, melainkan adanya upaya menjelaskan mekanisme hubungan yang sebelumnya belum banyak dikaji.
Pengembangan model juga dapat dilakukan melalui moderator. Apabila hubungan X dan Y tampak berbeda pada kondisi tertentu, variabel moderator dapat digunakan untuk menguji apakah karakteristik tertentu memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut.
Namun, model baru harus tetap memiliki dasar teoritis. Matriks membantu menunjukkan apa yang sudah dilakukan penelitian sebelumnya, sedangkan teori membantu menentukan apakah pengembangan model tersebut masuk akal.
Membandingkan Teori untuk Menemukan Sudut Pandang Baru
Teori merupakan salah satu sumber novelty yang sering kali kurang diperhatikan. Peneliti terkadang hanya berfokus pada variabel dan metode, padahal penggunaan perspektif teoritis tertentu dapat menghasilkan penjelasan yang berbeda.
Perhatikan apakah penelitian terdahulu selalu menggunakan teori yang sama. Jika suatu fenomena hampir selalu dijelaskan menggunakan satu perspektif, peneliti dapat mengeksplorasi teori alternatif yang memang relevan.
Sebagai contoh, penelitian mengenai penerimaan teknologi mungkin didominasi oleh teori yang berfokus pada persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan. Peneliti dapat mempertimbangkan perspektif lain apabila fenomena tersebut juga dipengaruhi oleh faktor sosial, kepercayaan, atau aspek perilaku tertentu.
Penggunaan teori baru tidak otomatis menjadi novelty. Teori tersebut harus mampu menjelaskan aspek yang belum diterangkan secara memadai oleh penelitian sebelumnya. Dengan demikian, theoretical novelty harus dibangun melalui argumentasi, bukan sekadar mengganti nama teori.
Menemukan Kebaruan dari Perbedaan Objek dan Konteks
Konteks penelitian juga dapat menjadi sumber kebaruan. Sebuah model mungkin sudah banyak digunakan, tetapi belum tentu telah diuji pada semua jenis populasi atau lingkungan.
Misalnya, suatu model mengenai kepuasan pengguna sudah banyak diuji pada sektor perbankan. Penelitian baru dapat menguji model tersebut pada layanan pendidikan digital apabila terdapat alasan teoritis dan empiris yang membuat konteks tersebut penting.
Perbedaan konteks menjadi lebih bermakna apabila karakteristik objek dapat memengaruhi hubungan antarvariabel. Jika hasil penelitian sebelumnya sangat bergantung pada karakteristik populasi, pengujian pada konteks berbeda dapat memberikan kontribusi untuk mengetahui apakah temuan tersebut dapat diterapkan secara lebih luas.
Karena itu, novelty berbasis konteks sebaiknya tidak hanya menggunakan alasan “belum pernah diteliti di lokasi ini”. Peneliti perlu menjelaskan mengapa lokasi, populasi, sektor, atau karakteristik tersebut penting secara ilmiah.
Menganalisis Perbedaan Metode sebagai Sumber Kebaruan
Selain variabel dan teori, metode penelitian dapat menjadi sumber novelty apabila terdapat alasan yang jelas untuk menggunakan pendekatan berbeda. Matriks penelitian terdahulu dapat memperlihatkan apakah suatu topik selama ini lebih sering diteliti menggunakan survei, wawancara, eksperimen, studi kasus, atau pendekatan lainnya.
Misalnya, sebagian besar penelitian tentang suatu fenomena menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kuesioner. Peneliti dapat mempertimbangkan pendekatan kualitatif apabila pertanyaan penelitian membutuhkan pemahaman mengenai pengalaman, alasan, atau proses yang tidak dapat dijelaskan secara memadai melalui angka.
Sebaliknya, jika penelitian sebelumnya sebagian besar menggunakan wawancara pada sampel yang terbatas, penelitian kuantitatif dapat memberikan kontribusi berbeda apabila peneliti ingin menguji pola hubungan pada populasi yang lebih luas.
Perbedaan metode baru dapat disebut sebagai novelty apabila metode tersebut mampu menjawab keterbatasan penelitian sebelumnya. Jadi, bukan sekadar mengganti metode, tetapi menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan memberikan informasi atau pemahaman tambahan.
Menggunakan Keterbatasan Penelitian untuk Menemukan Kebaruan
Kolom keterbatasan dalam matriks penelitian terdahulu merupakan salah satu bagian yang perlu diperhatikan ketika mencari novelty. Peneliti sebelumnya sering kali menjelaskan keterbatasan penelitian sekaligus memberikan rekomendasi untuk penelitian berikutnya.
