Grand Theory dan Applied Theory Tesis dalam Menjelaskan Konsep Penelitian

Dalam penyusunan tesis, teori memiliki peran penting untuk membantu peneliti memahami, menjelaskan, dan menganalisis suatu fenomena. Grand Theory dan Applied Theory tesis merupakan dua konsep yang dapat digunakan untuk membangun landasan pemikiran penelitian dari tingkat yang luas hingga penerapannya pada persoalan yang lebih konkret. Keduanya dapat membantu mahasiswa menghubungkan gagasan teoretis dengan konsep, variabel, maupun fokus penelitian secara lebih sistematis.

Pemilihan teori tidak seharusnya dilakukan hanya karena sebuah teori sering digunakan oleh peneliti lain. Teori perlu disesuaikan dengan masalah, tujuan, objek, dan pendekatan penelitian. Grand Theory biasanya memberikan perspektif yang luas mengenai suatu fenomena, sedangkan Applied Theory lebih menekankan penggunaan prinsip atau konsep teoretis untuk memahami dan memecahkan persoalan dalam konteks tertentu.

Memahami hubungan keduanya akan membantu mahasiswa menyusun Bab II secara lebih terarah. Peneliti juga dapat mengetahui teori mana yang berfungsi sebagai landasan umum dan teori mana yang dapat digunakan untuk menjelaskan penerapan konsep dalam situasi penelitian.

perbedaan matriks dan tabel penelitian terdahulu

Apa Itu Grand Theory dalam Tesis?

Grand Theory adalah teori yang memiliki cakupan konseptual luas dan digunakan untuk memberikan perspektif umum dalam memahami suatu fenomena. Teori pada tingkat ini biasanya membahas prinsip, hubungan, atau mekanisme yang dapat diterapkan pada berbagai situasi dan tidak hanya terbatas pada satu objek penelitian.

Dalam tesis, Grand Theory dapat berfungsi sebagai fondasi pemikiran. Teori tersebut membantu peneliti menentukan cara melihat masalah yang sedang dikaji. Karena cakupannya luas, Grand Theory tidak selalu langsung menjelaskan seluruh variabel penelitian. Namun, teori ini dapat memberikan dasar untuk memahami mengapa suatu fenomena dapat terjadi.

Sebagai contoh, penelitian mengenai perilaku organisasi dapat menggunakan teori organisasi atau teori perilaku yang memiliki cakupan luas. Dari perspektif tersebut, peneliti kemudian dapat mempersempit pembahasan pada kepemimpinan, motivasi kerja, kepuasan kerja, atau kinerja pegawai.

Dengan demikian, Grand Theory tidak harus selalu diterjemahkan secara langsung menjadi indikator penelitian. Fungsinya dapat berada pada tingkat konseptual yang lebih luas sebagai sudut pandang utama dalam memahami fenomena.

Baca juga: SEM AMOS: Pengertian, Tahapan Analisis, dan Cara Mengolah Data Penelitian

Karakteristik Teori pada Tingkat Grand Theory

Untuk memahami posisi Grand Theory, mahasiswa perlu membedakannya dari teori yang lebih spesifik. Sebuah teori dapat dianggap memiliki karakteristik Grand Theory apabila cakupannya luas, konsepnya relatif abstrak, dan dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena pada berbagai konteks.

Beberapa karakteristik yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:

  • memiliki cakupan pembahasan yang luas;
  • menjelaskan prinsip atau hubungan yang bersifat umum;
  • dapat digunakan sebagai perspektif utama dalam memahami fenomena;
  • memiliki konsep yang relatif abstrak;
  • dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pemahaman yang lebih spesifik.

Karakteristik tersebut bukan aturan mutlak untuk mengelompokkan semua teori. Dalam praktik akademik, posisi suatu teori dapat berbeda tergantung pada bidang ilmu dan tujuan penelitian. Karena itu, peneliti perlu melihat konteks penggunaannya, bukan hanya label teorinya.

Apa yang Dimaksud dengan Applied Theory?

Applied Theory merupakan teori atau kerangka teoretis yang digunakan secara lebih langsung untuk memahami, menjelaskan, atau menangani persoalan tertentu dalam konteks praktis. Jika teori pada tingkat Grand Theory memberikan perspektif yang luas, Applied Theory membantu membawa konsep tersebut lebih dekat dengan situasi yang sedang diteliti.

