Grand Theory Tesis dan Cara Menentukan Teori Utama dalam Penelitian

Grand theory tesis merupakan salah satu bagian penting dalam membangun landasan teoritis penelitian. Istilah ini sering muncul ketika mahasiswa menyusun proposal, Bab 2, kerangka berpikir, maupun pembahasan mengenai hubungan antarvariabel. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang masih bingung mengenai apa yang dimaksud dengan grand theory dan bagaimana cara menentukan teori utama yang benar-benar sesuai dengan penelitian.

Dalam sebuah tesis, teori tidak seharusnya dicantumkan hanya untuk memenuhi persyaratan akademik. Teori perlu digunakan untuk menjelaskan fenomena, mendasari hubungan antarkonsep, membantu menentukan variabel, serta memberikan arah dalam menganalisis hasil penelitian. Karena itu, memilih grand theory tidak cukup dilakukan dengan mencari teori yang terdengar paling terkenal atau paling sering digunakan dalam penelitian sejenis.

Pemilihan teori utama perlu mempertimbangkan masalah penelitian, konsep yang dikaji, hubungan antarvariabel, karakteristik objek, serta tujuan penelitian. Dengan pemilihan yang tepat, teori dapat menjadi fondasi yang menghubungkan masalah penelitian dengan bukti empiris yang diperoleh.

grand theory tesis

Apa Itu Grand Theory dalam Penelitian?

Grand theory adalah teori yang memiliki cakupan konseptual luas dan digunakan untuk menjelaskan fenomena atau hubungan sosial secara umum. Teori ini biasanya berada pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi dibandingkan teori atau konsep yang lebih spesifik.

Dalam penelitian, grand theory dapat menjadi kerangka besar yang membantu peneliti memahami bagaimana suatu fenomena terjadi. Teori utama tersebut kemudian dapat diturunkan ke konsep, variabel, atau proposisi yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Sebagai ilustrasi, penelitian mengenai perilaku konsumen dapat menggunakan teori yang menjelaskan bagaimana individu membentuk sikap dan mengambil keputusan. Teori tersebut menjadi dasar untuk memahami hubungan antara berbagai faktor yang kemudian diuji dalam konteks tertentu.

Namun, istilah grand theory tidak selalu digunakan dengan cara yang sama di setiap bidang ilmu. Dalam beberapa disiplin, teori yang dianggap cukup luas dapat disebut sebagai teori utama, sedangkan dalam disiplin lain peneliti mungkin lebih sering menggunakan istilah theoretical framework atau teori dasar. Karena itu, mahasiswa perlu mengikuti tradisi keilmuan dan pedoman akademik dari program studinya.

Baca juga: Hallucination AI: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Mengapa Teori Utama Penting dalam Tesis?

Teori memberikan dasar ilmiah bagi penelitian. Tanpa landasan teori yang jelas, hubungan antarvariabel dapat terlihat seperti dugaan yang dibuat berdasarkan intuisi semata.

Misalnya, seorang peneliti ingin menguji apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan mahasiswa. Pernyataan tersebut belum menjelaskan mengapa kualitas pelayanan seharusnya berkaitan dengan kepuasan. Teori dibutuhkan untuk menerangkan mekanisme konseptual yang mendasari hubungan tersebut.

Teori juga membantu membatasi ruang penelitian. Peneliti tidak perlu menjelaskan seluruh aspek dari sebuah fenomena jika tidak berkaitan dengan perspektif teoritis yang dipilih. Dengan demikian, teori membantu penelitian tetap fokus.

Selain itu, teori dapat digunakan ketika peneliti menafsirkan hasil. Apabila hasil penelitian berbeda dari dugaan, peneliti dapat mendiskusikan apakah perbedaan tersebut menunjukkan kondisi tertentu yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh teori atau justru memberikan dukungan terhadap perspektif teoritis yang digunakan.

