Grand Theory dan Middle Theory tesis merupakan dua konsep yang sering muncul ketika mahasiswa menyusun landasan teori dan kerangka penelitian. Keduanya sama-sama digunakan untuk memberikan dasar konseptual terhadap penelitian, tetapi memiliki cakupan dan fungsi yang berbeda. Memahami perbedaan tersebut penting agar peneliti tidak sekadar mengumpulkan teori, melainkan mampu menempatkan setiap teori sesuai dengan perannya.
Dalam penyusunan tesis, Grand Theory umumnya memberikan perspektif yang lebih luas mengenai fenomena penelitian. Sementara itu, Middle Theory membantu mempersempit pembahasan menuju fenomena yang lebih spesifik sehingga hubungan antara teori dan masalah penelitian menjadi lebih mudah diterapkan. Dengan kata lain, teori tingkat luas memberikan arah, sedangkan teori tingkat menengah dapat membantu menjelaskan mekanisme atau aspek tertentu yang lebih dekat dengan objek penelitian.
Hubungan keduanya dapat membuat kerangka teoretis menjadi lebih kuat apabila digunakan secara tepat. Namun, tidak semua penelitian wajib menggunakan Grand Theory dan Middle Theory sekaligus. Penggunaannya tetap bergantung pada bidang ilmu, karakteristik masalah, tujuan penelitian, serta kebutuhan konseptual penelitian.

Apa Itu Grand Theory?
Grand Theory adalah teori yang memiliki cakupan konseptual luas dan digunakan untuk menjelaskan fenomena melalui prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan pada berbagai situasi. Teori ini biasanya memberikan pandangan umum mengenai bagaimana suatu fenomena terjadi atau bagaimana konsep-konsep tertentu saling berkaitan.
Dalam tesis, Grand Theory dapat berfungsi sebagai fondasi pemikiran. Peneliti menggunakannya untuk menentukan perspektif utama dalam melihat masalah penelitian. Karena cakupannya luas, Grand Theory tidak selalu memberikan penjelasan teknis mengenai setiap variabel atau kondisi spesifik yang diteliti.
Misalnya, penelitian tentang perilaku manusia dapat menggunakan teori sosial sebagai perspektif umum. Dari teori yang luas tersebut, peneliti kemudian dapat menggunakan teori yang lebih spesifik untuk menjelaskan perilaku tertentu dalam konteks organisasi, pendidikan, kesehatan, atau bidang lainnya.
Karena itu, Grand Theory sebaiknya tidak dipahami sebagai “teori paling tinggi” yang selalu harus digunakan. Yang lebih penting adalah perannya sebagai landasan konseptual yang memberikan arah terhadap penelitian.
Baca juga: AI Detector untuk Skripsi: Cara Kerja, Kelebihan, Kekurangan, dan Rekomendasinya
Apa yang Dimaksud dengan Middle Theory?
Middle Theory atau teori tingkat menengah memiliki cakupan yang lebih spesifik dibandingkan Grand Theory. Teori ini biasanya berfokus pada fenomena tertentu dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan objek atau masalah penelitian.
Middle Theory berada di antara teori yang sangat umum dan teori yang sangat spesifik untuk suatu kondisi tertentu. Karena itu, teori ini sering lebih mudah diterapkan dalam penelitian empiris.
Sebagai contoh, Grand Theory dapat memberikan pandangan luas mengenai perilaku manusia, sedangkan Middle Theory dapat menjelaskan motivasi kerja, perilaku organisasi, kepuasan kerja, atau fenomena spesifik lainnya. Teori tingkat menengah membantu peneliti menjembatani gagasan abstrak dengan fenomena yang dapat diamati.
Dalam penelitian tesis, Middle Theory dapat menjadi penghubung penting antara landasan filosofis atau konseptual yang luas dengan variabel, indikator, atau fokus penelitian yang lebih konkret.
Perbedaan Grand Theory dan Middle Theory
Perbedaan utama antara Grand Theory dan Middle Theory terletak pada cakupan, tingkat abstraksi, serta kedekatannya dengan fenomena empiris. Grand Theory cenderung memiliki cakupan lebih luas dan menjelaskan prinsip umum. Sebaliknya, Middle Theory memiliki fokus yang lebih spesifik sehingga lebih dekat dengan permasalahan yang diteliti.