Istilah Applied Theory dalam penelitian perlu dipahami secara kontekstual. Tidak semua bidang ilmu menggunakan klasifikasi teori dengan istilah yang sama. Dalam beberapa penelitian, teori yang bersifat aplikatif dapat berupa teori spesifik yang sudah banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena tertentu.

Fokus utamanya adalah bagaimana prinsip teoretis dapat digunakan untuk memahami kondisi nyata. Karena itu, Applied Theory sering kali memiliki hubungan yang lebih dekat dengan objek penelitian dibandingkan teori yang sangat abstrak.

Misalnya, penelitian membahas penerapan strategi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Peneliti dapat menggunakan teori belajar sebagai landasan umum, kemudian menggunakan teori pembelajaran tertentu untuk memahami bagaimana strategi tersebut bekerja dalam lingkungan pendidikan.

Dalam contoh tersebut, teori yang lebih spesifik membantu peneliti menjembatani gagasan teoretis dengan praktik yang diamati di lapangan.

aplikasi AI untuk penulisan ilmiah

Perbedaan Grand Theory dan Applied Theory

Grand Theory dan Applied Theory sama-sama dapat berperan dalam membangun landasan penelitian, tetapi tingkat penggunaannya berbeda. Grand Theory lebih menekankan perspektif yang luas, sedangkan Applied Theory lebih dekat dengan penerapan konsep pada situasi tertentu.

Perbedaan tersebut dapat membantu mahasiswa menentukan fungsi teori dalam tesis. Berikut gambaran sederhananya.

Aspek Grand Theory Applied Theory
Cakupan Luas dan umum Lebih spesifik dan kontekstual
Tingkat abstraksi Relatif tinggi Lebih dekat dengan fenomena praktis
Fungsi utama Memberikan perspektif dasar Menjelaskan atau menerapkan konsep pada konteks tertentu
Hubungan dengan objek penelitian Tidak selalu langsung Cenderung lebih dekat
Penggunaan Landasan pemikiran luas Penerapan atau penjelasan fenomena tertentu

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keduanya tidak harus dipertentangkan. Dalam penelitian tertentu, Grand Theory dan Applied Theory justru dapat digunakan secara berurutan. Teori yang luas memberikan arah, sedangkan teori yang lebih aplikatif membantu menjelaskan bagaimana konsep tersebut terlihat dalam kondisi nyata.

Hubungan Grand Theory dan Applied Theory dalam Penelitian

Hubungan Grand Theory dan Applied Theory dapat dipahami sebagai proses dari pemikiran yang bersifat umum menuju penerapan yang lebih spesifik. Grand Theory memberikan kerangka besar untuk memahami fenomena, sedangkan Applied Theory membantu menerjemahkan perspektif tersebut ke dalam konteks penelitian.

Misalnya, seorang mahasiswa melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan. Penelitian tersebut membutuhkan perspektif mengenai perilaku pelanggan dan hubungan antara pengalaman layanan dengan respons konsumen.

Grand Theory dapat digunakan untuk memberikan landasan pemikiran yang lebih luas mengenai perilaku manusia atau perilaku konsumen. Setelah itu, teori yang lebih aplikatif mengenai kualitas pelayanan atau kepuasan pelanggan dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena yang lebih spesifik.

Alur sederhananya dapat digambarkan sebagai:

Grand Theory → Konsep yang lebih spesifik → Applied Theory → Variabel/Fokus Penelitian → Analisis Empiris

Namun, alur tersebut bukan formula wajib bagi seluruh tesis. Jenis teori dan susunannya tetap harus disesuaikan dengan disiplin ilmu, pendekatan penelitian, serta arahan akademik dari program studi.

Mengapa Applied Theory Penting dalam Tesis?

Salah satu tantangan ketika menggunakan teori yang sangat luas adalah menjaga agar pembahasan tetap relevan dengan masalah penelitian. Teori yang terlalu umum dapat memberikan dasar filosofis atau konseptual, tetapi belum tentu cukup untuk menjelaskan kondisi yang diamati secara langsung.

Di sinilah teori yang bersifat aplikatif dapat membantu. Applied Theory membuat pembahasan lebih dekat dengan objek penelitian karena konsepnya dapat digunakan untuk membaca fenomena yang lebih spesifik.