Grand Theory, Middle Range Theory, dan Applied Theory

Dalam pembahasan metodologi penelitian, teori terkadang dibedakan berdasarkan tingkat abstraksinya. Grand theory memiliki cakupan paling luas, sedangkan middle range theory lebih spesifik dan biasanya digunakan untuk menjelaskan fenomena tertentu. Applied theory atau teori terapan memiliki fokus yang lebih dekat dengan persoalan praktis atau konteks tertentu.

Perbedaan tersebut membantu peneliti memahami bahwa tidak semua teori memiliki fungsi yang sama. Teori yang sangat luas mungkin memberikan perspektif dasar, tetapi belum tentu cukup untuk menjelaskan hubungan variabel secara langsung.

Sebaliknya, teori yang lebih spesifik mungkin lebih mudah digunakan untuk menjelaskan hubungan yang ingin diuji. Oleh karena itu, penelitian tidak selalu harus dipaksakan hanya menggunakan satu teori yang disebut grand theory apabila teori tersebut tidak benar-benar mampu menjelaskan model penelitian.

Dalam tesis, yang terpenting adalah terdapat kesinambungan antara teori yang dipilih, konsep penelitian, kerangka berpikir, hipotesis atau pertanyaan penelitian, dan metode analisis.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Perbedaan Grand Theory dengan Teori Pendukung

Grand theory atau teori utama berfungsi sebagai fondasi konseptual utama penelitian. Sementara itu, teori pendukung digunakan untuk memperkuat atau menjelaskan aspek tertentu yang tidak cukup dijelaskan oleh teori utama.

Sebagai contoh, penelitian mengenai pengaruh kualitas layanan digital terhadap kepuasan dan loyalitas mahasiswa mungkin menggunakan satu teori utama untuk menjelaskan perilaku atau evaluasi pengguna. Peneliti kemudian menggunakan teori lain untuk memperjelas konsep kualitas layanan digital atau loyalitas.

Penggunaan beberapa teori bukan berarti penelitian harus memiliki banyak grand theory. Justru, terlalu banyak teori utama dapat membuat kerangka penelitian menjadi tidak fokus.

Peneliti perlu menentukan teori mana yang benar-benar menjadi dasar utama model penelitian. Teori lainnya dapat ditempatkan sebagai teori pendukung apabila memang memberikan penjelasan tambahan yang relevan.

Ciri-Ciri Teori yang Layak Menjadi Teori Utama

Tidak semua teori yang berkaitan dengan topik penelitian dapat langsung dijadikan grand theory. Teori utama harus memiliki hubungan yang cukup kuat dengan masalah penelitian dan mampu membantu menjelaskan konstruksi penelitian.

Untuk menilai kelayakannya, peneliti dapat mempertimbangkan beberapa karakteristik berikut:

  1. Memiliki relevansi dengan masalah penelitian. Teori harus mampu menjelaskan fenomena utama yang sedang dikaji.
  2. Mampu menjelaskan hubungan antarkonsep. Teori sebaiknya tidak hanya memberikan definisi, tetapi juga membantu menerangkan mengapa konsep tertentu dapat saling berhubungan.
  3. Memiliki dasar akademik yang kuat. Teori perlu berasal dari sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Sesuai dengan bidang keilmuan. Teori harus memiliki keterkaitan dengan perspektif disiplin yang digunakan.
  5. Dapat diterapkan pada konteks penelitian. Teori yang dipilih perlu dapat digunakan untuk memahami objek dan karakteristik penelitian.

Karakteristik tersebut tidak berarti semua penelitian harus menggunakan teori yang sangat luas. Dalam beberapa kasus, teori yang lebih spesifik justru lebih tepat karena memiliki daya jelaskan yang lebih kuat terhadap masalah penelitian.

Cara Menentukan Teori Utama untuk Tesis

Menentukan teori utama sebaiknya dimulai dari masalah penelitian, bukan dari pencarian teori secara acak. Peneliti perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya ingin dijelaskan.

