Cara Membuat Tabel Penelitian Terdahulu dari Berbagai Artikel Jurnal

Menyusun kajian pustaka akan terasa lebih mudah ketika berbagai artikel jurnal yang telah dibaca dicatat secara sistematis. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah membuat tabel penelitian terdahulu dari berbagai artikel jurnal. Tabel ini membantu peneliti merangkum informasi penting, membandingkan hasil penelitian, menemukan persamaan dan perbedaan, serta melihat celah penelitian yang masih dapat dikembangkan.

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, tabel penelitian terdahulu dapat membantu mengorganisasi literatur yang jumlahnya semakin banyak. Sementara itu, bagi mahasiswa S2, peneliti, maupun akademisi, tabel tersebut dapat digunakan sebagai alat analisis untuk memahami perkembangan penelitian pada bidang tertentu. Karena itu, tabel sebaiknya tidak hanya berisi ringkasan artikel, tetapi juga membantu menunjukkan posisi penelitian yang sedang dilakukan.

cara membuat tabel penelitian terdahulu

Apa Itu Tabel Penelitian Terdahulu?

Tabel penelitian terdahulu merupakan susunan informasi dari sejumlah penelitian sebelumnya yang dibuat dalam bentuk tabel agar lebih mudah dibandingkan. Setiap baris biasanya mewakili satu artikel jurnal, sedangkan setiap kolom berisi aspek tertentu dari penelitian tersebut.

Informasi yang dicatat dapat disesuaikan dengan tujuan penelitian. Pada format sederhana, peneliti dapat mencantumkan penulis, tahun, judul, metode, objek, dan hasil penelitian. Jika tabel digunakan untuk menemukan research gap, beberapa kolom tambahan seperti keterbatasan, perbedaan penelitian, dan peluang penelitian lanjutan dapat dimasukkan.

Dengan format tersebut, peneliti tidak perlu mengandalkan ingatan ketika harus membandingkan banyak artikel. Informasi dari setiap sumber tersimpan dalam satu dokumen sehingga hubungan antarpeneletian lebih mudah dilihat.

Namun, tabel penelitian terdahulu bukan pengganti kajian pustaka. Tabel berfungsi sebagai alat bantu untuk mengorganisasi dan menganalisis literatur. Hasil analisisnya kemudian dapat dikembangkan menjadi uraian akademik yang lebih lengkap dalam skripsi, tesis, atau karya ilmiah.

Baca juga: Kontribusi Penelitian Tesis: Pengertian, Jenis, Cara Menentukan, dan Contohnya

Mengapa Perlu Membuat Tabel dari Artikel Jurnal?

Ketika hanya membaca artikel satu per satu tanpa membuat catatan terstruktur, peneliti dapat mengalami kesulitan ketika jumlah sumber mulai bertambah. Informasi dari jurnal yang dibaca beberapa minggu sebelumnya mungkin sudah terlupakan, sementara mencari kembali bagian tertentu dari artikel membutuhkan waktu.

Tabel membuat proses tersebut lebih efisien. Peneliti dapat langsung melihat siapa yang melakukan penelitian, kapan penelitian dilakukan, metode apa yang digunakan, siapa objeknya, serta apa hasil utamanya. Informasi tersebut dapat dibandingkan tanpa harus membuka setiap artikel secara berulang.

Selain menghemat waktu, tabel juga membantu peneliti menemukan pola. Misalnya, beberapa penelitian mungkin menggunakan variabel yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan berbeda. Penelitian lainnya mungkin memiliki hasil serupa tetapi dilakukan pada objek atau lokasi yang berbeda.

Pola semacam ini penting karena dapat menjadi dasar untuk menentukan arah penelitian. Dari perbandingan tersebut, peneliti dapat mulai mempertanyakan mengapa hasil penelitian berbeda, aspek apa yang belum dikaji, atau konteks apa yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Menentukan Tujuan Sebelum Membuat Tabel

Sebelum mengumpulkan artikel jurnal, tentukan terlebih dahulu tujuan pembuatan tabel. Langkah ini penting karena tujuan akan menentukan informasi yang perlu dicatat.