Misalnya, sebuah penelitian hanya dilakukan pada satu institusi sehingga hasilnya memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi. Penelitian berikutnya dapat mengembangkan cakupan populasi atau membandingkan beberapa institusi untuk melihat apakah hasil sebelumnya tetap berlaku.
Contoh lain adalah penelitian yang hanya menggunakan satu metode pengumpulan data. Penelitian baru dapat mengombinasikan beberapa sumber data apabila hal tersebut dapat memberikan gambaran fenomena yang lebih komprehensif.
Namun, tidak semua rekomendasi penelitian terdahulu harus dijadikan novelty. Peneliti perlu memilih rekomendasi yang paling relevan dengan tujuan penelitian dan memiliki nilai kontribusi. Dengan cara ini, novelty tidak terasa dipaksakan hanya karena mengikuti saran dari artikel sebelumnya.
Membandingkan Kontribusi Setiap Penelitian
Setelah matriks berisi cukup banyak penelitian, peneliti dapat membuat perbandingan kontribusi. Tujuannya adalah mengetahui apa yang sudah berhasil diberikan oleh penelitian sebelumnya dan bagian mana yang masih dapat dikembangkan.
Perbandingan tersebut dapat dilakukan dengan melihat beberapa aspek berikut.
| Aspek | Pertanyaan yang Perlu Dianalisis | Potensi Novelty |
|---|---|---|
| Variabel | Variabel apa yang sudah sering digunakan? | Kombinasi atau hubungan variabel yang belum banyak diuji |
| Teori | Teori apa yang dominan? | Perspektif teori yang relevan tetapi masih terbatas |
| Metode | Pendekatan apa yang paling sering digunakan? | Pendekatan berbeda untuk menjawab keterbatasan tertentu |
| Objek | Populasi atau sektor apa yang dominan? | Konteks dengan karakteristik ilmiah yang berbeda |
| Hasil | Apakah temuan penelitian konsisten? | Pengujian atau penjelasan terhadap hasil yang berbeda |
| Model | Apakah hubungan antarvariabel masih sederhana? | Pengembangan mediator, moderator, atau hubungan lain |
| Keterbatasan | Apa kelemahan yang sering muncul? | Pengembangan desain untuk mengatasi keterbatasan |
Matriks tersebut menunjukkan bahwa novelty dapat ditemukan dari berbagai sisi. Peneliti tidak harus menggunakan seluruh aspek sekaligus. Pilih bagian yang paling relevan dengan masalah penelitian dan memiliki dukungan teori yang memadai.
Menguji Apakah Novelty Benar-Benar Baru
Salah satu masalah dalam penyusunan penelitian adalah klaim novelty yang ternyata sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain. Karena itu, setelah menemukan kandidat kebaruan dari matriks, peneliti perlu melakukan pemeriksaan kembali.
Misalnya, peneliti merasa menemukan novelty karena menggabungkan tiga variabel yang belum pernah muncul bersamaan dalam beberapa jurnal yang telah dibaca. Sebelum menyatakan bahwa model tersebut baru, peneliti perlu memperluas pencarian literatur.
Hal ini penting karena matriks yang dibuat berdasarkan sejumlah artikel belum tentu mencakup seluruh penelitian yang tersedia. Bisa saja terdapat artikel lain yang menggunakan kombinasi variabel yang sama tetapi belum ditemukan.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa kombinasi kata kunci, sinonim, istilah teknis, dan variasi nama variabel. Peneliti juga perlu memperhatikan penelitian dari tahun yang lebih baru agar klaim kebaruan tidak didasarkan pada literatur yang sudah tertinggal.
Semakin kuat proses verifikasi dilakukan, semakin aman pula klaim novelty yang dibuat dalam proposal, tesis, atau artikel ilmiah.
Menghubungkan Novelty dengan Research Gap
Novelty yang kuat biasanya memiliki hubungan yang jelas dengan research gap. Jika gap menunjukkan adanya keterbatasan tertentu, novelty harus menunjukkan bagaimana penelitian baru memberikan respons terhadap keterbatasan tersebut.
Sebagai contoh, matriks menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya memberikan hasil yang berbeda mengenai hubungan X dan Y. Research gap-nya adalah inkonsistensi temuan. Penelitian baru kemudian menawarkan model dengan variabel moderator Z untuk menguji apakah perbedaan kondisi dapat menjelaskan ketidakkonsistenan tersebut.