Setelah masalah dirumuskan, identifikasi konsep utama yang muncul dalam penelitian. Jika penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, konsep tersebut biasanya diterjemahkan menjadi variabel. Pada penelitian kualitatif, konsep dapat berupa fenomena, pengalaman, proses, atau tema yang ingin dipahami.

Berikutnya, cari teori yang memang menjelaskan konsep tersebut. Jangan hanya melihat apakah teori pernah digunakan oleh penelitian lain. Periksa juga bagaimana teori tersebut menjelaskan hubungan atau mekanisme yang menjadi fokus penelitian.

Proses penentuan teori dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan:

  1. Pahami masalah penelitian. Tentukan fenomena utama yang ingin dijelaskan.
  2. Identifikasi konsep inti. Tentukan konsep atau variabel yang menjadi pusat penelitian.
  3. Telusuri teori yang relevan. Cari teori melalui buku akademik, artikel jurnal, dan sumber ilmiah yang kredibel.
  4. Bandingkan kemampuan teori. Periksa teori mana yang paling mampu menjelaskan hubungan atau fenomena penelitian.
  5. Sesuaikan dengan konteks. Pastikan teori dapat diterapkan pada objek dan karakteristik penelitian.
  6. Tentukan posisi teori. Putuskan teori mana yang menjadi teori utama dan teori mana yang hanya berfungsi sebagai pendukung.

Tahapan tersebut membantu peneliti menghindari kebiasaan memilih teori hanya karena teori tersebut populer atau sering ditemukan dalam skripsi sebelumnya.

Memulai dari Masalah, Bukan dari Nama Teori

Salah satu kesalahan mahasiswa adalah mencari “grand theory yang cocok” sebelum memahami secara mendalam masalah penelitian. Cara tersebut dapat menghasilkan pemilihan teori yang kurang tepat.

Misalnya, mahasiswa memiliki topik mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan oleh mahasiswa. Ia kemudian mencari teori yang paling sering digunakan dalam penelitian tentang teknologi. Padahal, penggunaan teknologi dapat dilihat dari berbagai perspektif, seperti penerimaan teknologi, perilaku pengguna, motivasi, pembelajaran, atau perubahan perilaku.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apa yang ingin dijelaskan oleh penelitian tersebut? Apakah peneliti ingin menjelaskan alasan mahasiswa menerima teknologi, faktor yang memengaruhi penggunaan, dampaknya terhadap pembelajaran, atau pengalaman mahasiswa ketika menggunakan teknologi?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan mempersempit pilihan teori. Dengan demikian, teori dipilih karena memiliki kemampuan menjelaskan masalah, bukan sebaliknya.

Menilai Kesesuaian Teori dengan Variabel Penelitian

Pada penelitian kuantitatif, pemilihan teori perlu dikaitkan dengan variabel yang digunakan. Peneliti sebaiknya dapat menjelaskan hubungan antara teori dengan setiap bagian penting dalam model penelitian.

Misalnya terdapat variabel X, Y, dan Z. Peneliti tidak cukup mengatakan bahwa teori tertentu “berkaitan” dengan penelitian. Ia perlu menjelaskan bagaimana teori tersebut memberikan dasar untuk memahami hubungan X dengan Y atau hubungan Y dengan Z.

Jika teori tidak mampu menjelaskan hubungan utama dalam model, teori tersebut mungkin lebih tepat ditempatkan sebagai teori pendukung.

Hal ini penting terutama dalam penelitian yang menggunakan model kompleks seperti mediasi atau moderasi. Semakin banyak hubungan yang diuji, semakin penting peneliti memastikan bahwa dasar teoritisnya konsisten.

Contoh Menentukan Teori Utama

Misalnya sebuah tesis meneliti pengaruh persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat terhadap minat mahasiswa menggunakan suatu sistem digital.

Langkah pertama adalah menentukan masalah utama, yaitu bagaimana mahasiswa menerima dan memiliki minat menggunakan teknologi tertentu. Setelah itu, peneliti mengidentifikasi konsep yang berkaitan dengan penerimaan teknologi.

