Bagaimana mengubah tesis menjadi artikel Scopus?

Banyak mahasiswa magister maupun doktor menganggap bahwa tesis atau disertasi merupakan akhir dari perjalanan penelitian. Setelah sidang selesai dan dinyatakan lulus, dokumen penelitian sering kali hanya tersimpan di repositori kampus tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Padahal, di balik ratusan halaman tesis tersebut terdapat potensi besar untuk dikembangkan menjadi artikel ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks Scopus.

Mengubah tesis menjadi artikel Scopus bukan sekadar menyalin beberapa bab ke dalam format jurnal. Proses ini membutuhkan penyusunan ulang naskah, penyederhanaan isi, penyesuaian dengan pedoman jurnal tujuan, serta penekanan pada kontribusi ilmiah yang menjadi nilai utama sebuah artikel internasional. Dengan kata lain, artikel Scopus harus mampu menyampaikan hasil penelitian secara ringkas, tajam, dan relevan bagi pembaca global.

Publikasi pada jurnal Scopus memberikan banyak manfaat. Selain meningkatkan rekam jejak akademik penulis, artikel yang diterbitkan juga berpotensi menjadi referensi bagi peneliti lain, memperluas jejaring akademik, hingga mendukung persyaratan kelulusan atau kenaikan jabatan akademik di beberapa perguruan tinggi.

Lalu, bagaimana cara mengubah tesis menjadi artikel Scopus yang layak dipublikasikan? Apa saja bagian yang perlu diubah, dipersingkat, atau bahkan dihilangkan? Artikel ini akan membahas langkah-langkahnya secara sistematis, mulai dari memahami perbedaan tesis dan artikel jurnal hingga strategi meningkatkan peluang diterima oleh jurnal internasional bereputasi.

Bagaimana mengubah tesis menjadi artikel Scopus?

Memahami Perbedaan antara Tesis dan Artikel Scopus

Sebelum mulai menyusun artikel, penting untuk memahami bahwa tesis dan artikel jurnal memiliki tujuan yang berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi alasan mengapa tesis tidak dapat langsung dikirim ke jurnal tanpa proses penyesuaian.

Tesis disusun untuk menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian secara menyeluruh. Oleh karena itu, isinya sangat lengkap, mulai dari latar belakang yang panjang, kajian pustaka yang mendalam, metodologi yang rinci, hingga berbagai lampiran pendukung.

Sebaliknya, artikel Scopus bertujuan menyampaikan temuan penelitian secara ringkas, fokus, dan memberikan kontribusi yang jelas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Editor dan reviewer jurnal lebih tertarik pada kebaruan penelitian (novelty), metodologi yang tepat, kualitas analisis, serta implikasi hasil penelitian dibandingkan uraian yang terlalu panjang.

Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Aspek Tesis Artikel Scopus
Tujuan Memenuhi syarat akademik Menyebarluaskan hasil penelitian
Panjang naskah 100–300 halaman atau lebih Umumnya 5.000–8.000 kata
Kajian pustaka Sangat rinci Ringkas dan relevan
Metodologi Dijelaskan secara lengkap Fokus pada informasi penting
Hasil dan pembahasan Sangat detail Menonjolkan temuan utama
Pembaca Dosen pembimbing dan penguji Komunitas ilmiah internasional

Melalui perbandingan tersebut dapat dipahami bahwa proses konversi tesis menjadi artikel bukan sekadar mengurangi jumlah halaman, melainkan mengubah cara penyajian hasil penelitian agar sesuai dengan standar publikasi internasional.

Baca juga: Template Tesis Terbaru: Format Penulisan yang Sesuai Standar Akademik

Mengapa Tesis Layak Dikembangkan Menjadi Artikel Scopus?

Banyak penelitian tesis memiliki kualitas yang sangat baik, tetapi tidak pernah dipublikasikan. Akibatnya, hasil penelitian tersebut hanya dimanfaatkan oleh sedikit orang, padahal temuan yang diperoleh berpotensi memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan.

Dengan mengubah tesis menjadi artikel Scopus, hasil penelitian dapat menjangkau pembaca dari berbagai negara. Penelitian yang dipublikasikan juga memiliki peluang lebih besar untuk disitasi oleh peneliti lain, sehingga meningkatkan dampak ilmiah dari karya tersebut.

Selain itu, banyak institusi pendidikan tinggi yang mendorong lulusannya untuk memublikasikan hasil penelitian sebagai bagian dari budaya akademik. Publikasi internasional juga dapat menjadi nilai tambah ketika melanjutkan studi, mengikuti hibah penelitian, atau mengembangkan karier sebagai dosen maupun peneliti.