Jika tabel hanya digunakan untuk merangkum penelitian yang relevan, formatnya dapat dibuat sederhana. Namun, jika tabel ditujukan untuk menemukan research gap, peneliti membutuhkan informasi yang lebih detail mengenai metode, objek, hasil, keterbatasan, dan perbedaan setiap studi.

Tujuan juga membantu peneliti menyaring artikel. Tidak semua jurnal yang memiliki kata kunci serupa harus dimasukkan. Artikel sebaiknya dipilih berdasarkan relevansi dengan masalah, variabel, teori, objek, atau pendekatan penelitian.

Dengan menentukan tujuan sejak awal, tabel tidak akan berkembang menjadi kumpulan informasi yang terlalu banyak tetapi sulit dianalisis. Setiap kolom dan setiap artikel memiliki alasan yang jelas untuk dimasukkan.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Menentukan Artikel Jurnal yang Relevan

Langkah berikutnya adalah mencari artikel jurnal yang sesuai dengan topik penelitian. Peneliti dapat menggunakan kata kunci utama, sinonim, istilah teknis, maupun kombinasi beberapa istilah yang berhubungan dengan variabel penelitian.

Pada tahap ini, jangan langsung memasukkan semua hasil pencarian ke dalam tabel. Baca judul dan abstrak terlebih dahulu untuk melihat kesesuaiannya. Jika artikel terlihat relevan, lanjutkan dengan membaca bagian metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan.

Relevansi tidak hanya ditentukan oleh kesamaan judul. Dua penelitian dapat membahas topik yang sama tetapi memiliki fokus yang berbeda. Sebaliknya, penelitian dengan judul yang terlihat berbeda dapat ternyata memiliki hubungan yang kuat karena menggunakan teori atau variabel yang sama.

Karena itu, peneliti perlu membaca artikel secara kritis. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang diteliti?”, “Bagaimana penelitian dilakukan?”, “Apa yang ditemukan?”, dan “Apa yang belum dijelaskan?” dapat membantu menentukan apakah suatu artikel layak dimasukkan.

Kolom yang Perlu Dicantumkan

Setelah artikel terkumpul, tentukan informasi yang akan dicatat. Jangan membuat terlalu banyak kolom sejak awal. Pilih aspek yang paling membantu proses perbandingan dan sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Untuk sebagian besar penelitian, terdapat beberapa informasi dasar yang dapat digunakan sebagai titik awal.

Kolom Informasi yang Dicatat Tujuan
Penulis dan Tahun Nama penulis dan tahun publikasi Mengidentifikasi sumber
Judul Penelitian Judul artikel jurnal Mengetahui fokus studi
Variabel/Fokus Variabel atau fenomena yang dikaji Membandingkan substansi penelitian
Metode Pendekatan, desain, dan teknik analisis Melihat cara penelitian dilakukan
Objek/Sampel Responden, populasi, lokasi, atau objek penelitian Membandingkan konteks
Hasil Penelitian Temuan utama Melihat pola dan perbedaan hasil
Keterbatasan/Relevansi Keterbatasan dan hubungan dengan penelitian baru Menentukan peluang pengembangan

Kolom tersebut dapat disederhanakan atau dikembangkan. Penelitian kuantitatif mungkin membutuhkan informasi mengenai variabel independen, dependen, dan teknik analisis. Sementara itu, penelitian kualitatif dapat lebih membutuhkan informasi mengenai fokus fenomena, informan, teknik pengumpulan data, dan hasil tematik.

Yang terpenting, jangan membuat tabel hanya karena mengikuti contoh dari penelitian lain. Format harus disesuaikan dengan pertanyaan penelitian dan kebutuhan analisis.

Membaca Artikel Secara Efektif

Membuat tabel penelitian terdahulu bukan berarti membaca seluruh artikel secara terburu-buru kemudian menyalin beberapa kalimat ke dalam kolom. Peneliti perlu menentukan informasi apa yang dicari dari setiap sumber.