Dalam contoh tersebut, novelty bukan sekadar “menggunakan variabel Z”. Kebaruannya terletak pada upaya menjelaskan mengapa hubungan X dan Y menghasilkan temuan yang berbeda melalui mekanisme atau kondisi tertentu.
Hubungan antara gap dan novelty membuat argumentasi penelitian menjadi lebih logis. Peneliti dapat menunjukkan masalah yang ditemukan dalam literatur, kemudian menjelaskan kontribusi yang akan diberikan penelitian.
Cara Menulis Argumentasi Novelty dalam Proposal atau Tesis
Setelah kebaruan ditemukan, peneliti perlu menyampaikannya dalam bentuk argumentasi yang jelas. Hindari menulis klaim seperti “Penelitian ini sangat baru” tanpa menunjukkan bukti.
Argumentasi dapat dimulai dengan menjelaskan perkembangan penelitian sebelumnya. Setelah itu, tunjukkan pola yang ditemukan dari matriks, misalnya dominasi teori tertentu, keterbatasan konteks, hasil yang belum konsisten, atau model yang masih sederhana.
Selanjutnya, jelaskan posisi penelitian yang akan dilakukan. Terangkan bagian mana yang berbeda dan mengapa perbedaan tersebut penting. Pada bagian akhir, jelaskan kontribusi yang diharapkan.
Pola argumentasi tersebut dapat membantu pembaca memahami hubungan antara literatur dan penelitian baru. Dengan demikian, novelty tidak hanya menjadi pernyataan, tetapi menjadi kesimpulan logis dari proses kajian literatur.
Contoh Sederhana Menentukan Novelty
Bayangkan seorang mahasiswa ingin meneliti pengaruh kualitas layanan digital terhadap kepuasan mahasiswa. Ia menemukan 20 penelitian terdahulu dan memasukkannya ke dalam matriks.
Dari matriks terlihat bahwa sebagian besar penelitian menguji hubungan langsung antara kualitas layanan dan kepuasan. Sebagian besar juga menggunakan pendekatan kuantitatif dan responden mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu.
Namun, beberapa penelitian menghasilkan hubungan yang berbeda. Setelah dianalisis, perbedaan tersebut tampak berkaitan dengan tingkat keterlibatan pengguna dalam menggunakan layanan digital.
Peneliti kemudian menelusuri teori yang relevan dan menemukan dasar konseptual bahwa keterlibatan pengguna dapat berperan dalam hubungan tersebut. Dari sini, penelitian dapat dikembangkan dengan memasukkan keterlibatan pengguna sebagai mediator atau moderator, sesuai argumentasi teoritis dan desain penelitian.
Dalam contoh tersebut, matriks membantu menemukan pola, research gap membantu menjelaskan masalah yang belum terselesaikan, sedangkan novelty menjadi bentuk kontribusi yang ditawarkan untuk menjawab masalah tersebut.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Menentukan novelty tidak cukup dengan menemukan satu perbedaan dari penelitian terdahulu. Ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari agar kebaruan yang diklaim benar-benar memiliki nilai akademik.
- Menganggap lokasi baru otomatis menjadi novelty. Mengganti lokasi penelitian tanpa alasan ilmiah yang kuat biasanya belum cukup untuk menunjukkan kontribusi baru.
- Menambahkan variabel secara sembarangan. Variabel baru harus memiliki dasar teori dan relevansi terhadap fenomena yang dikaji.
- Hanya membandingkan judul penelitian. Judul yang berbeda tidak berarti penelitian memiliki kontribusi yang berbeda. Peneliti perlu membandingkan teori, metode, objek, hasil, dan model penelitian.
- Tidak memeriksa literatur terbaru. Klaim novelty dapat menjadi lemah apabila ternyata sudah ada penelitian terbaru yang melakukan hal serupa.
- Kesalahan terakhir adalah menganggap novelty harus selalu sangat besar. Dalam penelitian akademik, kebaruan yang spesifik tetapi dapat dibuktikan sering kali lebih kuat daripada klaim kebaruan yang terlalu luas.
Tips Praktis Menemukan Novelty dari Matriks
Agar proses pencarian kebaruan lebih mudah, peneliti dapat memperlakukan matriks sebagai alat berpikir, bukan sekadar tabel. Setelah mengisi informasi dari berbagai artikel, luangkan waktu untuk mencari pola yang berulang dan bagian yang berbeda.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu memperjelas hasil analisis:
- Tandai pola dominan. Catat teori, variabel, metode, dan objek yang paling sering muncul.