Oleh karena itu, menjadikan tesis sebagai artikel ilmiah merupakan langkah yang sangat strategis dibandingkan membiarkan hasil penelitian hanya tersimpan sebagai arsip.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Menentukan Fokus Artikel Sejak Awal

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah mencoba memasukkan seluruh isi tesis ke dalam satu artikel. Padahal, artikel jurnal memiliki keterbatasan jumlah kata sehingga hanya dapat memuat temuan yang paling penting.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan fokus utama artikel. Tanyakan kepada diri sendiri, apa kontribusi paling signifikan dari penelitian tersebut? Apakah penelitian menawarkan model baru, menjelaskan hubungan antarvariabel yang belum banyak dikaji, atau memberikan solusi terhadap suatu permasalahan?

Dengan menentukan fokus sejak awal, proses penyusunan artikel menjadi lebih terarah. Penulis tidak perlu memasukkan seluruh hasil analisis, tetapi cukup memilih bagian yang benar-benar mendukung tujuan artikel.

Dalam beberapa kasus, satu tesis bahkan dapat menghasilkan lebih dari satu artikel apabila memiliki beberapa temuan yang berbeda dan masing-masing memiliki kontribusi ilmiah yang kuat.

Menyusun Struktur Artikel Sesuai Standar Jurnal

Setelah menentukan fokus penelitian, langkah berikutnya adalah menyusun ulang struktur naskah agar sesuai dengan format artikel jurnal internasional.

Umumnya, artikel Scopus mengikuti struktur IMRAD (Introduction, Methods, Results, and Discussion). Struktur ini dirancang agar pembaca dapat memahami penelitian secara cepat tanpa harus membaca penjelasan yang terlalu panjang.

Bagian pendahuluan perlu menjelaskan latar belakang secara singkat, menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap), serta menyampaikan tujuan penelitian dengan jelas. Berbeda dengan tesis yang sering memuat puluhan halaman pendahuluan, artikel jurnal biasanya hanya mengalokasikan beberapa halaman untuk bagian ini.

Metode penelitian juga perlu disajikan secara ringkas. Penulis cukup menjelaskan desain penelitian, karakteristik responden, teknik pengumpulan data, instrumen yang digunakan, serta metode analisis yang diterapkan. Penjelasan yang terlalu rinci, seperti prosedur administratif atau uraian teknis yang tidak berkaitan langsung dengan penelitian, dapat dihilangkan.

Sementara itu, bagian hasil dan pembahasan menjadi inti artikel. Temuan utama perlu disajikan secara sistematis, kemudian dibandingkan dengan penelitian terdahulu untuk menunjukkan kontribusi ilmiahnya.

Bagian Tesis yang Perlu Dipersingkat

Tidak semua bagian dalam tesis perlu dipindahkan ke artikel jurnal. Justru salah satu keterampilan penting dalam menulis artikel adalah memilih informasi yang benar-benar relevan.

Beberapa bagian yang umumnya perlu dipersingkat antara lain sebagai berikut.

  • Latar belakang yang terlalu panjang.
  • Kajian pustaka yang berisi banyak teori pendukung.
  • Penjelasan definisi yang sudah umum diketahui dalam bidang ilmu tertentu.
  • Uraian metodologi yang terlalu rinci.
  • Tabel dan grafik yang tidak mendukung temuan utama.
  • Lampiran penelitian.
  • Pembahasan yang berulang.

Dengan mengurangi bagian-bagian tersebut, artikel akan menjadi lebih fokus dan mudah dipahami oleh pembaca internasional.

Namun, proses penyederhanaan harus tetap mempertahankan informasi penting yang mendukung argumen penelitian. Jangan sampai artikel menjadi terlalu singkat sehingga kehilangan konteks ilmiahnya.

Menonjolkan Kebaruan Penelitian (Novelty)

Salah satu faktor yang paling diperhatikan oleh editor dan reviewer jurnal Scopus adalah adanya kebaruan penelitian. Mereka ingin mengetahui apa kontribusi baru yang diberikan oleh artikel dibandingkan penelitian sebelumnya.

Oleh karena itu, penulis perlu menjelaskan dengan tegas letak kebaruan penelitiannya. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan teori baru. Dalam banyak penelitian, novelty dapat berupa penggunaan objek penelitian yang berbeda, penerapan metode analisis yang lebih mutakhir, pengembangan model konseptual, atau temuan empiris yang belum pernah dilaporkan pada konteks tertentu.

Kebaruan tersebut sebaiknya sudah mulai diperkenalkan sejak bagian pendahuluan, kemudian diperkuat dalam pembahasan melalui perbandingan dengan hasil penelitian terdahulu. Dengan cara ini, reviewer akan lebih mudah memahami alasan mengapa artikel tersebut layak dipublikasikan pada jurnal internasional.