Perbedaan tersebut tidak berarti salah satu teori lebih penting daripada yang lain. Keduanya dapat memiliki fungsi yang berbeda dalam membangun argumentasi penelitian.
Gambaran sederhananya dapat dilihat pada tabel berikut.
| Aspek | Grand Theory | Middle Theory |
|---|---|---|
| Cakupan | Luas | Lebih spesifik |
| Tingkat abstraksi | Relatif tinggi | Lebih dekat dengan fenomena empiris |
| Fungsi | Memberikan perspektif utama | Menjelaskan fenomena atau hubungan yang lebih spesifik |
| Posisi dalam penelitian | Fondasi konseptual | Penghubung atau penajam konsep |
| Penggunaan | Memberikan arah umum | Membantu penerapan teori pada konteks penelitian |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak untuk semua bidang ilmu. Istilah Grand Theory dan Middle Theory dapat digunakan secara berbeda tergantung tradisi akademik masing-masing disiplin. Oleh karena itu, peneliti tetap perlu mengikuti literatur dan ketentuan program studi.
Mengapa Keduanya Sering Digunakan dalam Tesis?
Penelitian tesis biasanya memiliki masalah yang cukup kompleks. Peneliti tidak hanya perlu menjelaskan fenomena secara umum, tetapi juga harus menunjukkan bagaimana fenomena tersebut terjadi pada konteks tertentu.
Jika hanya menggunakan teori yang sangat luas, penjelasan penelitian terkadang menjadi terlalu abstrak. Sebaliknya, jika hanya menggunakan teori yang sangat spesifik tanpa perspektif yang lebih luas, penelitian dapat kehilangan dasar konseptual yang menghubungkannya dengan perkembangan ilmu.
Di sinilah hubungan Grand Theory dan Middle Theory menjadi relevan. Grand Theory dapat memberikan arah umum, sedangkan Middle Theory membantu mempersempit pembahasan menuju persoalan yang lebih dekat dengan penelitian.
Hubungan tersebut dapat dibayangkan seperti sebuah peta. Grand Theory memberikan gambaran wilayah yang luas, sedangkan Middle Theory membantu menunjukkan lokasi atau bagian tertentu yang menjadi fokus penelitian.
Hubungan Keduanya dalam Kerangka Teoretis
Dalam kerangka teoretis, Grand Theory dan Middle Theory sebaiknya tidak ditempatkan secara terpisah tanpa hubungan. Peneliti perlu menunjukkan bagaimana teori yang lebih luas mengarah pada teori yang lebih spesifik.
Alurnya dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:
Grand Theory → Middle Theory → Konsep Penelitian → Variabel atau Fokus Penelitian → Analisis Empiris.
Grand Theory memberikan perspektif dasar. Middle Theory kemudian mempersempit perspektif tersebut sesuai dengan fenomena yang diteliti. Setelah itu, konsep yang relevan dapat diterjemahkan menjadi variabel atau fokus penelitian.
Hubungan semacam ini membuat pembaca dapat memahami mengapa suatu teori dipilih. Peneliti tidak hanya mengatakan bahwa teori tersebut relevan, tetapi menunjukkan bagaimana teori tersebut membantu menjelaskan masalah penelitian.
Contoh Hubungan pada Penelitian Manajemen
Misalnya terdapat tesis mengenai “Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan”. Peneliti menemukan masalah bahwa kinerja karyawan berbeda-beda meskipun berada dalam organisasi dan sistem kerja yang sama.
Pada tingkat yang lebih luas, peneliti dapat menggunakan teori perilaku organisasi sebagai perspektif untuk memahami hubungan antara individu, kelompok, dan lingkungan organisasi. Teori tersebut memberikan konteks yang cukup luas.
Kemudian, peneliti dapat menggunakan teori kepemimpinan sebagai Middle Theory untuk memperjelas bagaimana perilaku atau gaya pemimpin dapat memengaruhi bawahan. Dari teori tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi konsep kepemimpinan yang relevan dengan penelitian.
Selanjutnya, konsep tersebut dihubungkan dengan kinerja karyawan sebagai fokus empiris. Dengan demikian, terdapat hubungan antara perspektif organisasi yang luas dengan fenomena kepemimpinan yang lebih spesifik.
Contoh pada Penelitian Pendidikan
Dalam penelitian pendidikan, hubungan Grand Theory dan Middle Theory juga dapat digunakan untuk membangun penjelasan yang lebih sistematis.