Mulailah dengan memahami masalah penelitian. Setelah itu, perhatikan tujuan penelitian, teori yang digunakan, metode, karakteristik objek, hasil, dan kesimpulan. Bagian-bagian tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai posisi setiap artikel.

Abstrak dapat digunakan sebagai tahap awal untuk memahami isi penelitian. Namun, jangan menjadikan abstrak sebagai satu-satunya sumber informasi. Beberapa informasi penting mengenai teknik analisis, keterbatasan, atau rekomendasi penelitian lanjutan biasanya terdapat pada bagian lain.

Jika menemukan hasil yang menarik, catat juga halaman atau bagian artikel tempat informasi tersebut ditemukan. Kebiasaan ini akan membantu ketika peneliti harus kembali melakukan verifikasi atau menuliskan sitasi dalam karya ilmiah.

Mencatat Informasi Secara Konsisten

Konsistensi merupakan salah satu kunci agar tabel mudah dibaca. Jika satu artikel dicatat secara sangat rinci sementara artikel lain hanya berisi satu atau dua informasi, proses perbandingan menjadi kurang efektif.

Gunakan pola pencatatan yang sama untuk setiap artikel. Misalnya, pada kolom metode selalu tuliskan pendekatan, desain, dan teknik analisis dengan urutan yang konsisten. Pada kolom hasil, fokuskan informasi pada temuan yang paling berhubungan dengan topik penelitian.

Peneliti juga perlu membedakan antara informasi faktual dan interpretasi pribadi. Misalnya, “penelitian menggunakan 150 responden” merupakan informasi dari artikel. Sementara itu, “jumlah responden relatif terbatas” merupakan interpretasi yang perlu memiliki alasan atau konteks.

Pemisahan tersebut penting agar tabel tetap akurat. Analisis dapat ditambahkan setelah informasi dasar setiap artikel berhasil dicatat.

Mengelompokkan Artikel Berdasarkan Kesamaan

Setelah beberapa artikel dimasukkan ke dalam tabel, jangan langsung berpindah ke penulisan kajian pustaka. Lakukan pengelompokan terlebih dahulu. Artikel dapat dikelompokkan berdasarkan variabel, teori, metode, objek, lokasi, atau hasil penelitian.

Sebagai contoh, dalam penelitian mengenai kepuasan pelanggan, terdapat artikel yang membahas kualitas layanan, harga, pengalaman pelanggan, dan kepercayaan. Peneliti dapat melihat faktor mana yang paling sering digunakan dan faktor mana yang masih jarang dibahas.

Pengelompokan juga dapat dilakukan berdasarkan metode. Jika sebagian besar penelitian menggunakan survei kuantitatif, sementara hanya sedikit penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, perbedaan tersebut dapat menjadi bahan analisis lebih lanjut.

Cara ini membuat tabel tidak berhenti sebagai kumpulan ringkasan. Peneliti mulai melihat struktur literatur dan hubungan antarpenelitian.

Membandingkan Persamaan dan Perbedaan

Tahap penting berikutnya adalah membandingkan setiap artikel. Persamaan dapat menunjukkan pola penelitian yang sudah cukup kuat, sedangkan perbedaan dapat menunjukkan area yang masih perlu diperhatikan.

Persamaan dapat dilihat dari penggunaan variabel, teori, objek, metode, atau hasil. Misalnya, beberapa penelitian sama-sama menemukan bahwa variabel tertentu memiliki hubungan positif dengan variabel lainnya.

Sementara itu, perbedaan dapat muncul karena penelitian menggunakan populasi yang berbeda, lokasi berbeda, periode pengamatan berbeda, atau teknik analisis yang berbeda. Bahkan ketika variabelnya sama, hasil penelitian belum tentu sama.

Peneliti perlu menghindari kesimpulan bahwa perbedaan hasil otomatis menunjukkan adanya kesalahan. Perbedaan konteks penelitian dapat memengaruhi temuan. Oleh karena itu, setiap hasil perlu dipahami berdasarkan metode dan karakteristik penelitian yang melatarbelakanginya.