Peneliti kemudian mencari teori yang menjelaskan penerimaan dan penggunaan teknologi. Dari berbagai teori yang tersedia, teori yang mampu menjelaskan persepsi pengguna dan hubungannya dengan penerimaan teknologi dapat dipertimbangkan sebagai teori utama.

Teori tersebut selanjutnya digunakan untuk menjelaskan hubungan antarvariabel. Penelitian terdahulu dapat digunakan untuk memperkuat argumentasi, tetapi penelitian terdahulu bukan pengganti teori.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemilihan teori seharusnya mengikuti alur berpikir penelitian. Masalah menghasilkan konsep, konsep mengarahkan pencarian teori, dan teori membantu menjelaskan hubungan yang kemudian diuji.

Hubungan Teori Utama dengan Kerangka Berpikir

Setelah teori utama ditentukan, teori tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka berpikir penelitian. Kerangka berpikir menunjukkan bagaimana konsep-konsep yang berasal dari teori digunakan untuk memahami masalah penelitian.

Hubungan ini sangat penting karena teori tidak seharusnya berhenti sebagai uraian panjang dalam Bab 2. Teori perlu digunakan untuk membangun argumentasi yang mengarah pada model penelitian.

Pada penelitian kuantitatif, teori dapat menjadi dasar untuk merumuskan hipotesis. Pada penelitian kualitatif, teori dapat berfungsi sebagai perspektif untuk memahami fenomena, meskipun posisi teori dapat berbeda sesuai pendekatan penelitian yang digunakan.

Dengan demikian, teori utama, penelitian terdahulu, kerangka berpikir, dan hipotesis harus membentuk satu alur yang konsisten. Jika salah satu bagian tidak berkaitan, peneliti perlu mengevaluasi kembali dasar teoritisnya.

Menghubungkan Teori dengan Penelitian Terdahulu

Setelah teori utama ditentukan, langkah berikutnya adalah menghubungkannya dengan penelitian terdahulu. Teori memberikan penjelasan konseptual, sedangkan penelitian sebelumnya menunjukkan bagaimana konsep tersebut telah digunakan dan diuji dalam konteks tertentu.

Hubungan keduanya perlu dibangun secara logis. Peneliti dapat menjelaskan konsep utama berdasarkan teori, kemudian menunjukkan penelitian yang menggunakan konsep atau hubungan serupa. Dari sini dapat diketahui apakah penelitian sebelumnya mendukung, memperluas, atau justru menunjukkan keterbatasan teori dalam konteks tertentu.

Sebagai contoh, suatu teori menjelaskan bahwa persepsi terhadap manfaat suatu sistem dapat memengaruhi minat seseorang untuk menggunakannya. Penelitian terdahulu kemudian dapat digunakan untuk melihat apakah hubungan tersebut ditemukan pada mahasiswa, pegawai, konsumen, atau kelompok pengguna lainnya.

Cara tersebut membuat teori tidak hanya menjadi definisi yang ditempatkan di awal Bab 2. Teori menjadi dasar untuk membaca temuan penelitian sebelumnya dan menentukan mengapa penelitian baru perlu dilakukan.

Cara Mengevaluasi Apakah Teori Sudah Tepat

Memilih teori bukan proses sekali jadi. Setelah menemukan kandidat teori, peneliti sebaiknya melakukan evaluasi sebelum menetapkannya sebagai teori utama.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menguji teori dengan beberapa pertanyaan.

Semakin banyak jawaban positif yang diperoleh, semakin kuat alasan untuk menggunakan teori tersebut. Sebaliknya, jika teori hanya berhubungan dengan salah satu variabel tetapi tidak dapat menjelaskan hubungan utama dalam penelitian, peneliti perlu mempertimbangkan teori lain.

Peneliti juga perlu membaca sumber asli teori apabila memungkinkan. Jangan hanya mengandalkan kutipan dari skripsi atau tesis orang lain. Sumber sekunder memang dapat membantu memahami penggunaan teori, tetapi sumber primer memberikan pemahaman yang lebih akurat mengenai konsep dan asumsi teoritisnya.