Misalnya, penelitian membahas motivasi belajar mahasiswa. Peneliti dapat menggunakan teori psikologi atau teori belajar sebagai perspektif yang lebih luas, kemudian menggunakan teori motivasi tertentu untuk menjelaskan faktor-faktor yang mendorong mahasiswa dalam belajar.
Middle Theory tersebut dapat membantu peneliti menentukan konsep yang lebih spesifik, seperti kebutuhan, tujuan belajar, keyakinan diri, atau faktor lingkungan. Konsep tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk membangun fokus atau variabel penelitian.
Namun, peneliti harus memastikan bahwa teori yang digunakan memang memiliki hubungan dengan masalah. Jangan hanya menggunakan teori pendidikan karena objek penelitian adalah mahasiswa. Dasar pemilihannya tetap harus berasal dari fenomena yang ingin dijelaskan.
Contoh dalam Penelitian Teknologi Informasi
Pada bidang teknologi informasi, penelitian sering membahas penerimaan, penggunaan, atau adopsi sistem. Peneliti dapat menggunakan perspektif yang luas mengenai perilaku manusia atau sistem informasi, kemudian menggunakan teori yang lebih spesifik mengenai penerimaan teknologi.
Sebagai contoh, masalah penelitian adalah rendahnya penggunaan sistem informasi akademik oleh mahasiswa. Peneliti ingin mengetahui faktor yang menyebabkan sebagian mahasiswa enggan menggunakan sistem tersebut.
Teori penerimaan teknologi dapat membantu menjelaskan persepsi pengguna terhadap manfaat dan kemudahan suatu sistem. Teori tersebut lebih dekat dengan fenomena empiris dibandingkan teori yang sangat umum mengenai perilaku manusia.
Dari sini terlihat bahwa teori yang lebih spesifik dapat membantu menerjemahkan perspektif luas menjadi konsep yang dapat diteliti.
Apakah Semua Tesis Harus Menggunakan Keduanya?
Jawabannya adalah tidak selalu. Penggunaan Grand Theory dan Middle Theory harus disesuaikan dengan kebutuhan penelitian.
Ada penelitian yang cukup menggunakan satu teori utama karena masalahnya sudah spesifik dan teori tersebut mampu menjelaskan keseluruhan fokus penelitian. Ada pula penelitian yang membutuhkan beberapa lapisan teori karena fenomenanya kompleks.
Mahasiswa tidak perlu memaksakan adanya Grand Theory dan Middle Theory hanya agar struktur tesis terlihat lebih akademis. Jika teori yang digunakan tidak memiliki fungsi yang jelas, penambahan teori justru dapat membuat pembahasan menjadi panjang dan tidak fokus.
Yang paling penting adalah peneliti dapat menjelaskan alasan pemilihan teori dan menunjukkan bagaimana teori tersebut digunakan dalam penelitian.
Kapan Grand Theory Lebih Dibutuhkan?
Grand Theory lebih bermanfaat ketika penelitian membutuhkan perspektif yang luas untuk memahami fenomena. Teori ini dapat membantu peneliti menjelaskan dasar pemikiran dan menempatkan penelitian dalam konteks keilmuan yang lebih besar.
Misalnya, penelitian mengenai perubahan perilaku masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai perilaku spesifik, tetapi juga perspektif yang dapat menjelaskan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya.
Grand Theory dapat membantu memberikan konteks tersebut. Setelah perspektif umum terbentuk, peneliti dapat menggunakan teori yang lebih spesifik untuk memperdalam pembahasan.
Dengan demikian, Grand Theory berfungsi sebagai dasar orientasi, bukan sebagai teori yang harus menjelaskan seluruh detail penelitian.
Kapan Middle Theory Lebih Diperlukan?
Middle Theory menjadi lebih berguna ketika penelitian berfokus pada fenomena yang spesifik dan membutuhkan teori yang dapat diterapkan secara lebih langsung.
Misalnya, peneliti ingin mengkaji kepuasan kerja, penerimaan teknologi, perilaku konsumen, motivasi belajar, atau implementasi kebijakan. Konsep-konsep tersebut membutuhkan penjelasan yang lebih terarah daripada teori yang sangat umum.