Contohnya dapat dilihat dalam penelitian bidang manajemen. Peneliti mungkin menggunakan teori yang luas mengenai organisasi sebagai landasan untuk memahami perilaku anggota organisasi. Namun, ketika penelitian berfokus pada kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai, diperlukan teori yang lebih spesifik agar hubungan antara konsep tersebut dapat dijelaskan secara lebih terarah.

Dengan demikian, teori aplikatif dapat membantu peneliti menjawab pertanyaan yang lebih dekat dengan realitas penelitian: bagaimana suatu konsep bekerja, faktor apa yang memengaruhinya, dan bagaimana konsep tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi tertentu.

Contoh Penerapan pada Penelitian Pendidikan

Bayangkan seorang mahasiswa menyusun tesis dengan topik penggunaan pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan keterampilan siswa. Penelitian tersebut tidak cukup hanya menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan proses memperoleh pengetahuan.

Peneliti membutuhkan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana manusia belajar. Setelah itu, teori pembelajaran yang lebih spesifik dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa pembelajaran berbasis proyek dapat mendorong keterlibatan, pengalaman, kolaborasi, atau pemecahan masalah.

Dalam konteks tersebut, teori yang luas memberikan dasar untuk memahami proses belajar, sedangkan teori yang lebih aplikatif membantu menjelaskan mekanisme pembelajaran yang menjadi objek penelitian.

Hasilnya, hubungan antara teori dan penelitian menjadi lebih jelas. Peneliti tidak sekadar mencantumkan teori dalam kajian pustaka, tetapi menggunakan teori tersebut untuk menjelaskan alasan pemilihan pendekatan pembelajaran dan kaitannya dengan hasil yang diamati.

Contoh pada Penelitian Manajemen

Dalam penelitian manajemen sumber daya manusia, seorang peneliti dapat mengkaji hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja karyawan. Grand Theory dapat digunakan untuk memberikan perspektif mengenai perilaku organisasi atau hubungan manusia dalam organisasi.

Selanjutnya, teori kepemimpinan yang lebih spesifik dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik gaya kepemimpinan yang diteliti. Peneliti kemudian menghubungkannya dengan konsep kinerja karyawan berdasarkan literatur yang relevan.

Dari sini terlihat bahwa teori tidak berdiri sendiri. Ada proses penyempitan konsep dari pemikiran yang luas menuju aspek yang dapat diteliti. Proses tersebut membantu peneliti membangun kerangka berpikir yang lebih masuk akal.

Apakah Setiap Tesis Harus Menggunakan Grand Theory dan Applied Theory?

Tidak. Penggunaan Grand Theory dan Applied Theory secara bersamaan bukan ketentuan universal untuk semua tesis. Kebutuhan teori sangat bergantung pada bidang ilmu, pertanyaan penelitian, pendekatan metodologis, serta pedoman akademik yang berlaku.

Ada penelitian yang cukup menggunakan satu teori utama karena teori tersebut sudah mampu menjelaskan seluruh fokus penelitian. Sebaliknya, penelitian tertentu membutuhkan beberapa teori karena fenomenanya memiliki banyak dimensi.

Mahasiswa sebaiknya tidak menambahkan teori hanya agar Bab II terlihat lebih akademis. Terlalu banyak teori tanpa hubungan yang jelas justru dapat membuat kerangka penelitian menjadi sulit dipahami.

Yang paling penting adalah setiap teori mempunyai fungsi. Jika Grand Theory digunakan, peneliti perlu menjelaskan perspektif apa yang diberikan teori tersebut. Jika Applied Theory digunakan, peneliti perlu menunjukkan bagaimana teori tersebut membantu menjelaskan fenomena yang diteliti.

Posisi Teori dalam Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan bagian penting yang menghubungkan teori dengan rancangan penelitian. Pada tahap ini, peneliti mulai menunjukkan bagaimana konsep-konsep yang telah dibahas akan digunakan untuk memahami hubungan atau fenomena tertentu.

Grand Theory dapat menjadi perspektif dasar dalam membangun kerangka tersebut. Sementara itu, Applied Theory dapat membantu memperjelas hubungan yang lebih dekat dengan objek penelitian.

Sebagai contoh, penelitian mengenai kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan dapat dimulai dari perspektif perilaku konsumen yang lebih luas. Peneliti kemudian menggunakan teori kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan untuk menentukan konsep yang relevan.

Setelah itu, konsep tersebut dapat diterjemahkan menjadi variabel dan indikator apabila penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, konsep tersebut dapat menjadi fokus atau kategori analisis sesuai dengan desain penelitian.