Memilih Jurnal Scopus yang Tepat

Setelah artikel selesai disusun, langkah berikutnya adalah memilih jurnal Scopus yang sesuai dengan topik penelitian. Tahap ini sangat penting karena kualitas artikel saja tidak cukup apabila dikirim ke jurnal yang ruang lingkup (scope)-nya tidak sesuai.

Sebelum melakukan pengiriman (submission), pelajari terlebih dahulu fokus dan cakupan jurnal yang dituju. Bacalah beberapa artikel yang telah diterbitkan untuk memahami jenis penelitian yang umumnya diterima. Perhatikan pula pedoman penulis (author guidelines), seperti format naskah, gaya sitasi, jumlah kata, struktur artikel, hingga ketentuan penyajian tabel dan gambar.

Selain kesesuaian topik, penulis juga perlu mempertimbangkan reputasi jurnal, waktu proses penelaahan (review), tingkat penerimaan (acceptance rate), serta persyaratan biaya publikasi apabila ada. Memilih jurnal yang tepat sejak awal dapat meningkatkan peluang artikel diterima sekaligus menghindari penolakan akibat ketidaksesuaian ruang lingkup.

Menyesuaikan Gaya Penulisan dengan Standar Internasional

Artikel yang berasal dari tesis sering kali masih mempertahankan gaya penulisan akademik yang terlalu panjang dan deskriptif. Padahal, jurnal internasional umumnya mengutamakan tulisan yang padat, jelas, dan langsung mengarah pada inti pembahasan.

Oleh karena itu, setiap paragraf perlu memiliki tujuan yang jelas. Pendahuluan harus menunjukkan latar belakang dan research gap secara ringkas. Bagian metode cukup menjelaskan informasi yang diperlukan agar penelitian dapat dipahami dan direplikasi. Pada bagian hasil dan pembahasan, fokus utama adalah menjelaskan temuan penelitian serta kontribusinya terhadap teori maupun praktik.

Penggunaan bahasa juga perlu diperhatikan. Apabila jurnal yang dituju menggunakan bahasa Inggris, pastikan terjemahan dilakukan secara akademis dan tidak hanya mengandalkan penerjemah otomatis. Struktur kalimat, pemilihan istilah, serta konsistensi penggunaan istilah ilmiah harus diperiksa kembali agar mudah dipahami oleh pembaca internasional.

Selain itu, hindari penggunaan kalimat yang berulang, penjelasan yang terlalu panjang, dan informasi yang tidak mendukung tujuan penelitian. Tulisan yang efektif akan memudahkan editor dan reviewer memahami nilai ilmiah artikel.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mengubah Tesis Menjadi Artikel Scopus

Proses konversi tesis menjadi artikel ilmiah memiliki tantangan tersendiri. Banyak penulis mengalami penolakan bukan karena kualitas penelitiannya rendah, melainkan karena artikel belum memenuhi standar publikasi internasional.

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan antara lain sebagai berikut.

  • Mengirimkan isi tesis hampir tanpa penyuntingan.
  • Memasukkan terlalu banyak teori sehingga pembahasan menjadi tidak fokus.
  • Tidak menjelaskan research gap dan kebaruan penelitian secara tegas.
  • Menggunakan referensi yang sudah terlalu lama tanpa didukung literatur terbaru.
  • Menyajikan terlalu banyak tabel dan hasil analisis yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan artikel.
  • Tidak mengikuti pedoman penulisan jurnal yang dituju.
  • Mengabaikan kualitas bahasa akademik, terutama pada artikel berbahasa Inggris.
  • Tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadap sitasi, daftar pustaka, dan konsistensi format.

Kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila penulis meluangkan waktu untuk mempelajari karakteristik jurnal tujuan sebelum melakukan submission. Proses penyuntingan yang baik sering kali memberikan pengaruh besar terhadap peluang artikel untuk diterima.

Tips Meningkatkan Peluang Artikel Diterima di Jurnal Scopus

Publikasi pada jurnal Scopus merupakan proses yang kompetitif. Oleh karena itu, penulis perlu mempersiapkan artikel secara matang agar memiliki peluang yang lebih besar untuk lolos proses penelaahan.

Beberapa langkah berikut dapat diterapkan.

  • Pilih jurnal yang benar-benar sesuai dengan bidang penelitian.
  • Perbarui kajian pustaka menggunakan referensi ilmiah terbaru, terutama dari jurnal internasional bereputasi.
  • Tunjukkan dengan jelas kontribusi dan kebaruan penelitian.
  • Sajikan hasil analisis secara logis dan didukung oleh pembahasan yang kritis.
  • Pastikan seluruh sitasi dan daftar pustaka ditulis sesuai gaya yang diminta jurnal.
  • Lakukan penyuntingan bahasa secara menyeluruh sebelum mengirimkan artikel.
  • Mintalah masukan dari dosen pembimbing atau rekan peneliti sebelum proses submission.
  • Siapkan diri untuk melakukan revisi apabila memperoleh masukan dari editor maupun reviewer.