Middle Theory dapat membantu menghubungkan gagasan teoretis dengan fenomena empiris. Karena itu, teori ini sering menjadi bagian penting dalam penyusunan variabel, fokus penelitian, maupun kerangka konseptual.
Namun, pemilihannya tetap harus mengikuti kebutuhan penelitian. Tidak semua teori tingkat menengah otomatis menjadi pilihan terbaik hanya karena lebih spesifik.
Cara Menghubungkan Grand Theory dan Middle Theory
Agar kedua jenis teori tersebut dapat digunakan secara konsisten, peneliti perlu menyusun alur argumentasi yang jelas. Jangan hanya menempatkan Grand Theory dalam satu subbab dan Middle Theory dalam subbab lain tanpa menjelaskan hubungan keduanya.
Pertama, jelaskan fenomena dan masalah penelitian. Setelah itu, uraikan perspektif luas yang diberikan oleh Grand Theory. Kemudian, tunjukkan bagaimana Middle Theory mempersempit perspektif tersebut menjadi penjelasan yang lebih dekat dengan fokus penelitian.
Setelah hubungan tersebut jelas, konsep-konsep yang digunakan dapat diterjemahkan ke dalam variabel atau fokus penelitian. Dari sinilah kerangka konseptual dapat dibangun.
Cara tersebut membuat teori memiliki fungsi nyata dalam penelitian. Pembaca dapat mengikuti perjalanan pemikiran dari konsep yang abstrak menuju fenomena yang dapat diamati.
Contoh Hubungan Grand Theory dan Middle Theory dalam Berbagai Bidang
Hubungan antara Grand Theory dan Middle Theory dapat ditemukan dalam berbagai bidang penelitian. Namun, perlu dipahami bahwa suatu teori tidak selalu memiliki posisi yang sama dalam setiap penelitian. Sebuah teori dapat berfungsi sebagai Grand Theory dalam satu penelitian, tetapi menjadi teori pendukung atau bahkan kerangka yang lebih spesifik dalam penelitian lain. Penentuan tersebut bergantung pada fokus, tujuan, dan konteks penelitian.
Dalam penelitian bidang hukum, misalnya, peneliti dapat menggunakan teori yang membahas keadilan, kepastian hukum, atau tujuan hukum sebagai landasan pemikiran yang luas. Teori tersebut kemudian dapat dipertajam menggunakan teori yang lebih spesifik, seperti perlindungan hukum atau penegakan hukum. Dengan demikian, teori yang luas memberikan perspektif mengenai bagaimana hukum seharusnya bekerja, sedangkan teori yang lebih spesifik membantu peneliti menjelaskan persoalan hukum yang sedang dikaji.
Pada bidang pendidikan, penelitian mengenai motivasi belajar dapat menggunakan teori pendidikan atau teori psikologi yang memiliki cakupan luas sebagai landasan. Selanjutnya, peneliti dapat menggunakan teori motivasi tertentu untuk menjelaskan faktor yang memengaruhi perilaku belajar mahasiswa atau siswa. Hubungannya menjadi lebih jelas karena teori yang lebih spesifik membantu menerjemahkan konsep luas ke dalam fenomena pendidikan yang dapat diamati.
Sementara itu, pada penelitian manajemen dan pemasaran, teori yang membahas perilaku konsumen secara luas dapat digunakan sebagai perspektif utama. Peneliti kemudian dapat memilih teori yang lebih spesifik untuk menjelaskan niat membeli, kepuasan pelanggan, loyalitas, atau keputusan pembelian. Dengan pola tersebut, hubungan teori tidak berhenti pada pencantuman nama teori dalam Bab II, tetapi benar-benar digunakan untuk membangun argumentasi penelitian.
Hal serupa dapat diterapkan dalam penelitian administrasi publik. Perspektif mengenai organisasi, pemerintahan, atau tata kelola dapat memberikan landasan yang luas. Kemudian, teori implementasi kebijakan dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana suatu kebijakan diterapkan dalam lingkungan tertentu. Teori yang lebih spesifik tersebut membantu peneliti menghubungkan konsep umum dengan persoalan empiris yang diteliti.
Cara Memilih Grand Theory dan Middle Theory yang Tepat
Memilih teori untuk tesis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan teori yang paling populer atau paling sering ditemukan di internet. Teori harus dipilih berdasarkan kesesuaiannya dengan masalah penelitian. Semakin jelas hubungan teori dengan pertanyaan penelitian, semakin kuat pula landasan akademik yang dibangun.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan mahasiswa agar proses pemilihan teori menjadi lebih sistematis.