Dengan cara ini, teori memiliki jalur yang jelas dari kajian pustaka menuju proses penelitian. Inilah yang membuat penggunaan teori menjadi lebih bermakna daripada sekadar mencantumkan banyak referensi.

Cara Menentukan Teori yang Sesuai

Pemilihan teori sebaiknya dimulai dari masalah penelitian, bukan dari keinginan untuk menggunakan teori tertentu. Mahasiswa perlu memahami terlebih dahulu fenomena yang ingin dijelaskan dan pertanyaan penelitian yang hendak dijawab.

Setelah masalah penelitian jelas, identifikasi konsep utama yang terdapat dalam penelitian. Dari konsep tersebut, peneliti dapat menelusuri literatur untuk menemukan teori yang paling relevan.

Perhatikan pula konteks penelitian. Teori yang cocok untuk penelitian organisasi belum tentu tepat jika diterapkan begitu saja pada penelitian pendidikan atau kesehatan. Karena itu, relevansi bidang ilmu perlu menjadi pertimbangan.

Selain itu, periksa penelitian terdahulu. Penelitian sebelumnya dapat membantu menunjukkan teori yang telah digunakan untuk menjelaskan fenomena serupa. Namun, teori tersebut tetap perlu dievaluasi kembali agar sesuai dengan konteks penelitian yang sedang dilakukan.

Pada akhirnya, teori yang baik bukan teori yang paling banyak digunakan, melainkan teori yang paling mampu membantu peneliti menjawab masalah penelitian secara logis dan akademis.

Cara Menghubungkan Grand Theory dan Applied Theory dalam Bab II

Setelah menentukan teori yang relevan, langkah berikutnya adalah menjelaskan hubungan antarteori secara sistematis dalam Bab II. Bagian ini penting karena mahasiswa sering kali sudah memiliki beberapa teori, tetapi belum mampu menunjukkan bagaimana teori tersebut mendukung penelitian.

Pembahasan sebaiknya dimulai dari teori yang memiliki cakupan paling luas. Peneliti dapat menjelaskan konsep utama, asumsi, serta relevansinya terhadap fenomena yang sedang dikaji. Setelah itu, pembahasan diarahkan menuju teori yang lebih spesifik dan memiliki hubungan lebih dekat dengan objek penelitian.

Misalnya, penelitian membahas pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai. Peneliti dapat terlebih dahulu menjelaskan perspektif umum mengenai perilaku manusia dalam organisasi. Setelah itu, pembahasan dapat dipersempit pada teori motivasi kerja yang digunakan untuk menjelaskan faktor pendorong perilaku pegawai.

Hubungan tersebut kemudian diteruskan ke konsep penelitian. Jika penelitian bersifat kuantitatif, konsep dapat diterjemahkan menjadi variabel dan indikator. Jika penelitian bersifat kualitatif, konsep dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami fenomena dan menentukan fokus analisis.

Dengan demikian, Bab II tidak hanya berisi definisi dari berbagai ahli. Setiap pembahasan teori harus memiliki hubungan dengan penelitian sehingga pembaca dapat memahami alasan teori tersebut digunakan.

Grand Theory dan Applied Theory dalam Penelitian Kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif, teori memiliki peran penting dalam menjelaskan hubungan antarkonsep dan membantu membangun hipotesis. Peneliti biasanya memulai dari suatu kerangka teoretis, kemudian menentukan variabel yang akan diuji secara empiris.

Grand Theory dapat memberikan dasar pemikiran mengenai fenomena yang diteliti. Sementara itu, teori yang lebih aplikatif dapat membantu menjelaskan hubungan antarvariabel secara lebih spesifik.

Sebagai contoh, penelitian menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan. Perspektif yang lebih luas mengenai perilaku konsumen dapat memberikan landasan mengenai bagaimana pelanggan merespons pengalaman yang diterimanya. Kemudian, teori kualitas pelayanan dan loyalitas pelanggan dapat digunakan untuk memperjelas konsep yang akan diukur.

Dari pembahasan tersebut, peneliti dapat menyusun hipotesis berdasarkan hubungan yang didukung oleh teori dan penelitian terdahulu. Artinya, hipotesis bukan sekadar dugaan pribadi, tetapi memiliki dasar konseptual dan empiris.