Jangan Memilih Teori Hanya karena Sering Digunakan

Popularitas bukan ukuran utama kesesuaian teori. Sebuah teori dapat digunakan dalam banyak penelitian, tetapi belum tentu paling tepat untuk penelitian yang sedang dilakukan.

Misalnya, mahasiswa menemukan bahwa suatu teori digunakan oleh puluhan penelitian dengan topik yang mirip. Hal tersebut memang dapat menjadi petunjuk bahwa teori tersebut relevan. Namun, peneliti tetap perlu memeriksa bagaimana teori tersebut digunakan dan apakah konstruk penelitian benar-benar sesuai.

Penggunaan teori yang sama juga tidak menjamin penelitian baru memiliki dasar teoritis yang kuat. Jika teori hanya dicantumkan karena “penelitian sebelumnya menggunakan teori ini”, argumentasinya masih lemah.

Yang lebih penting adalah kemampuan teori dalam menjelaskan fenomena dan hubungan yang menjadi fokus penelitian. Dengan demikian, teori dipilih berdasarkan daya jelaskan, bukan semata-mata karena tingkat popularitasnya.

Tidak Harus Menggunakan Banyak Grand Theory

Terdapat anggapan bahwa tesis yang baik harus memiliki banyak teori. Padahal, jumlah teori tidak menentukan kualitas landasan teoritis.

Menggunakan terlalu banyak teori justru dapat menyebabkan pembahasan menjadi tidak fokus. Setiap teori membawa konsep, asumsi, dan sudut pandang tertentu. Jika semua dimasukkan tanpa hubungan yang jelas, pembaca akan kesulitan memahami teori mana yang sebenarnya menjadi fondasi penelitian.

Lebih baik menggunakan satu teori utama yang kuat kemudian menambahkan teori pendukung secara selektif jika memang dibutuhkan. Teori pendukung seharusnya memberikan kontribusi yang jelas, bukan hanya menambah panjang Bab 2.

Dengan pendekatan tersebut, peneliti dapat membangun landasan teori yang lebih sederhana tetapi memiliki argumentasi yang kuat.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Kesalahan pertama adalah menyamakan grand theory dengan teori yang paling terkenal. Padahal, teori utama harus dipilih berdasarkan kesesuaian dengan masalah dan model penelitian.

Kesalahan kedua adalah menggunakan teori tanpa memahami konsep dasarnya. Peneliti mungkin mampu mengutip definisi teori, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana teori tersebut berhubungan dengan variabel penelitian. Kondisi ini biasanya terlihat ketika peneliti kesulitan menjawab pertanyaan dosen penguji mengenai alasan pemilihan teori.

Kesalahan berikutnya adalah menjadikan penelitian terdahulu sebagai pengganti teori. Penelitian sebelumnya memang penting, tetapi temuan penelitian terdahulu dan teori memiliki fungsi yang berbeda. Penelitian terdahulu memberikan bukti empiris, sedangkan teori memberikan dasar konseptual untuk menjelaskan fenomena.

Beberapa kesalahan lain yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Memilih teori setelah variabel ditentukan tanpa memeriksa hubungan teoritisnya. Variabel yang terlihat berhubungan belum tentu memiliki dasar teori yang memadai.
  2. Menggunakan teori yang tidak sesuai dengan paradigma penelitian. Perspektif teoritis perlu selaras dengan pendekatan dan tujuan penelitian.
  3. Mengutip teori dari sumber sekunder tanpa memeriksa sumber aslinya. Hal ini dapat menyebabkan pemahaman teori menjadi kurang tepat.
  4. Memasukkan terlalu banyak teori. Banyak teori tidak otomatis membuat penelitian lebih ilmiah.
  5. Tidak menggunakan teori dalam pembahasan hasil. Teori seharusnya tetap memiliki fungsi ketika peneliti menafsirkan temuan penelitian.

Menghindari kesalahan tersebut akan membuat landasan teori lebih konsisten dari awal hingga akhir penelitian.