- Mulai dari masalah penelitian.
Bacalah kembali latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Identifikasi persoalan utama yang sebenarnya ingin dijelaskan. Jangan menentukan teori terlebih dahulu kemudian memaksakan masalah penelitian agar sesuai dengan teori tersebut. - Identifikasi konsep utama.
Tentukan konsep apa saja yang menjadi pusat penelitian. Misalnya, penelitian membahas kepuasan pelanggan, kualitas pelayanan, dan loyalitas. Ketiga konsep tersebut dapat menjadi petunjuk awal untuk mencari teori yang relevan. - Perhatikan tujuan penelitian.
Penelitian yang bertujuan menguji pengaruh, menjelaskan hubungan, memahami pengalaman, atau mengeksplorasi suatu fenomena dapat membutuhkan pendekatan teoretis yang berbeda. Karena itu, tujuan penelitian harus menjadi salah satu pertimbangan utama. - Telusuri literatur akademik.
Cari buku teori, artikel jurnal, penelitian terdahulu, dan sumber akademik yang membahas konsep tersebut. Perhatikan bagaimana peneliti sebelumnya menggunakan teori dan bagaimana hubungan antarkonsep dijelaskan. - Bandingkan beberapa teori.
Jangan langsung memilih teori pertama yang ditemukan. Bandingkan cakupan, konsep utama, asumsi, relevansi, serta kesesuaiannya dengan objek penelitian. Dari proses tersebut, peneliti dapat menentukan teori mana yang berperan sebagai landasan utama dan teori mana yang lebih tepat digunakan untuk memperjelas aspek tertentu. - Tentukan peran setiap teori.
Jika menggunakan lebih dari satu teori, jelaskan fungsi masing-masing. Grand Theory dapat memberikan perspektif luas, sedangkan Middle Theory dapat membantu menjelaskan hubungan yang lebih spesifik. Dengan pembagian tersebut, teori yang digunakan tidak sekadar menjadi daftar referensi.
Pemilihan teori yang baik pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak teori yang berhasil dikumpulkan. Yang lebih penting adalah seberapa kuat teori tersebut menjelaskan masalah penelitian dan membantu peneliti membangun argumentasi yang logis.
Indikator Hubungan Teori yang Sudah Logis
Hubungan antara Grand Theory dan Middle Theory dapat dikatakan cukup logis apabila pembaca dapat memahami mengapa kedua teori tersebut digunakan. Artinya, terdapat alur pemikiran yang jelas dari konsep yang bersifat umum menuju konsep yang lebih spesifik.
Grand Theory seharusnya memberikan perspektif besar mengenai fenomena. Setelah itu, Middle Theory mempersempit pembahasan ke mekanisme, hubungan, atau aspek tertentu yang relevan dengan penelitian. Selanjutnya, konsep tersebut dihubungkan dengan variabel, indikator, atau fokus penelitian.
Misalnya, peneliti tidak cukup hanya menuliskan bahwa penelitian menggunakan suatu Grand Theory dan suatu Middle Theory. Peneliti perlu menjelaskan bagaimana Grand Theory memberikan landasan berpikir, kemudian bagaimana Middle Theory memperjelas hubungan antarkonsep yang akan diuji atau dianalisis.
Alur tersebut dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:
Grand Theory → Middle Theory → Konsep Penelitian → Variabel/Fokus → Analisis Data
Alur ini bukan aturan mutlak untuk semua jenis penelitian. Namun, pola tersebut dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana teori seharusnya ditempatkan dalam desain penelitian.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Dalam penyusunan tesis, kesalahan penggunaan teori cukup sering terjadi. Salah satunya adalah anggapan bahwa setiap tesis wajib memiliki Grand Theory dan Middle Theory sekaligus. Padahal, kebutuhan teori sangat bergantung pada bidang ilmu, desain penelitian, pedoman program studi, serta karakteristik masalah yang diteliti.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
- memilih teori hanya karena terkenal;
- menganggap semakin banyak teori berarti penelitian semakin kuat;
- mencantumkan teori tetapi tidak menggunakannya dalam analisis;
- tidak menjelaskan hubungan antara teori yang digunakan;
- menganggap Middle Theory sebagai teori yang kurang penting;
- menggunakan teori yang tidak sesuai dengan variabel atau fokus penelitian.