Hubungan antara teori dan variabel juga harus konsisten dengan instrumen penelitian. Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel sebaiknya memiliki dasar dari konsep atau teori yang jelas. Hal ini akan membantu meningkatkan argumentasi mengenai mengapa suatu variabel diukur menggunakan indikator tertentu.

Penggunaan dalam Penelitian Kualitatif

Peran teori dalam penelitian kualitatif dapat berbeda dengan penelitian kuantitatif. Teori tidak selalu digunakan untuk menghasilkan hipotesis atau menguji hubungan antarvariabel. Sebaliknya, teori dapat berfungsi sebagai perspektif untuk memahami pengalaman, perilaku, proses sosial, atau fenomena tertentu.

Misalnya, penelitian kualitatif mengkaji pengalaman mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran daring. Peneliti dapat menggunakan teori yang luas untuk memahami proses belajar, kemudian menggunakan teori yang lebih spesifik sebagai lensa untuk melihat interaksi, motivasi, pengalaman, atau hambatan mahasiswa.

Dalam konteks ini, Applied Theory dapat membantu memberikan fokus ketika peneliti menganalisis data hasil wawancara, observasi, atau dokumentasi. Teori dapat digunakan untuk membantu menginterpretasikan temuan, tetapi peneliti tetap perlu terbuka terhadap temuan baru yang muncul dari data.

Karena itu, penggunaan teori dalam penelitian kualitatif harus dilakukan secara fleksibel. Peneliti tidak seharusnya memaksakan seluruh data agar sesuai dengan teori. Jika ditemukan fenomena yang berbeda dari teori sebelumnya, perbedaan tersebut justru dapat menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Contoh pada Bidang Kesehatan

Dalam penelitian kesehatan atau keperawatan, hubungan antara teori yang luas dan teori yang lebih aplikatif juga dapat membantu memperjelas masalah penelitian. Misalnya, peneliti mengkaji kepatuhan pasien dalam menjalankan pengobatan.

Teori yang membahas perilaku kesehatan dapat digunakan sebagai perspektif umum untuk memahami mengapa seseorang melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu. Selanjutnya, teori yang lebih spesifik mengenai perubahan perilaku atau kepatuhan dapat digunakan untuk menjelaskan faktor yang berkaitan dengan perilaku pasien.

Peneliti kemudian dapat menghubungkan konsep tersebut dengan kondisi empiris yang ditemukan di lapangan. Apabila penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, konsep dapat diterjemahkan menjadi variabel yang dapat diukur. Dalam penelitian kualitatif, konsep dapat membantu mengarahkan proses interpretasi pengalaman pasien.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa teori yang luas dan teori yang aplikatif dapat saling melengkapi. Teori pertama memberikan konteks, sedangkan teori kedua membantu peneliti memahami persoalan dengan lebih dekat.

Contoh pada Penelitian Teknologi Informasi

Penelitian bidang teknologi informasi juga dapat menggunakan pendekatan serupa. Misalnya, mahasiswa meneliti penerimaan pengguna terhadap suatu aplikasi digital.

Perspektif yang lebih luas mengenai perilaku manusia terhadap teknologi dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa seseorang menerima atau menolak penggunaan suatu sistem. Selanjutnya, model atau teori penerimaan teknologi yang lebih spesifik dapat digunakan untuk menjelaskan faktor seperti persepsi kemudahan, persepsi manfaat, sikap, atau niat menggunakan teknologi.

Dari teori tersebut, peneliti dapat menentukan variabel dan indikator yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mengetahui hubungan yang telah dirumuskan.

Dalam kasus seperti ini, teori yang lebih aplikatif sangat membantu karena memiliki konsep yang lebih dekat dengan fenomena penggunaan teknologi. Namun, teori tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks penelitian yang lebih luas agar tidak digunakan secara terpisah dari landasan pemikiran.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Penggunaan teori dalam tesis dapat menjadi rumit apabila mahasiswa belum memahami fungsi masing-masing teori. Kesalahan yang muncul biasanya bukan karena kurangnya referensi, melainkan karena teori yang dikumpulkan tidak memiliki hubungan yang jelas dengan masalah penelitian.

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:

  • memilih teori hanya karena sering digunakan oleh penelitian lain;
  • menganggap semakin banyak teori berarti penelitian semakin kuat;
  • menggunakan Grand Theory tanpa menjelaskan relevansinya;
  • menyebut Applied Theory tetapi tidak menghubungkannya dengan objek penelitian;
  • mencantumkan teori dalam Bab II tetapi tidak menggunakannya dalam pembahasan;
  • membuat kerangka konseptual yang tidak memiliki dasar teoretis yang jelas.