Contoh Sederhana dalam Pengumpulan Literatur

Sebagai ilustrasi, seorang mahasiswa ingin meneliti hubungan penggunaan media sosial dengan produktivitas mahasiswa. Ia menemukan beberapa artikel yang membahas media sosial, tetapi tidak semuanya memiliki fokus yang sama.

Ketiga artikel tersebut masih dapat memberikan informasi yang berguna, tetapi tingkat relevansinya berbeda. Peneliti perlu mencatat perbedaan fokus tersebut daripada menyimpulkan bahwa semuanya membahas hal yang sama.

Dari sini, tabel dapat membantu mahasiswa melihat bagaimana topik yang lebih luas terbagi menjadi beberapa fokus. Hasil perbandingan tersebut dapat digunakan untuk mempersempit masalah penelitian dan menentukan aspek yang benar-benar ingin dikaji.

Menentukan Relevansi Setiap Artikel

Tidak semua artikel yang masuk ke dalam tahap pencarian harus bertahan sampai tahap akhir. Setelah tabel mulai terisi, lakukan penyaringan kembali untuk memastikan sumber yang digunakan benar-benar mendukung penelitian.

Artikel yang hanya memiliki kesamaan kata kunci tetapi tidak berhubungan dengan masalah penelitian dapat ditempatkan sebagai sumber pendukung atau dikeluarkan. Sebaliknya, artikel yang memiliki hubungan kuat dengan variabel, teori, metode, atau objek penelitian perlu mendapat perhatian lebih besar.

Peneliti juga sebaiknya memperhatikan kualitas dan kredibilitas sumber. Jangan hanya memilih artikel karena mudah ditemukan. Literatur yang relevan dan berkualitas akan membantu memperkuat argumentasi penelitian.

Dengan proses penyaringan tersebut, tabel menjadi lebih ringkas sekaligus lebih bernilai. Peneliti tidak hanya memiliki banyak sumber, tetapi memiliki kumpulan literatur yang benar-benar dapat digunakan untuk membangun dasar penelitian.

Menganalisis Tabel Setelah Literatur Terkumpul

Setelah berbagai artikel jurnal dicatat, tahap yang tidak kalah penting adalah melakukan analisis. Tabel penelitian terdahulu sebaiknya tidak berhenti sebagai tempat menyimpan informasi. Nilai utamanya justru muncul ketika peneliti mulai membandingkan isi setiap artikel dan mencari pola yang dapat mendukung penelitian.

Salah satu cara sederhana adalah membaca tabel secara vertikal. Perhatikan satu kolom dari atas ke bawah, misalnya kolom variabel. Dari sana, peneliti dapat melihat variabel apa yang paling sering digunakan dan variabel apa yang masih jarang dibahas. Cara lain adalah membaca secara horizontal dengan membandingkan seluruh informasi dalam satu artikel untuk memahami konteks penelitian secara utuh.

Setelah itu, bandingkan beberapa penelitian sekaligus. Perhatikan apakah terdapat hasil yang konsisten atau justru berbeda. Jika terdapat perbedaan, cari kemungkinan penyebabnya melalui metode, karakteristik responden, lokasi, instrumen, atau teori yang digunakan.

Dengan cara tersebut, tabel berubah menjadi alat untuk memahami perkembangan penelitian. Peneliti tidak hanya mengetahui isi setiap jurnal, tetapi juga dapat melihat hubungan dan pola di antara berbagai studi.

Menemukan Research Gap dari Hasil Perbandingan

Salah satu tujuan penting membuat tabel penelitian terdahulu adalah membantu menemukan research gap. Research gap merupakan celah atau persoalan yang masih terbuka dalam penelitian sebelumnya dan dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian baru.

Celah tersebut tidak selalu berarti belum pernah ada penelitian mengenai topik yang dipilih. Dalam banyak kasus, penelitian sudah cukup banyak, tetapi masih terdapat aspek tertentu yang belum dikaji secara memadai. Misalnya, penelitian sebelumnya banyak dilakukan pada populasi tertentu, sedangkan populasi lain belum banyak diteliti.