Kesalahan lain adalah memasukkan terlalu banyak teori ke dalam Bab II tanpa menjelaskan fungsi masing-masing. Akibatnya, kajian teori menjadi panjang tetapi tidak memberikan arah yang jelas. Pembaca justru dapat kesulitan memahami teori mana yang menjadi dasar utama penelitian.
Teori juga sebaiknya tidak berhenti pada bagian kajian pustaka. Jika teori digunakan untuk membangun hipotesis, indikator, kategori analisis, atau kerangka konseptual, penggunaannya perlu terlihat pada bagian penelitian yang relevan. Dengan demikian, terdapat kesinambungan antara Bab II, metode penelitian, hasil, dan pembahasan.
Tips Praktis Menyusun Bab II
Bab II sering menjadi bagian tesis yang cukup menantang karena mahasiswa harus menghubungkan berbagai sumber menjadi argumentasi yang utuh. Salah satu cara untuk membuatnya lebih terarah adalah menyusun teori berdasarkan tingkat kebutuhan penelitian, bukan sekadar berdasarkan banyaknya referensi yang ditemukan.
Pada bagian awal, peneliti dapat memperkenalkan teori utama yang menjadi perspektif penelitian. Setelah itu, teori yang lebih spesifik dapat dijelaskan untuk mempersempit pembahasan. Konsep utama kemudian didefinisikan berdasarkan sumber akademik yang relevan.
Setelah pembahasan teori, penelitian terdahulu dapat digunakan untuk menunjukkan bagaimana konsep tersebut telah dikaji oleh peneliti sebelumnya. Dari sini, peneliti dapat menunjukkan posisi penelitiannya, termasuk persamaan, perbedaan, keterbatasan penelitian terdahulu, atau celah penelitian yang ingin diisi.
Kerangka berpikir kemudian menjadi bagian penting untuk memperlihatkan hubungan antarkonsep. Untuk penelitian kuantitatif, hubungan tersebut dapat diarahkan pada hipotesis dan variabel. Sementara itu, pada penelitian kualitatif, teori dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami fenomena tanpa harus selalu diterjemahkan menjadi variabel statistik.
Karena itu, penyusunan Bab II sebaiknya memperhatikan beberapa prinsip berikut:
- Jelaskan teori dari umum menuju lebih spesifik.
- Terangkan hubungan antara teori utama dan teori pendukung.
- Hubungkan konsep teoretis dengan fokus atau variabel penelitian.
- Gunakan sumber akademik yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Hindari memasukkan teori yang tidak memiliki fungsi dalam penelitian.
- Pastikan kerangka konseptual benar-benar berasal dari pembahasan teori dan penelitian terdahulu.
Dengan cara tersebut, Bab II tidak hanya menjadi kumpulan definisi, tetapi menjadi dasar argumentasi yang menjelaskan mengapa penelitian dilakukan dan bagaimana fenomena tersebut akan dipahami.
Grand Theory, Middle Theory, dan Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual menunjukkan bagaimana konsep-konsep tersebut ditempatkan dalam penelitian.
Sebagai ilustrasi, sebuah penelitian dapat berangkat dari teori besar mengenai perilaku manusia. Peneliti kemudian menggunakan teori yang lebih spesifik mengenai motivasi untuk menjelaskan mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu. Dari teori tersebut, peneliti menentukan konsep yang relevan, kemudian menghubungkannya dengan variabel atau fokus penelitian.
Dengan demikian, kerangka konseptual tidak sekadar gambar atau diagram yang dibuat untuk memenuhi format tesis. Kerangka tersebut seharusnya menggambarkan hasil pemikiran peneliti setelah memahami teori dan penelitian terdahulu.
Hubungan tersebut dapat dibuat sederhana:
Perspektif luas → Penjelasan spesifik → Konsep → Hubungan antarkonsep → Fokus penelitian
Semakin jelas hubungan tersebut, semakin mudah pembaca memahami posisi teori dalam penelitian.
Apakah Grand Theory dan Middle Theory Harus Selalu Ada Bersamaan?
Jawabannya adalah tidak selalu. Penggunaan Grand Theory dan Middle Theory secara bersamaan bukan sebuah kewajiban universal. Setiap bidang ilmu dan perguruan tinggi dapat memiliki tradisi akademik yang berbeda.