Kesalahan lainnya adalah mencampur berbagai teori tanpa menentukan posisi masing-masing. Akibatnya, Bab II menjadi panjang tetapi tidak memiliki alur argumentasi. Pembaca mungkin mengetahui banyak teori yang digunakan, tetapi tidak memahami teori mana yang sebenarnya menjadi dasar penelitian.

Untuk menghindari hal tersebut, setiap teori sebaiknya memiliki fungsi yang jelas. Tanyakan kepada diri sendiri: mengapa teori ini digunakan, konsep apa yang dijelaskan, dan bagian penelitian mana yang didukung oleh teori tersebut?

Jika pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab, teori tersebut mungkin tidak perlu dimasukkan atau perlu ditinjau kembali relevansinya.

Tips Praktis Memilih Teori untuk Tesis

Pemilihan teori dapat menjadi lebih mudah apabila dilakukan secara bertahap. Mahasiswa tidak perlu langsung mencari banyak teori, tetapi dapat memulai dari masalah utama penelitian dan mempersempit pencarian berdasarkan konsep yang ditemukan.

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Tentukan fenomena utama.
    Rumuskan secara sederhana persoalan yang ingin dijelaskan. Hindari memulai pencarian teori sebelum memahami masalah penelitian.
  2. Identifikasi konsep kunci.
    Catat konsep yang muncul dalam judul, rumusan masalah, tujuan, atau fokus penelitian. Konsep tersebut akan menjadi kata kunci ketika menelusuri literatur.
  3. Cari teori dari sumber akademik.
    Gunakan buku teori, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu yang relevan. Jangan hanya mengandalkan ringkasan teori dari sumber yang tidak jelas.
  4. Bandingkan beberapa alternatif.
    Perhatikan cakupan, konsep utama, asumsi, dan relevansi setiap teori. Pilih teori yang paling sesuai dengan kebutuhan penelitian.
  5. Tentukan fungsi teori.
    Jelaskan apakah teori digunakan sebagai perspektif utama, teori pendukung, dasar pembentukan variabel, atau kerangka untuk menganalisis data.
  6. Hubungkan dengan penelitian.
    Pastikan teori memiliki hubungan dengan kerangka konseptual, variabel, fokus, instrumen, analisis, atau pembahasan penelitian.

Langkah tersebut membantu mahasiswa menghindari kebiasaan memasukkan teori secara acak. Pada akhirnya, kualitas landasan teori tidak ditentukan oleh jumlah halaman, tetapi oleh kekuatan hubungan antara teori dan masalah penelitian.

Tips Menyusun Kerangka Teoretis yang Kuat

Kerangka teoretis yang baik seharusnya memperlihatkan alur pemikiran yang dapat diikuti pembaca. Pembaca perlu memahami dari mana penelitian dimulai, konsep apa yang digunakan, serta bagaimana konsep tersebut mengarah pada persoalan yang diteliti.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyusun pembahasan dari konsep umum menuju konsep khusus. Grand Theory dapat ditempatkan sebagai perspektif yang memberikan konteks luas. Setelah itu, teori yang lebih spesifik digunakan untuk memperjelas fenomena.

Peneliti juga perlu menjelaskan alasan memilih teori tertentu. Jangan hanya menuliskan, “Penelitian ini menggunakan teori X.” Pernyataan tersebut belum cukup. Jelaskan konsep apa dari teori X yang relevan dan bagaimana konsep tersebut membantu menjawab masalah penelitian.

Selanjutnya, hubungkan teori dengan penelitian terdahulu. Penelitian sebelumnya dapat memperkuat argumentasi bahwa teori tersebut memang relevan digunakan dalam konteks tertentu. Namun, penelitian terdahulu bukan pengganti teori. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan sebaiknya dijelaskan secara proporsional.

Terakhir, pastikan kerangka teoretis memiliki hubungan dengan metode penelitian. Jika teori menghasilkan konsep yang kemudian diukur sebagai variabel, indikatornya perlu memiliki dasar yang jelas. Jika teori digunakan untuk analisis kualitatif, peneliti perlu menjelaskan bagaimana teori tersebut membantu membaca data.

Hubungan Teori dengan Konsep Penelitian

Salah satu fungsi terpenting teori adalah membantu peneliti memahami konsep yang digunakan. Konsep penelitian sering kali memiliki makna yang luas sehingga perlu diberi batasan agar dapat digunakan secara akademis.