Perlu dipahami bahwa revisi merupakan bagian yang wajar dalam proses publikasi ilmiah. Banyak artikel berkualitas yang diterima setelah melalui beberapa putaran perbaikan. Oleh karena itu, komentar dari reviewer sebaiknya dipandang sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas artikel, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap penelitian.

Ilustrasi Proses Mengubah Tesis Menjadi Artikel Scopus

Sebagai contoh, seorang mahasiswa menyelesaikan tesis mengenai pengaruh transformasi digital terhadap kinerja usaha mikro dan kecil. Tesis tersebut memiliki panjang sekitar 180 halaman dengan lima bab utama serta beberapa lampiran.

Ketika akan dipublikasikan, penulis tidak memindahkan seluruh isi tesis ke dalam artikel. Ia memilih satu fokus utama, yaitu hubungan antara transformasi digital dan peningkatan kinerja usaha. Latar belakang dipersingkat menjadi beberapa paragraf yang langsung menunjukkan kesenjangan penelitian. Kajian pustaka diringkas dengan hanya mempertahankan teori yang relevan. Metode dijelaskan secara singkat, sedangkan bagian hasil difokuskan pada temuan yang paling penting.

Selanjutnya, penulis membandingkan hasil penelitiannya dengan penelitian terdahulu dan menjelaskan kontribusi baru yang dihasilkan. Setelah melalui proses penyuntingan bahasa dan penyesuaian format sesuai pedoman jurnal, artikel dikirimkan ke jurnal Scopus yang memiliki ruang lingkup sesuai dengan topik penelitian.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa proses konversi tesis menjadi artikel bukan sekadar mengurangi jumlah halaman, melainkan menyusun kembali penelitian agar lebih fokus, ringkas, dan memiliki daya tarik ilmiah yang tinggi.

Rekomendasi Penerapan bagi Penulis

Agar proses publikasi berjalan lebih efektif, sebaiknya penyusunan artikel tidak menunggu terlalu lama setelah tesis selesai. Ketika penelitian masih segar dalam ingatan, penulis akan lebih mudah mengidentifikasi temuan utama, menjelaskan kontribusi penelitian, dan melakukan penyuntingan secara menyeluruh.

Selain itu, biasakan membaca artikel dari jurnal Scopus yang menjadi target publikasi. Dengan memahami gaya penulisan, struktur artikel, dan pola penyajian hasil penelitian, penulis akan lebih mudah menyesuaikan naskah dengan ekspektasi editor maupun reviewer.

Bagi penelitian yang memiliki beberapa temuan penting, pertimbangkan kemungkinan untuk mengembangkan lebih dari satu artikel dengan tetap menjaga orisinalitas masing-masing naskah. Namun, hindari membagi hasil penelitian secara berlebihan (salami publication) karena praktik tersebut tidak sesuai dengan etika publikasi ilmiah.

Terakhir, jangan ragu berdiskusi dengan dosen pembimbing atau peneliti yang telah berpengalaman menerbitkan artikel internasional. Masukan dari pihak yang berpengalaman sering kali membantu meningkatkan kualitas artikel sebelum dikirimkan ke jurnal tujuan.

Baca juga: Apa saja contoh rumusan masalah yang baik?

Kesimpulan

Mengubah tesis menjadi artikel Scopus merupakan langkah strategis untuk memperluas manfaat hasil penelitian sekaligus meningkatkan rekam jejak akademik penulis. Namun, proses ini memerlukan lebih dari sekadar mempersingkat isi tesis. Penulis perlu menyusun ulang struktur naskah, memilih temuan yang paling penting, menonjolkan research gap dan kebaruan penelitian, serta menyesuaikan artikel dengan pedoman jurnal yang dituju.

Selain memahami perbedaan mendasar antara tesis dan artikel ilmiah, penulis juga perlu memperhatikan kualitas bahasa, ketepatan sitasi, pemilihan referensi terbaru, serta kesesuaian ruang lingkup jurnal. Seluruh tahapan tersebut akan meningkatkan peluang artikel untuk melewati proses penelaahan dan diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi.

Pada akhirnya, publikasi artikel Scopus bukan hanya tentang memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga tentang menyebarluaskan hasil penelitian agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan menjadi referensi bagi peneliti di berbagai belahan dunia.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

 

 

Scroll to Top