Grand Theory dalam Penelitian Kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif, teori utama biasanya memiliki hubungan erat dengan variabel dan hipotesis. Teori digunakan untuk memberikan dasar bagi dugaan hubungan yang akan diuji secara statistik.

Misalnya, penelitian menguji pengaruh X terhadap Y. Peneliti perlu menjelaskan mengapa teori tertentu memprediksi atau memberikan alasan bahwa X berkaitan dengan Y. Penjelasan tersebut kemudian diperkuat oleh penelitian terdahulu sebelum hipotesis dirumuskan.

Pada model yang lebih kompleks, seperti mediasi atau moderasi, argumentasi teoritis menjadi semakin penting. Peneliti tidak cukup hanya menunjukkan bahwa hubungan X dan Y pernah ditemukan. Ia perlu menjelaskan mengapa hubungan tersebut dapat terjadi melalui mediator atau berubah berdasarkan kondisi moderator.

Karena itu, semakin kompleks model penelitian, semakin hati-hati pula teori utama perlu dipilih.

Penggunaan Teori dalam Penelitian Kualitatif

Posisi teori dalam penelitian kualitatif dapat berbeda bergantung pada desain penelitian. Tidak semua penelitian kualitatif menggunakan teori dengan cara yang sama seperti penelitian kuantitatif.

Dalam beberapa pendekatan, teori digunakan sejak awal sebagai perspektif untuk memahami fenomena. Pada pendekatan lain, peneliti dapat memberikan ruang lebih besar bagi data untuk menghasilkan kategori atau pemahaman baru.

Karena itu, mahasiswa tidak sebaiknya memaksakan pola penelitian kuantitatif ke dalam penelitian kualitatif. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana teori digunakan sesuai dengan desain penelitian.

Jika teori digunakan sebagai lensa analisis, peneliti perlu menjelaskan konsep teoritis yang menjadi dasar interpretasi. Jika penelitian bertujuan mengembangkan pemahaman dari data, peneliti perlu mengikuti prinsip metodologis yang sesuai dengan pendekatan yang dipilih.

Tips Praktis Memilih Teori Utama

Menentukan teori utama dapat terasa sulit karena satu masalah penelitian terkadang dapat dijelaskan melalui beberapa perspektif. Dalam kondisi tersebut, peneliti perlu membandingkan teori secara sistematis.

Jangan terburu-buru memilih teori hanya berdasarkan hasil pencarian pertama. Buat daftar beberapa teori yang berpotensi digunakan, kemudian periksa kemampuan masing-masing dalam menjelaskan penelitian.

Beberapa tips praktis berikut dapat membantu:

  1. Mulai dari pertanyaan penelitian. Tanyakan fenomena apa yang sebenarnya ingin dijelaskan.
  2. Petakan konsep utama. Identifikasi variabel atau fenomena yang menjadi pusat penelitian.
  3. Cari sumber primer. Baca buku atau artikel asli yang memperkenalkan dan mengembangkan teori.
  4. Bandingkan beberapa teori. Pilih teori yang memiliki daya jelaskan paling kuat.
  5. Periksa penelitian terdahulu. Lihat bagaimana teori digunakan dalam konteks yang serupa.
  6. Uji konsistensi dengan kerangka berpikir. Pastikan teori dapat mendukung hubungan atau konsep dalam model penelitian.
  7. Diskusikan dengan pembimbing. Validasi pemilihan teori sebelum landasan teori dikembangkan terlalu jauh.

Dengan langkah tersebut, pemilihan grand theory menjadi proses akademik yang lebih terarah, bukan sekadar pencarian istilah di mesin pencari.

Contoh Alur dari Masalah hingga Teori Utama

Untuk melihat hubungan keseluruhan proses, bayangkan sebuah tesis mengkaji loyalitas pengguna aplikasi layanan digital.

Masalah penelitian dimulai dari adanya perbedaan tingkat loyalitas pengguna. Peneliti kemudian mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan kondisi tersebut, seperti kualitas layanan, kepuasan, dan kepercayaan.