Misalnya, istilah “kepuasan pelanggan” dalam kehidupan sehari-hari dapat dipahami secara sederhana sebagai perasaan senang atau tidak senang setelah menggunakan suatu produk. Dalam penelitian, konsep tersebut perlu didefinisikan berdasarkan teori dan literatur yang relevan.

Grand Theory dapat memberikan perspektif mengenai perilaku manusia atau konsumen secara umum. Applied Theory kemudian dapat membantu menjelaskan konsep kepuasan dalam konteks pelayanan atau penggunaan produk tertentu.

Setelah konsep ditentukan, peneliti dapat menyusun definisi operasional apabila penelitian membutuhkan pengukuran. Proses ini membuat hubungan antara teori dan data menjadi lebih jelas.

Dengan demikian, teori bukan hanya digunakan untuk memperindah kajian pustaka. Teori membantu menentukan apa yang dimaksud dengan suatu konsep, bagaimana konsep tersebut dipahami, dan bagaimana konsep tersebut dapat dipelajari secara empiris.

Rekomendasi Penerapan dalam Penyusunan Tesis

Mahasiswa sebaiknya tidak terburu-buru menentukan Grand Theory atau Applied Theory sebelum memahami masalah penelitiannya. Mulailah dengan membaca kembali judul, latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Dari sana, tentukan fenomena dan konsep utama yang benar-benar ingin dijelaskan.

Selanjutnya, lakukan penelusuran literatur secara bertahap. Gunakan sumber primer atau sumber akademik yang kredibel dan perhatikan bagaimana teori digunakan dalam penelitian sebelumnya. Jangan hanya mengambil definisi teori, tetapi pahami asumsi dan konsep utama yang mendasarinya.

Jika menggunakan lebih dari satu teori, jelaskan hubungan dan fungsi masing-masing. Grand Theory dapat memberikan kerangka pemikiran luas, sementara Applied Theory dapat mempersempit pembahasan dan membantu menjelaskan penerapan konsep pada konteks penelitian.

Peneliti juga perlu memastikan bahwa teori yang dipilih konsisten dengan metode penelitian. Jangan sampai teori menunjukkan konsep tertentu, tetapi variabel, indikator, instrumen, atau teknik analisis justru tidak memiliki hubungan dengan konsep tersebut.

Pada akhirnya, penggunaan teori yang baik akan membuat tesis lebih terarah. Teori membantu peneliti menjelaskan mengapa masalah penting untuk dikaji, bagaimana fenomena dipahami, dan bagaimana temuan penelitian dapat diinterpretasikan.

Baca juga: Cara Membandingkan Penelitian Terdahulu melalui Matriks Literatur

Kesimpulan

Grand Theory dan Applied Theory tesis memiliki fungsi yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi dalam menjelaskan konsep penelitian. Grand Theory memberikan perspektif yang luas mengenai suatu fenomena, sedangkan Applied Theory membawa pemikiran tersebut lebih dekat dengan konteks atau persoalan yang sedang diteliti.

Hubungan keduanya dapat membantu peneliti menyusun alur berpikir dari konsep yang umum menuju fenomena yang lebih spesifik. Dalam penelitian kuantitatif, hubungan tersebut dapat mendukung pembentukan variabel, indikator, dan hipotesis. Sementara dalam penelitian kualitatif, teori dapat menjadi perspektif untuk memahami dan menginterpretasikan fenomena berdasarkan data lapangan.

Meski demikian, tidak semua tesis harus menggunakan Grand Theory dan Applied Theory secara bersamaan. Pemilihan teori harus didasarkan pada relevansi dengan masalah, tujuan, objek, pendekatan penelitian, serta pedoman akademik yang berlaku. Teori yang sedikit tetapi tepat jauh lebih bermanfaat daripada banyak teori yang tidak memiliki hubungan jelas.

Bagi mahasiswa yang masih mengalami kesulitan menentukan teori utama, teori aplikatif, konsep penelitian, maupun menyusun kerangka teoretis, konsultasi akademik dari [Tesis id] dapat membantu meninjau rancangan penelitian secara lebih terarah. Dengan landasan teori yang tepat sejak awal, proses penyusunan tesis akan lebih sistematis dan argumentasi penelitian pun menjadi lebih kuat.

Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

Scroll to Top