- Tandai bagian yang berbeda. Berikan perhatian khusus pada penelitian dengan hasil, metode, atau konteks yang berbeda.
- Catat peluang pengembangan. Buat kolom khusus untuk menuliskan kemungkinan model, variabel, teori, atau konteks yang dapat dikembangkan.
- Hubungkan dengan teori. Pastikan setiap kandidat novelty memiliki alasan konseptual yang jelas.
- Verifikasi kembali literatur. Cari penelitian lain yang mungkin sudah menguji ide serupa sebelum menetapkan klaim kebaruan.
Langkah tersebut membantu peneliti menghindari kesimpulan yang terlalu cepat. Novelty sebaiknya ditemukan melalui proses bertahap, bukan ditentukan terlebih dahulu kemudian mencari jurnal yang mendukungnya.
Menempatkan Novelty dalam Kerangka Penelitian
Setelah novelty ditentukan, peneliti perlu memastikan bahwa kebaruan tersebut tercermin dalam kerangka penelitian. Jika novelty berupa penambahan variabel, variabel tersebut harus muncul dalam model konseptual dan memiliki hubungan yang dijelaskan melalui teori.
Jika novelty berkaitan dengan metode, desain penelitian harus benar-benar menunjukkan perbedaan tersebut. Begitu pula jika kebaruan terletak pada konteks, karakteristik objek penelitian harus memiliki alasan yang relevan.
Artinya, novelty tidak boleh berhenti pada bagian latar belakang. Kebaruan harus konsisten dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, kerangka berpikir, hipotesis atau pertanyaan penelitian, metode, hingga pembahasan hasil.
Konsistensi tersebut membuat kontribusi penelitian lebih mudah dinilai. Pembaca dapat melihat bahwa kebaruan yang diklaim memang diwujudkan melalui desain penelitian dan bukan sekadar pernyataan dalam proposal.
Rekomendasi Penerapan untuk Skripsi dan Tesis
Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tesis, matriks penelitian terdahulu sebaiknya dibuat sejak tahap awal pencarian literatur. Jangan menunggu sampai Bab 2 selesai untuk mulai membandingkan penelitian.
Setiap kali menemukan jurnal yang relevan, catat informasi penting secara konsisten. Setelah jumlah penelitian cukup, lakukan sintesis untuk melihat pola variabel, teori, metode, konteks, dan hasil.
Selanjutnya, pilih kandidat novelty yang paling kuat. Kandidat tersebut perlu diuji kembali melalui literatur yang lebih luas dan dikaitkan dengan teori. Jika sudah memiliki dasar yang memadai, kebaruan dapat dirumuskan sebagai bagian dari kontribusi penelitian.
Bagi peneliti yang masih kesulitan menentukan kebaruan setelah membaca banyak jurnal, konsultasi akademik juga dapat membantu proses tersebut. Layanan seperti Tesis id dapat menjadi salah satu pilihan pendampingan untuk membantu mengorganisasi literatur, membaca research gap, menyusun matriks, dan mengembangkan arah penelitian secara lebih sistematis.
Baca juga: Matriks Penelitian Terdahulu dan Research Gap untuk Menemukan Celah Penelitian
Kesimpulan
Cara menemukan novelty penelitian melalui matriks penelitian terdahulu dapat dilakukan dengan membandingkan berbagai aspek studi sebelumnya, mulai dari variabel, teori, metode, objek, hasil, model, hingga keterbatasan. Dari perbandingan tersebut, peneliti dapat menemukan pola dominan sekaligus peluang pengembangan yang belum banyak dilakukan.
Novelty yang kuat tidak hanya berasal dari perbedaan lokasi atau penambahan variabel. Kebaruan harus memiliki dasar teori, berkaitan dengan research gap, dapat diverifikasi melalui literatur, dan diwujudkan secara konsisten dalam desain penelitian.
Dengan menggunakan matriks secara sistematis, proses menemukan kebaruan menjadi lebih terarah. Peneliti tidak lagi sekadar bertanya apakah topiknya sudah pernah diteliti, tetapi dapat melihat apa yang sudah diketahui, apa yang masih terbatas, dan kontribusi apa yang dapat diberikan oleh penelitian baru. Pada akhirnya, proses inilah yang membuat penelitian memiliki posisi akademik yang lebih jelas dan alasan ilmiah yang lebih kuat untuk dilakukan.
Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