Pada penelitian tertentu, satu teori utama sudah cukup untuk menjelaskan masalah penelitian. Pada penelitian lainnya, beberapa teori diperlukan karena fenomena yang diteliti memiliki beberapa dimensi. Yang terpenting adalah setiap teori mempunyai alasan penggunaan yang jelas.
Mahasiswa juga perlu memperhatikan pedoman penulisan tesis dari program studi dan arahan dosen pembimbing. Jika program studi memiliki ketentuan khusus mengenai Grand Theory, Middle Theory, atau landasan teoretis, ketentuan tersebut harus menjadi pertimbangan.
Dengan kata lain, jangan menggunakan dua teori hanya karena ingin terlihat lebih akademis. Sebaliknya, jangan menghindari teori pendukung apabila penelitian memang membutuhkannya. Kesesuaian teori dengan kebutuhan penelitian jauh lebih penting daripada jumlah teori yang dicantumkan.
Rekomendasi Penerapan dalam Penelitian
Agar penggunaan teori lebih efektif, peneliti perlu menjaga konsistensi sejak tahap perencanaan hingga pembahasan hasil. Ketika Grand Theory telah dipilih, peneliti perlu memahami konsep utama dan asumsi yang terkandung di dalamnya. Begitu pula dengan Middle Theory, peneliti harus mengetahui bagian mana dari teori tersebut yang benar-benar digunakan.
Selain itu, sumber teori sebaiknya berasal dari literatur akademik yang kuat. Buku teori asli, artikel jurnal bereputasi, serta penelitian terdahulu yang relevan dapat membantu memperkuat argumentasi. Peneliti juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan definisi teori dari artikel sekunder tanpa memahami sumber teorinya.
Pada tahap analisis, teori dapat kembali digunakan untuk membaca hasil penelitian. Misalnya, apabila hasil penelitian menunjukkan hubungan tertentu antara dua variabel, peneliti dapat membandingkannya dengan prediksi atau penjelasan yang diberikan teori. Dengan demikian, pembahasan menjadi lebih analitis dan tidak sekadar mengulang angka atau temuan.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi istilah. Jika sejak awal suatu konsep disebut sebagai variabel tertentu, gunakan istilah yang sama sepanjang penelitian. Konsistensi tersebut akan membuat hubungan antara teori, kerangka konseptual, instrumen, analisis, dan pembahasan menjadi lebih mudah dipahami.
Baca juga: Cara Membuat Matriks Penelitian Terdahulu di Excel untuk Mengelola Banyak Referensi
Kesimpulan
Grand Theory dan Middle Theory memiliki fungsi yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi dalam penyusunan tesis. Grand Theory memberikan landasan pemikiran yang luas untuk melihat suatu fenomena, sedangkan Middle Theory membantu mempersempit dan menjelaskan aspek tertentu yang lebih dekat dengan masalah penelitian.
Hubungan keduanya dapat membantu peneliti membangun alur pemikiran yang sistematis, mulai dari perspektif umum, penjelasan yang lebih spesifik, konsep penelitian, hingga variabel atau fokus yang dianalisis. Namun, penggunaan keduanya tidak harus dipaksakan pada setiap tesis. Teori yang dipilih harus benar-benar relevan dengan masalah, tujuan, metode, dan karakteristik penelitian.
Bagi mahasiswa yang masih kesulitan menentukan Grand Theory, Middle Theory, menyusun kerangka teoretis, atau menghubungkan teori dengan variabel penelitian, konsultasi akademik seperti [Tesis id] dapat menjadi salah satu pilihan untuk meninjau rancangan penelitian secara lebih terarah. Dengan pemilihan teori yang tepat sejak awal, proses penyusunan tesis dapat menjadi lebih sistematis sekaligus memiliki dasar akademik yang lebih kuat.
Bagi Anda yang sedang mengubah tesis menjadi artikel jurnal dan membutuhkan bantuan penyusunan manuskrip, penyesuaian template jurnal, proofreading akademik, pengecekan similarity, penerjemahan artikel, hingga pendampingan submit jurnal SINTA maupun Scopus, layanan konsultasi akademik profesional dapat membantu memastikan artikel siap dipublikasikan sesuai standar jurnal tujuan.