Setelah konsep utama ditentukan, peneliti mencari teori yang mampu menjelaskan perilaku pengguna dan proses terbentuknya loyalitas. Dari beberapa teori yang tersedia, peneliti memilih teori yang paling sesuai dengan hubungan yang hendak diuji.

Selanjutnya, penelitian terdahulu digunakan untuk melihat bagaimana hubungan tersebut telah ditemukan dalam penelitian sebelumnya. Jika terdapat hasil yang berbeda atau konteks yang belum banyak diteliti, informasi tersebut dapat digunakan untuk membangun research gap.

Dari proses tersebut terbentuk alur yang lebih jelas: masalah penelitian → konsep → teori → penelitian terdahulu → research gap → kerangka berpikir → hipotesis atau fokus penelitian.

Alur ini menunjukkan bahwa teori bukan bagian yang berdiri sendiri. Setiap komponen penelitian seharusnya saling berhubungan.

Rekomendasi Penerapan dalam Penyusunan Bab 2

Ketika menulis Bab 2, peneliti sebaiknya tidak langsung memenuhi halaman dengan berbagai definisi teori. Mulailah dari konsep yang memang berkaitan dengan masalah penelitian, kemudian jelaskan teori yang memberikan perspektif untuk memahami konsep tersebut.

Setelah teori utama dijelaskan, hubungkan dengan teori pendukung apabila memang diperlukan. Selanjutnya, bahas penelitian terdahulu secara kritis dan tunjukkan bagaimana temuan penelitian sebelumnya berkaitan dengan teori.

Bagian akhir kajian teori sebaiknya mengarah pada kerangka berpikir. Pembaca harus dapat memahami mengapa konsep atau variabel tertentu dipilih dan bagaimana hubungan di antaranya dapat dijelaskan secara teoritis.

Jika mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan teori utama, menghubungkan grand theory dengan variabel, atau menyusun landasan teori yang konsisten dengan kerangka penelitian, konsultasi akademik dapat membantu memberikan arah yang lebih sistematis. Layanan seperti Tesis id dapat menjadi salah satu pilihan pendampingan untuk meninjau rancangan teori dan struktur penelitian, terutama agar landasan teoritis tetap sesuai dengan tujuan penelitian.

Baca juga: Matriks Penelitian Terdahulu Adalah Apa? Memahami Fungsi dan Bentuknya dalam Penelitian

Kesimpulan

Grand theory tesis merupakan landasan konseptual yang membantu peneliti memahami dan menjelaskan fenomena yang dikaji. Teori utama tidak seharusnya dipilih hanya karena populer, sering digunakan oleh penelitian lain, atau dianggap wajib ada dalam tesis. Pemilihannya perlu didasarkan pada masalah penelitian, konsep utama, hubungan antarvariabel, pendekatan penelitian, dan konteks objek yang diteliti.

Proses menentukan teori dapat dimulai dengan memahami masalah penelitian, mengidentifikasi konsep atau variabel utama, mencari teori yang relevan, membandingkan daya jelaskan beberapa teori, kemudian memilih teori yang paling mampu mendukung keseluruhan model penelitian.

Teori utama juga perlu dihubungkan dengan penelitian terdahulu, kerangka berpikir, hipotesis, atau fokus penelitian. Dengan hubungan yang konsisten, teori tidak hanya menjadi bagian formal dalam Bab 2, tetapi benar-benar berfungsi sebagai dasar untuk membangun argumentasi dan menafsirkan hasil penelitian.

Pada akhirnya, kualitas landasan teori tidak ditentukan oleh banyaknya teori yang dicantumkan. Teori yang relevan, dipahami dengan baik, dan digunakan secara konsisten jauh lebih bernilai daripada banyak teori yang hanya ditempatkan sebagai kutipan. Karena itu, pilihlah teori berdasarkan kemampuan menjelaskan penelitian, bukan sekadar berdasarkan popularitasnya.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

Scroll to Top