Research gap juga dapat terlihat dari ketidakkonsistenan hasil. Jika beberapa artikel menemukan hubungan positif, tetapi penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak signifikan, peneliti dapat mempertimbangkan mengapa perbedaan tersebut terjadi.

Selain itu, gap dapat muncul dari perbedaan teori, metode, periode penelitian, lokasi, variabel, maupun karakteristik objek. Karena itu, peneliti perlu melihat keseluruhan tabel sebelum menentukan celah penelitian.

Mengidentifikasi Novelty Penelitian

Setelah menemukan research gap, peneliti dapat mulai mempertimbangkan novelty atau kebaruan penelitian. Novelty menjelaskan kontribusi yang diberikan penelitian baru dibandingkan dengan pengetahuan yang telah tersedia.

Tabel membantu proses ini karena peneliti dapat melihat dengan jelas apa yang sudah dilakukan oleh penelitian terdahulu. Misalnya, sebagian besar artikel menggunakan variabel dan metode yang sama, tetapi belum banyak yang menguji hubungan tersebut pada konteks tertentu.

Namun, perbedaan sederhana tidak otomatis menjadi novelty. Mengganti lokasi penelitian tanpa alasan akademik yang jelas belum tentu memberikan kontribusi yang berarti. Peneliti perlu menjelaskan mengapa konteks, pendekatan, data, atau model yang digunakan penting untuk menghasilkan pemahaman baru.

Dengan demikian, novelty sebaiknya muncul dari analisis terhadap literatur, bukan dibuat setelah penelitian selesai. Semakin baik peneliti memahami penelitian terdahulu, semakin mudah pula menjelaskan kontribusi penelitian yang akan dilakukan.

Mengubah Tabel Menjadi Kajian Pustaka

Tabel penelitian terdahulu dapat membantu peneliti ketika mulai menulis kajian pustaka, tetapi isi tabel tidak sebaiknya disalin begitu saja menjadi paragraf. Peneliti perlu melakukan sintesis agar pembahasan tidak berubah menjadi daftar ringkasan artikel.

Misalnya, terdapat lima penelitian yang sama-sama menemukan hubungan antara kualitas layanan dan kepuasan pelanggan. Daripada menjelaskan kelima artikel satu per satu secara terpisah, peneliti dapat mengelompokkannya dalam satu pembahasan berdasarkan kesamaan temuan.

Setelah menjelaskan pola tersebut, penelitian dengan hasil berbeda dapat dibahas untuk menunjukkan adanya ketidakkonsistenan. Peneliti kemudian dapat menghubungkan perbedaan tersebut dengan konteks atau metode penelitian.

Pola penulisan seperti ini membuat kajian pustaka lebih mengalir. Pembaca tidak hanya mengetahui penelitian apa yang sudah dilakukan, tetapi juga memahami bagaimana berbagai temuan tersebut mengarah pada penelitian yang sedang dilakukan.

Menempatkan Hasil Analisis dalam Bab 2

Dalam skripsi atau tesis, penelitian terdahulu umumnya menjadi bagian penting dari kajian pustaka. Informasi yang telah dianalisis melalui tabel dapat digunakan untuk membantu menyusun pembahasan mengenai perkembangan penelitian pada topik tertentu.

Tabel dapat ditampilkan dalam naskah apabila format tersebut sesuai dengan pedoman program studi atau arahan pembimbing. Namun, tabel juga dapat digunakan hanya sebagai dokumen kerja peneliti. Tidak semua informasi yang dicatat selama proses membaca jurnal harus dimasukkan ke dalam naskah akhir.

Jika tabel ditampilkan, berikan penjelasan sebelum dan sesudahnya. Pembaca perlu mengetahui tujuan tabel, aspek yang dibandingkan, serta kesimpulan yang dapat ditarik dari perbandingan tersebut.

Setelah tabel, peneliti dapat menjelaskan pola utama yang ditemukan. Misalnya, sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan tertentu, sementara beberapa studi menggunakan pendekatan berbeda. Pembahasan tersebut kemudian dapat diarahkan pada research gap dan posisi penelitian.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Membuat tabel dari berbagai artikel jurnal membutuhkan ketelitian. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memasukkan artikel sebanyak mungkin tanpa memperhatikan relevansi. Tabel akhirnya terlihat lengkap, tetapi sebagian sumber tidak benar-benar membantu menjawab masalah penelitian.

Kesalahan lainnya adalah menyalin isi artikel secara berlebihan. Tabel seharusnya berisi ringkasan informasi yang relevan, bukan salinan paragraf dari jurnal. Peneliti perlu melakukan parafrase dan merangkum dengan bahasa yang ringkas tanpa mengubah makna.

Beberapa kesalahan lain yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Menggunakan artikel hanya berdasarkan kesamaan kata kunci tanpa membaca fokus penelitiannya.
  2. Tidak mencatat sumber dan identitas artikel secara lengkap sehingga sulit melakukan sitasi kembali.
  3. Mengabaikan penelitian dengan hasil yang bertentangan karena dianggap tidak mendukung penelitian.
  4. Menganggap perbedaan objek atau lokasi secara otomatis sebagai research gap.
  5. Membuat tabel terlalu banyak kolom sehingga sulit dibaca dan dianalisis.
  6. Tidak memperbarui tabel ketika menemukan penelitian baru yang lebih relevan.

Menghindari kesalahan tersebut akan membuat proses kajian literatur lebih objektif. Penelitian yang tidak mendukung dugaan awal justru dapat memberikan informasi penting untuk memahami masalah secara lebih kritis.

Tips Praktis Mengelola Banyak Artikel

Ketika jumlah artikel mulai bertambah, pengelolaan sumber menjadi hal yang penting. Peneliti dapat menggunakan spreadsheet untuk membuat tabel karena informasi dapat dicari, disaring, dan diperbarui dengan mudah.

Gunakan satu baris untuk satu artikel dan pertahankan struktur kolom yang konsisten. Jika menemukan artikel baru, masukkan langsung ke tabel daripada menundanya. Dengan demikian, informasi tidak tercecer dalam berbagai catatan.

Peneliti juga dapat memberi tanda pada artikel yang sangat relevan. Misalnya, sumber yang memiliki variabel, teori, atau objek yang sangat dekat dengan penelitian dapat diberi penanda khusus agar mudah ditemukan ketika menyusun kajian pustaka.

Beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan adalah:

  1. Simpan file jurnal dengan nama yang mudah dikenali, misalnya berdasarkan nama penulis dan tahun.
  2. Catat tautan atau identitas publikasi sejak awal agar sumber mudah dilacak.
  3. Gunakan folder khusus untuk mengelompokkan artikel berdasarkan tema.
  4. Pisahkan artikel utama, artikel pendukung, dan artikel yang masih perlu diperiksa.
  5. Lakukan pemeriksaan ulang sebelum tabel digunakan dalam naskah akhir.

Pengelolaan yang rapi akan mengurangi pekerjaan berulang. Peneliti dapat lebih banyak menggunakan waktunya untuk membaca dan menganalisis daripada mencari kembali sumber yang sudah pernah ditemukan.

Menyesuaikan Tabel dengan Jenis Penelitian

Format tabel juga perlu disesuaikan dengan pendekatan penelitian. Penelitian kuantitatif biasanya membutuhkan informasi mengenai variabel, populasi, sampel, instrumen, dan teknik analisis. Informasi tersebut membantu peneliti membandingkan model atau hubungan antarvariabel yang digunakan oleh studi sebelumnya.

Pada penelitian kualitatif, peneliti dapat lebih menekankan fokus fenomena, informan, lokasi, teknik pengumpulan data, pendekatan analisis, dan tema utama yang ditemukan. Istilah “variabel” tidak selalu diperlukan karena fokus penelitian kualitatif dapat berbentuk fenomena atau pengalaman tertentu.

Sementara itu, penelitian mixed methods dapat membutuhkan informasi mengenai pendekatan kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Peneliti dapat mencatat bagaimana kedua pendekatan tersebut digabungkan dan bagaimana hasilnya digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Penyesuaian tersebut penting agar tabel tidak sekadar mengikuti format yang ditemukan dalam skripsi atau tesis orang lain. Struktur yang baik adalah struktur yang sesuai dengan karakter penelitian sendiri.

Kapan Tabel Perlu Diperbarui?

Tabel penelitian terdahulu bukan dokumen yang hanya dibuat sekali. Selama proses penelitian berlangsung, peneliti mungkin menemukan jurnal baru yang relevan. Jika sumber tersebut memberikan informasi penting, masukkan ke dalam tabel dan evaluasi kembali posisi penelitian.

Pembaruan juga diperlukan ketika fokus penelitian berubah. Misalnya, pada awalnya penelitian hanya membahas dua variabel, tetapi kemudian peneliti menambahkan mediator atau moderator. Literatur yang digunakan tentu perlu disesuaikan agar mendukung model penelitian yang baru.

Dengan memperbarui tabel, peneliti dapat menghindari penggunaan literatur yang sudah tidak relevan dengan fokus akhir penelitian. Proses ini juga membantu memastikan bahwa research gap yang digunakan masih memiliki dasar yang kuat.

Rekomendasi Penerapan untuk Skripsi dan Tesis

Untuk skripsi, tabel penelitian terdahulu dapat dibuat secara praktis dengan mencatat informasi yang paling berkaitan dengan masalah penelitian. Fokus utama dapat diberikan pada penulis, tahun, variabel atau fokus, metode, objek, hasil, dan relevansi.

Untuk tesis, tabel dapat dikembangkan menjadi alat analisis yang lebih mendalam. Peneliti dapat menambahkan teori, karakteristik data, teknik analisis, keterbatasan, research gap, dan kontribusi penelitian apabila aspek tersebut diperlukan.

Yang perlu diingat adalah kualitas tabel tidak ditentukan oleh jumlah baris atau banyaknya kolom. Tabel yang ringkas tetapi mampu membantu peneliti menemukan pola akan lebih bermanfaat dibandingkan tabel yang sangat panjang tetapi tidak pernah dianalisis.

Jika peneliti mengalami kesulitan dalam menentukan artikel yang relevan, menyusun research gap, atau menghubungkan hasil kajian literatur dengan model penelitian, pendampingan akademik dapat membantu proses tersebut menjadi lebih terarah. Layanan konsultasi seperti Tesis id dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung penyusunan skripsi, tesis, maupun penelitian akademik dari tahap kajian literatur hingga pengembangan argumentasi penelitian.

Baca juga: Tabel Matriks Penelitian Terdahulu dan Informasi yang Perlu Dicantumkan

Kesimpulan

Cara membuat tabel penelitian terdahulu dari berbagai artikel jurnal dimulai dengan menentukan tujuan, mencari sumber yang relevan, membaca artikel secara kritis, lalu mencatat informasi penting secara konsisten. Kolom dapat mencakup penulis, tahun, judul, variabel atau fokus, metode, objek, hasil, serta keterbatasan dan relevansinya.

Setelah tabel tersusun, pekerjaan belum selesai. Peneliti perlu membandingkan persamaan dan perbedaan penelitian, melihat pola hasil, menilai keterbatasan, kemudian menggunakannya untuk menemukan research gap dan merumuskan novelty. Proses inilah yang membuat tabel memiliki nilai akademik.

Pada akhirnya, tabel penelitian terdahulu bukan sekadar daftar jurnal yang telah dibaca. Tabel merupakan alat bantu untuk memahami perkembangan penelitian dan menentukan posisi penelitian baru. Dengan pengelolaan literatur yang sistematis dan analisis yang kritis, penyusunan kajian pustaka untuk skripsi maupun tesis dapat menjadi lebih terarah, efisien, dan kuat secara akademik.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

Scroll to Top